Pattaniku

December 16th, 2007 by feliaja

Patani, Jauh Di Mata, Dekat di Hati

Pattani

Memasuki Patani,  mirip ke Aceh tempo dulu. Meski budaya Muslim Melayu sangat kental. Namun di mana-mana masih "diawasi" tentara

Hidayatullah.com–Alhamdulillah setelah tinggal di Bangkok nyaris dua bulan dan ngimpi ke Patani sejak lama, tiba-tiba saya dikontak National Reconciliation Council of Southern Thailand conflict untuk ikut sharing experiences tentang peacebuilding process pada workshop di Patani 7 – 8 December 2007.  Kesampaian juga mimpinya.  Allah SWT memang Maha Tahu keinginan hambanya.

Maka, tanggal 7 December 2007 pagi saya terbang ke Hatyai,  kota terdekat dengan Patani yang punya bandara (karena di tiga propinsi Thailand, hanya Narathiwat yang punya Bandara, itupun hanya ada satu flight sehari ke Bangkok dengan NokAir, sungguh kayak anak tiri).

Tiba di Hatyai, atmosfir sudah sedikit berbeda.  Di mobil  jemputan kami ada stiker bertuliskan Allah dan Muhammad serta sang supirnya Muslim.  Pemandangan yang sukar ditemui di Bangkok .  Kalimat-kalimat Arab juga sudah mulai mudah dijumpai di Hatyai berdampingan dengan kalimat-kalimat Thailand .  Tertera pada papan nama instansi pemerintah maupun swasta.

Perjalanan ke Patani memakan waktu satu setengah jam dari Hatyai.  Jalanannya luas dan lengang dengan dua jalur terpisah yang mulus dan lebar.  Hutan lebat diselingi pertanian rakyat adalah pemandangan utama perjalananan antara Hatyai dan Patani.

Sekedar informasi, Hatyai adalah kota terbesar di Provinsi Songkla  yang penduduknya 50 %  Muslim. Bersama-sama dengan provinsi Patani, Yala, dan Narathiwat,  keempatnya dijuluki sebagai Patani Darussalam.  Maka, nama Patani bisa berarti tiga makna : kota Patani, propinsi Patani, atau Patani Darussalam yang berarti gabungan dari empat propinsi mayoritas Muslim di Selatan Thailand .

Memasuki Patani,  atmosfir semakin berbeda.  Warna budaya Muslim Melayu semakin kental.  Para Muslimah berjilbab, tua muda berseliweran dengan jalan kaki, naik motor tanpa helm, ataupun dengan angkutan umum.  Para lelaki tak banyak terlihat di jalan.  Atmosfir kedua yang terasa berbeda adalah security yang amat ketat.  Memasuki Patani berarti memasuki sekian banyak military checkpoint dan police checkpoint. Setiap beberapa kilo ada military checkpoint. Persis Aceh ketika jaman darurat militer sebelum tsunami dan Helsinki agreement.

Bagi mereka yang sering singgah ke Malaysia dan Aceh,  sepintas pemandangan di Patani tak jauh berbeda.  Yang menandakan bahwa ini wilayah Thailand hanyalah potret Raja Bhumibol yang masih bertebaran disana sini dan bendera Thai serta bendera kuning kerajaan yang bertengger di sekolah, hotel, maupun instansi pemerintah.

Penduduknya sendiri lebih banyak yang bercakap-cakap dalam bahasa Melayu Patani ketimbang bahasa Thai. Utamanya kaum dewasa dan tua.  Bahasa Melayu mereka unik.  Bahasa “percakapan kampong”-nya sulit ditangkap karena lidah seperti ditekuk, persis Melayu Kelantan Malaysia . Namun bahasa formalnya amat mirip dengan Melayu Malaysia , mudah dipahami oleh telinga Indonesia .  Saya ikut shalat Jum’at di Masjid desa Tiraya dan bahasa khotbah Jum’at –nya amat mudah dicerna.  Juga bahasa penyiar radio-nya.  Cukup understandable.

Konflik di Patani, Yala, dan Narathiwat sebenarnya sudah berlangsung puluhan tahun. Sama tuanya dengan ketika ketiga propinsi tersebut dilebur ke dalam kerajaan Siam melalui perjanjian sepihak oleh pemerintah kolonial Inggris pada awal abad 20.

Sebelum dipaksa bergabung dengan Siam, Patani adalah kesultanan Mandiri yang tersohor sebagai salah satu pusat studi Islam di Asia Tenggara.  Konflik yang berskala meluas dan massif berlangsung mulai awal 2004. Ketika terjadi penyerbuan Masjid Krue Se di Patani pada April 2004  lalu pembantaian Tak Bai di Narathiwat pada Oktober 2004.

Kedua peristiwa tersebut menambah eskalasi konflik Thailand Selatan dan memaksa pemerintah Thai era Thaksin berpikir keras cara mengintegrasikan warga Thai beretnis Melayu (yang tak pernah merasa sebagai orang Thai ini) ke dalam Negara Thailand yang mayoritas Buddhist.

Sampai kini konflik masih berlangsung. Pekan lalu sebuah karaoke dibom oleh orang tak dikenal di luar kota Patani hingga tujuh orang tewas. Bulan Agustus silam dua rumah dibakar di desa Tiraya, tak jauh dari kota Patani.

Penduduk hidup dalam cengkeraman ketakutan.  Kendati kehidupan sepintas lalu berjalan normal. Mahasiswa tetap pergi kuliah ke kampus, pedagang berjualan ke pasar, pegawai bekerja di kantor, jama’ah shalat tetap pergi ke masjid.  Namun setelah maghrib kondisi berubah,  jalanan menjadi makin lengang, kedai menjadi semakin sepi. Minoritas China dan Buddhist tak tampak di jalan-jalan umum.   Sekali lagi, mirip Aceh di era sebelum Perjanjian Helsinki.

Konflik Patani secara tak langsung mengusir warga Thai non Muslim keluar dari ketiga provinsi tersebut.  Juga mengusir warga Muslim Patani sendiri yang bingung mengungsi kemana. Mengungsi ke Bangkok tak lebih baik karena juga tak merasa sebagai negeri sendiri.  Ke Malaysia kendati secara kultural sama, namun juga mengundang masalah karena negaranya berbeda dan tak cukup ramah menampung ‘pendatang haram.’ Kampus Prince of Songkla University (PSU), Patani Campus, kini 90% mahasiswanya Muslim dari ketiga provinsi sekitar.  Padahal dahulu sebelum konflik, mahasiswa dari seantero Thai yang berbeda agama datang studi kesana.  Tak heran, pemandangan di PSU Patani Campus mirip dengan kampus Indonesia .  Banyak mahasiswi berjilbab, ada masjid, ada banyak tempat shalat, makanan semua halal. Sangat berbeda dengan wajah kampus-kampus di Bangkok .

Jangan ditanya tentang bisnis,  kendati ada Big C Superstore dan sekian banyak dealer mobil serta cellular company, namun bisnis mereka tak lebih hidup dari bagian Thai yang lain.  Walau demikian, mesti diakui bahwa infrastruktur Patani amatlah baik, jalan luas dan mulus, listrik dan lifelines tersedia. Jauh lebih baik dari Aceh. Tapi tidak lebih baik dari propinsi Thai yang lain.  Sedikit lebih baik-lah dari Narathiwat yang terkategori termiskin.

Satu hal yang menarik, di pasar tradisonal Patani, kedai DVD nya banyak menjual lagu-lagu dari artis Indonesia .  Ada Laudya Cinthya Bella, Krisdayanti, dll.  Tapi kebanyakan yang amat laris manis adalah Dangdut.  Mereka bilang, kami suka dangdut Indonesia .   Juga jangan tanya tentang sinetron Indonesia (yang juga mudah ditangkap dengan parabola), banyak yang hobi juga menonton sinetron dan film Indonesia .

Ada banyak cerita tentang Patani, kisah tentang semangat kaum minoritas bertahan di tengah mayoritas.  Perjalanan kebingungan menentukan jati diri. Wajah kekerasan yang menahun dan melegenda. Ketidakpastian dan kecemasan yang selalu mendominasi hari-hari.  Hidup terasing di negerinya sendiri…

Patani memang terbilang dekat dari Bangkok, tapi bagi sebagian besar warga Thai terasa begitu jauh (di hati). [Heru Susetyo, sedang melanjutkan di Mahidol University/www.hidayatullah.com]

I’m a Moslem

December 13th, 2007 by feliaja

Seorang Muslim Menolong Seorang Yahudi Yg Dikeroyok di AS

Seorang muslim menolong tiga orang Yahudi yang dikeroyok oleh
sekelompok orang, yang merasa tidak senang ketika salah seorang Yahudi
itu mengucapkan "selamat hari Hanukkah."

Peristiwa yang terjadi pada hari Jumat, pekan kemarin kini sedang
diselidiki Kepolisian New York yang membidangi kejahatan-kejahatan
bernuansa rasial.

Dalam keterangan pers hari Rabu (12/12), juru bicara ketiga Yahudi
itu, Toba Hellerstein mengatakan, perselisihan yang terjadi di kereta
bawah tanah Q berawal ketika seseorang mengatakan "selamat natal" dan
dijawab oleh salah seorang kliennya yang Yahudi, bernama Walter Adler
dengan kata "selamat Hanukkah. "

Menurut Adler, ketika ia mengucapkan kata "selamat Hanukkah" muka
orang tadi berubah seolah-olah ia mengatakan sesuatu yang buruk tentang
ibu orang itu. Kemudian, dua orang perempuan yang satu kelompok dengan
laki-laki yang marah tadi, mulai melontarkan kata-kata anti-Yahudi.
Setidak ada 10 orang dalam kelompok itu.

Salah seorang dari kelompok itu mengatakan, "Oh, Hanukkah. Hari di
mana Yahudi membunuh Yesus, " kata Hellerstein menirukan. Ketika Adler
berusaha, seorang laki-laki dalam kelompok itu tiba-tiba meninjunya.

Melihat itu, seorang penumpang-mahasiswa Muslim asal
Bangladesh-Hassan Askari menolong Adler. Askari pun ikut di maki-maki
oleh kelompok tadi.

"Seorang warga Muslim Amerika menyelamatkan kami, sementara orang
lain dari komunitas kami yang ada dalam kereta, sama sekali tak
melakukan sesuatu, " ujar Adler.

Ketika perkelahian terjadi, Adler menarik rem darurat dan kereta
berhenti di stasiun DeKalb Avenue. Polisi segera turun tangan naik ke
kereta.

Juru bicara kejaksaan distrik Brooklyn, SAndy Silverstein, sepuluh
orang pelaku pengeroyokan yang usianya antara 19 dan 20 tahun sudah
ditangkap, termasuk Askari. Namun ia dibebaskan setelah Adler
mengatakan pada polisi bahwa Askari bukan anggota kelompok yang
menyerangnya.

Adler sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Long Island karena
luka-luka yang dideritanya. Menurut Silverstein, pengadilan terhadap 10
orang yang mengeroyok Adler akan berlangsung pada 7 Februari tahun
depan dengan tuduhan, penyerangan, percobaan pelecehan, membuat onar
dan bertindak tidak sopan.

Sementara hasil penyelidikan Kepolisian New York akan menentukan
apakah para tersangka akan dikenai tuduhan kejahatan bernuansa
kebencian ras. (ln/cnn/Islamicity)

Berita en pideo na!!!

 

Hati mereka adalah Hati setan dalam jasad manusia

December 9th, 2007 by feliaja

Penyeru Ke Pintu Jahanam

 

Ditulis pada Desember 9, 2007
oleh abu mujahid

Dari Huzhaifah bin Al-Yaman berkata, “Manusia biasa bertanya pada Rasulullah saw. tentang kebaikan, sedang aku bertanya kepada beliau tentang kejahatan, karena khawatir akan mengenaiku.” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, kami dahulu di masa Jahiliyah dan penuh kejahatan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini (Islam). Apakah setelah kebaikan ini ada lagi keburukan?” Rasul saw. menjawab, ”Ya.” “Apakah setelah keburukan itu ada kebaikan?” Rasul saw. menjawab, ”Ya, tetapi ada dukhan.” “Apa dukhan itu?” Rasul saw. menjawab, ”Kaum yang mengambil hidayah dengan hidayah yang bukan dariku, engkau kenali dan engkau ingkari.” Saya berkata, ”Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?” Rasul saw. menjawab, ”Ya, tetapi ada para penyeru ke neraka jahanam; barangsiapa yang menyambut mereka ke neraka, maka mereka melamparkannya ke dalam neraka.” Saya berkata, ”Ya Rasulullah, terangkan ciri mereka pada kami?” Rasul saw. menjawab, ”(Kulit) mereka sama dengan kulit kita, berbicara sesuai bahasa kita.” Saya berkata, ”Apa yang engkau perintahkan padaku jika aku menjumpai hal itu?” Rasul saw. bersabda, ”Komitmen dengan jamaah muslimin dan imamnya.” Saya berkata, ”Jika tidak ada pada mereka jamaah dan imam?” Rasul saw. menjawab, ”Tinggalkan semua firqah itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon sampai menjumpai kematian dan engkau tetap dalam kondisi tersebut.” (Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menceritakan satu informasi kenabian yang mutlak kebenarannya. Apalagi hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dua imam hadits yang disepakati keshahihan haditsnya oleh para ulama. Dan hadits ini dikeluarkan oleh Huzhaifah bin Yaman ra. seorang sahabat Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat pakar di bidang fitnah dan masa depan. Pertanyaan yang dikemukakan Huzhaifah terasa aneh, kalau sahabat lain bertanya tentang kebaikan, justru ia bertanya tentang keburukan, agar dapat diantisipasi oleh dirinya dan umat Islam. Huzhaifah paling tahu masalah-masalah rahasia, tidak salah kalau ia disebut inteljen Rasulullah saw. Umar bin Khattab ra. ketika ingin mengetahui orang-orang munafik bertanya pada Huzhaifah bin Yaman. Bahkan Umar sendiri –karena begitu besar rasa takutnya– bertanya apakah ada sifat kemunafikan pada dirinya, yang kemudian di jawab Huzhaifah, tidak ada.

Hadits ini menceritakan betapa nanti akan terjadi distorsi pengamalan umat Islam terhadap ajaran Islam. Sehingga Islam diliputi polusi atau syubhat yang mengkaburkan kebenaran ajaran Islam. Pada saat itulah muncul fitnah dan banyak orang-orang yang menyeru ke pintu neraka Jahanam (Du’at ilaa abwaabi Jahnnam).

Dakwah yang paling gencar yang dilakukan para penyeru ke jahanam adalah mengajak manusia agar tidak melibatkan Islam dalam kehidupan mereka. Pada sisi yang lain mereka juga menyeru untuk menghalalkan segala cara dalam aktivitas kehidupannya. Dari sisi pemikiran yang banyak diseru oleh para penyeru ke neraka jahanam adalah kesesatan, penyimpangan, dan syubhat yang dimasukkan atas nama ajaran Islam. Sehingga muncullah aliran sesat dan gerakan kemurtadan yang mengatasnamakan Islam, dan umat Islam banyak yang tertipu dengan ajakan mereka.

KARAKTERISTIK PARA PENYERU KE NERAKA JAHANNAM

1. Memiliki Warna Kulit dan Bahasa yang Sama dengan Mayoritas Rakyat.

Para penyeru tersebut ternyata para pemimpin atau tokoh masyarakat atau tokoh politik atau tokoh agama yang diikuti oleh banyak masa sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain oleh imam Muslim, yaitu: “Pemimpin yang tidak mengambil hidayah Rasul dan juga tidak mengikuti sunnahnya.” Ungkapan yang sama juga disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash: 41-42, “Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah).”

Mereka muncul dari kelompok Islam dan memimpin umat Islam. Kulit dan bahasanya sama dengan mayoritas umat Islam. Merekalah kelompok yang paling bahaya bagi umat Islam karena mereka menggunakan istilah-istilah Islam yang dapat menyesatkan umat Islam, mereka juga sangat membahayakan karena lahir dari kelompok Islam dan memiliki pengikut yang banyak dari umat Islam.

2. Mengajak Manusia ke Neraka Jahannam

Ungkapan-ungkapan mereka mengandung kekufuran dan kefasikan, dan mereka menyangka itu benar. Ungkapan kufur itu dibungkus ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits. Sementara masyarakat awam banyak yang mengikuti pemimpin tersebut karena kebodohannya. Ungkapannya ibarat sabda, perbuatannya selalu dianggap benar. Pemimpin tersebut mengajak rakyatnya untuk masuk ke neraka Jahanam (sadar atau tidak sadar) dengan berbagai macam cara. Maka mereka adalah pemimpin yang sesat dan menyesatkan.

Adapun cara-cara yang digunakan manusia untuk menyesatkan mereka dan mengajak ke neraka antara lain:

a. Memimpin rakyatnya ke jalan setan yang mengantarkan ke neraka. “Ia berjalan di muka kaumnya di hari kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi.” (QS. Hud: 98).

b. Mengunakan sarana media massa. “(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.” (QS An-Nahl: 25)

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. As-Shaaf: 8 ).

c. Menggunakan sarana musik dan nyanyian. “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqmaan: 6).

d. Mengubah nikmat Allah dengan kekufuran. “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu, neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.”.

Dalam upayanya untuk menyesatkan manusia para pemimpin itu menggunakan berbagai macam cara yang dikuasainya. Seperti menggunakan harta untuk menipu kaum lemah dan miskin, menggunakan media. Bahkan, kalau tidak mau tunduk, mereka menyiksanya dan membunuhnya. Begitulah di antara ciri penyeru ke neraka Jahanam.

3. Mereka Memiliki Hati Setan

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim: ”Hati mereka adalah hati setan dalam jasad manusia.” Para penyeru ke neraka Jahanam hati mereka sangat keras melebihi kerasnya batu sehingga tidak merasakan apa yang dirasakan umatnya. Bahkan untuk mengokohkan kekuasaanya mereka tidak segan-segan menyakiti, menyiksa, dan membunuh rakyatnya (pengikutnya) sendiri.

Sesungguhnya hati jika sudah mengeras, maka kehilangan daya sensitivitasnya. Mereka menganggap sama antara yang baik dengan yang buruk, tidak merasakan penderitaan rakyatnya. Semuanya serba diremehkan. Kesakitan masyarakat dianggap biasa, lumrah, dan tidak dianggap repot. Dan hati setan tentu saja lebih keras dan lebih jahat dari semua hati. Penderitaan masyarakat dianggap hiburan yang menyenangkan. Kesesatan masyarakat adalah tujuan mereka sehingga pada saat masyarakat sesat memudahkan untuk ditundukkan dan patuh kepadanya.

PERBUATAN PARA PENYERU KE NERAKA JAHANAM

1. Mengekor pada Orang lain

Walaupun di mata masyarakat mereka adalah pemimpin tetapi pada dasarnya mereka mengekor pihak lain. Para penyeru ke neraka jahanam biasanya adalah antek-antek orang kafir. Allah swt berfirman: Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (QS. Al Baqarah: 14).

2. Menganggap Rendah Kaumnya

Karena mengekor pada yang lain sehingga mereka merasakan dan menganggap rendah pada diri dan kaumnya. Mereka memaksa kaumnya untuk mengikuti pola hidup kaum kafir yang menjadi acuan. Karena itu, pemimpin -pemimpin seperti ini pada hakekatnya pengekor.

3. Menghancurkan Nilai-Nilai Moral

Para penyeru ke neraka Jahanam menginginkan agar masyarakat tidak komitmen pada ajaran Islam, karena hal itu akan menyulitkan mereka. Lebih dari itu ketika masyarakat komitmen pada ajaran Islam maka mereka susah menguasainya sehingga mereka berusaha menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai Islam. Allah swt. berfirman: “Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 8-9).

4. Memerangi Dakwah Islam

Ini terjadi jika kekuasaan ada di tangan mereka. Mungkin pada awalnya mereka tidak secara langsung memerangi dakwah tetapi mempersempit ruang lingkupnya. Mereka kemudian menuduh orang-orang yang berdakwah dengan tuduhan yang keji seperti ekstrimis, fundamentalis, provokator, dan teroris. Hal ini menyebabkan masa menjauhi dakwah dan aktivisnya. Di sisi lain menumbuhsuburkan dakwah yang tidak membahayakan kekuasaannya seperti menumbuhsuburkan tasawuf, filsafat, pemikiran sosialis, dan lain-lain. Lebih jauh lagi mereka berani menyiksa dan membunuh aktivis dakwah karena mereka sudah memvonisnya sebagai teroris yang membahayakan negara.

Demikian aktivitas para penyeru ke neraka Jahanam menggiring manusia untuk disesatkan dengan berbagai macam cara dan sarana sampai pada akhirnya mereka mengikuti penyeru tersebut untuk masuk bersama-sama ke neraka Jahanam. Oleh karena itu para dai kebenaran tidak boleh gentar menghadapi mereka dan terus-menerus mendakwahkan Islam, mengikhlaskan niat, merapatkan barisan menggalang kekuatan, dan menjelaskan kesalahan dan kesesatan mereka sehingga masyarakat tahu dan sadar akan kebenaran ajaran Islam dan sampai ajaran Islam tegak di bumi ini.

Sikap Muslim terhadap mereka

Sikap yang harus dilakukan oleh setiap muslim dalam menghadapi kelompok ini dapat dipetakan dalam beberapa tahap:

1. Bersabar

Yang dimaksud bersabar di sini bukan sabar menerima kebatilan mereka, tetapi bersabar dalam menolak kebatilan mereka, karena diam dalam kemaksiatan adalah sebuah kemaksiatan. Bersabar ketika sebagian umat Islam terkena fitnah dan keburukan mereka. Bersabar untuk terus melakukan persiapan diri untuk menghadapi keburukan mereka.

2. Melakukan Reformasi

Umat Islam semuanya harus turut melakukan reformasi. Reformasi dari sistem yang ada menuju sistem Islam. Reformasi dari akhlak yang penuh dengan bentuk kemaksiatan seperti kemusyrikan, perzinaan, seks bebas dan pornografi, korupsi, kezaliman lainnya, menuju akhlak Islam.

3. Komitmen dengan Persatuan Umat Islam

Dalam kondisi yang serba rusak ini, maka umat Islam harus terjaga keislamannya dan terhindar dari berbagai macam polusi jahiliyah. Umat Islam harus komitmen kepada persatuan umat Islam, menjauh dari penyimpangan, dan berjuang untuk menegakkan Islam. Dan itulah kunci selamat dari fitnah.

4. Berjihad

Dan cara yang terakhir yang harus dilakukan oleh orang-orang beriman, sesuai dengan arahan Al-Qur’an dan Sunnah, yaitu berjihad terus menerus dengan berbagai macam tingkatan jihad untuk menghancurkan kebatilan dan kemungkaran sehingga tidak ada lagi fitnah di muka bumi ini, dan ketundukkan dan ketaatan hanya untuk Allah semata. Wallahu a’lam bishawwab.

Sekularisme dan Fenomena Global

August 27th, 2007 by feliaja

Hizbut Tahrir, Sekularisme dan Fenomena Global
Senin, 27 Agustus 2007

Mayoritas orang Indonesia ingin Syariat Islam. Di mana-mana agama kian menentukan dalam pergulatan politik. Ada keinginan menggantikan sekulerisme

Oleh: Amran Nasution

Sekitar 100.000 manusia berpakaian putih-putih, tumplek-blek di Stadion Utama Senayan, Jakarta, Ahad pagi, 12 Agustus lalu. Lewat tengah hari, ketika acara bubar, apa lagi, kawasan sekitar pun macet total. Massa yang hadir memang terlalu banyak, mengalahkan jumlah penonton pertandingan Piala Asia, Indonesia lawan Arab Saudi, beberapa waktu lalu.

Sudah lama tak ada ormas atau partai politik di Jakarta, yang bisa mengumpulkan manusia begitu banyak. Inilah acara ‘’Khilafah Internasional’’ yang dilaksanakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). ”Acara ini untuk pembelajaran ummat Islam untuk konsekuen mendukung Syariat Islam,’’ kata Ismail Yusanto, juru bicara HTI.

Syariat Islam. Itulah kata kunci yang membuat HTI, MMI (Majelis Mujahidin Indonesia), Front Pembela Islam (FPI), atau sejumlah ormas Islam lainnya yang muncul belakangan, tampaknya kian mendapat banyak pendukung.

Ridwan Saidi, mantan Ketua Umum HMI yang tokoh Betawi itu, menyebut HTI dan kawan-kawannya sebagai organisasi Islam ‘’pinggiran’’, untuk membedakannya dengan organisasi Islam ‘’arus utama’’ (mainstream) seperti NU atau Muhammadiyah yang sudah mapan.

Muhammadiyah, misalnya, menurut Ridwan, terlibat terlalu dalam mengurusi pendidikan sehingga Ormas itu menjelma menjadi birokrasi pendidikan, yang mau tak mau harus selalu dekat pemerintah. ”Ada urusan akreditasi, pengangkatan guru negeri, dana bantuan pemerintah, dan sebagainya,’’ katanya.

Akibatnya, Ormas itu sulit menampung asipirasi Syariat Islam yang sekarang berkembang di tengah ummat. Sedang NU, sejak dipimpin Abdurahman Wahid, terlalu banyak bermain politik, mengakibatkan di dalamnya selalu terjadi perpecahan, dan aspirasi ummat terlalaikan. ”Pak Hasyim Muzadi sendiri bilang banyak masjid mereka yang digarap orang lain,’’ ujarnya.

Banyak pihak yang gerah dengan fenomena baru ini. Pemerintah, misalnya, berusaha menghadangnya dengan mencekal sejumlah pembicara di dalam acara HTI. Ustadz Abubakar Ba’asyir dan Habib Riziek Shihab, Ketua Umum FPI, dilarang tampil sebagai pembicara. Seorang pembicara lainnya, DR. Imron Waheed dari HTI Inggris, dicekal di Bendara Cengkareng, sehingga terpaksa balik badan, pulang ke London.

Pencekalan itu tentu bertentangan dengan semangat demokrasi dan kebebasan yang didengung-dengungkan pemerintahan Presiden SBY. Apalagi, beberapa bulan lalu, pemerintah justru mengizinkan masuk ke Bali, Rabbi Jahudi, Daniel Lande, menghadiri sebuah seminar antar-agama. Ujung-ujungnya perhelatan itu cuma untuk mendukung kebenaran holocaust, kisah pembunuhan orang Jahudi oleh Nazi Jerman pada Perang Dunia II, yang kurang logis itu. Di situ Gus Dur menjadi pembicara (www.hidayatullah.com, 13 Juni 2007).

Bekas Rektor UNI Jakarta, Azyumardi Azra, pendukung sistem sekuler itu, mencoba mengecilkan fenomena ini. Dia mengatakan konsep partai Islam yang dianut Hizbut Tahrir hanyalah idealisasi dan romantisme masa lalu dari sebagian kecil ummat Islam (Koran TEMPO, 13 Agustus 2007). Sebagian kecil ummat Islam? Apa tak salah Profesor ini?

Survei www.WorldPublicOpinion.org, yang dilaksanakan di empat negara Islam – Indonesia, Pakistan, Mesir, dan Maroko — Desember 2006 sampai Februari 2007, menunjukkan bahwa mayoritas (2/3 responden) menyetujui penyatuan semua negara Islam ke dalam sebuah pemerintahan Islam (khilafah). Ini jelas menunjukkan pendapat Azyumardi tadi tak berdasar data.

Hasil survei itu juga – bekerjasama dengan University of Maryland – memperlihatkan bahwa mayoritas responden (sekitar 3/4) setuju dengan upaya untuk mewajibkan syariat Islam di tengah masyarakat, sekalian mencampakkan nilai-nilai Barat dari seluruh negari Islam.

Khusus untuk Indonesia, survei menunjukkan mayoritas (53%) responden menyetujui pelaksanaan Syariat Islam. Itu adalah prosentasi terkecil, dibanding Pakistan (79%), Mesir (74%), dan Maroko (76%).

Mencampakkan nilai Barat tampaknya sejalan dengan keinginan menjalankan Syariat Islam. Survei oleh Pew Reseach Center –lembaga riset independen terkemuka di Washington– yang diumumkan akhir Juni lalu, menunjukkan bahwa 66% responden Indonesia membenci Amerika Serikat. Yang menyatakan suka cuma 29%. Angka 66% pembenci Amerika itu tentu sejalan dengan 53% responden Indonesia yang menginginkan dilaksanakannya kewajiban menjalankan Syariat Islam.

Sekularisme dan Fenomena global

Sesungguhnya apa yang terjadi bukanlah khas Indonesia, tapi sebuah fenomena global. Selasa  (23 Agustus) lalu, sebagaimana dikutip situs ini,  CNN menayangkan acara khusus ”Pengaruh Agama-agama di Seluruh Dunia”.

Christiane Amanpour, Ketua Koresponden CNN Internasional mengulas  fenomena global pengaruh agama di dunia politik dunia di tiga agama: Kristen, Yahudi dan Islam.

"Munculnya pengaruh agama dalam kancah politik merupakan fenomena global saat ini. Bagaimana suatu bangsa dan seseorang dapat menggabungkan antara agama dengan politik mungkin merupakan tantangan yang sangat dipaksakan saat ini," ujar Amanpour.

Bahkan Amerika,  yang katanya negara sekuler,  calon presiden dan partai politik secara aktif mendatangi pemimpin-pemimpin agama untuk mendapatkan dukungan suara kutip Amanpour.

Sebenarnya fenomena ini sudah terlihat lama. Terutama itu terlihat setelah meletusnya revolusi Islam di Iran, 1979, yang dipimpin Ayatullah Rohullah Khomenei. Para pengamat menyebutnya sebagai kebangkitan Islam politik. Di Aljazair, misalnya, pemilu yang dilaksanakan 1991, dimenangkan partai Islam FIS (Front Penyelamat Islam). Dari 232 kursi yang diperebutkan, FIS menyapu 188. Tapi tentara dengan dukungan Barat kemudian membatalkan Pemilu sekaligus mengambil alih kekuasaan. Partai itu dibubarkan dan ribuan pemimpinnya ditangkap.

Kian populernya Hizbullah di Libanon, Ikhwanul Muslimun di Mesir, dan menangnya gerakan Islam Hamas atas Fatah yang nasionalis dalam pemilu di Palestina, awal 2006, memperkuat fenomena itu.

Apalagi Turki, AKP, partai yang berbasis Islam menang mutlak di tengah kuatnya tekanan tentara yang berkolaborasi dengan partai-partai sekuler, AKP malah tambah berkibar dan menyapu mayoritas kursi parlemen dalam pemilu.

The New York Times, 10 Agustus yang lalu, menulis bahwa kampanye demokrasi Presiden Bush di Timur Tengah, menyebabkan Amerika semakin kehilangan pendukung di kawasan itu. Setiap partai atau tokoh – umumnya sekuler– yang didukung Amerika, ternyata kalah dalam pemilu.

”Tak ada politisi yang mau mengindentifikasikan dirinya dengan Barat, karena dari pemilu ke pemilu terlihat rakyat tak percaya pada agenda Amerika Serikat,’’ kata Mustafa Hamarneh dari University of Jordan yang November mendatang, berencana mencalonkan diri sebagai anggota parlemen di negerinya. Maka kebangkitan Islam bisa dibendung dan teman Amerika bisa dipertahankan, hanya di negara otoriter semacam Mesir dan Pakistan.

Tapi kebangkitan dimaksud ternyata tak terbatas Islam. Profesor Samuel P.Huntington dari Harvard University dalam bukunya, Who are we? America’s Great Debate (The Free Press, 2005) dengan jelas menguraikan fenomena ini. Menurut Huntington, sejak 25 tahun terakhir abad 20, gerakan sekulerisme mulai menurun. Di saat bersamaan, terjadi kebangkitan gerakan agama hampir di seluruh dunia, kecuali Eropa Barat.

Para pendukungnya bukan orang tua atau para petani miskin, melainkan anak-anak muda terdidik, pegawai kantoran, pengusaha, atau kaum profesional. Di Turki, misalnya, mahasiswi kedokteran memakai jilbab ke dalam kelas, sebagai simbol perlawanan terhadap konstitusi sekuler dukungan tentara.

Untuk diketahui, konstitusi Turki yang diboyong dari Swiss oleh Jenderal Mustafa Kemal Attaturk di tahun 1920-an, menyatakan agama harus dijauhkan dari pemerintahan. Karena itu sampai sekarang, jilbab yang dianggap sebagai simbol Islam diharamkan masuk ke semua sarana atau gedung Pemerintah. Adalah sangat dramatis, istri Perdana Menteri Recep Thayyib Erdogan dilarang masuk kantor suaminya –sekali pun untuk mendampingi suami menyambut tamu asing, misalnya—hanya karena tak sudi menanggalkan jilbab.

Maka awal abad 21, menjadi era agama menantang atau menggantikan sekulerisme Barat. Itu yang terjadi di Iran. Di Rusia, sistem sekuler komunisme Lenin yang anti-agama, digantikan sistem spiritual dan budaya Rusia. Di India, konsep sekulerisme Nehru yang sosialis –selama ini jadi azimat Partai Kongres, warisan Nehru– mendapat tantangan dari gerakan keagamaan (Hindu) yang berafiliasi ke partai BJP. Partai ini pun pernah memerintah India setelah mengalahkan Partai Kongres dalam pemilu. Begitu pula yang terjadi di Timur Tengah, seperti telah disebut di atas.

Amerika Latin, yang umumnya berpenduduk Katolik, belakangan ‘’diserbu’’ oleh pertumbuhan pesat Kristen Evangelical, aliran Protestan yang tak memisahkan politik dengan agama. Pertumbuhan agama itu paling pesat di Brasil, negeri berpenduduk Katolik terbesar di dunia.

Yang paling menarik tentu Amerika Serikat. Inilah satu-satunya negara industri maju yang terkena fenomena itu. Kenapa? Huntington memberi dua jawaban. Pertama, pertumbuhan cepat dan signifikan dari Kristen Evangelical yang konservatif. Sementara, pengikut gereja Kristen utama yang lebih liberal semacam Presbyterian atau United Church of Christ, anjlok. Ada eksodus besar-besaran.

Lalu di bawah gerakan Evangelical itu bermunculan banyak organisasi, termasuk yang berfungsi membina konstituen untuk kepentingan politik pemilihan umum. Yang pertama adalah Moral Majority, didirikan Pendeta Jerry Falwel pada 1979. Lalu Christian Coalition yang didirikan Pendeta Pat Robertson,dan pada 1995, ditaksir memiliki 1,7 juta anggota. Ada Focus on the Family yang memiliki 2 juta anggota, dan banyak lainnya.

Untuk menghadapi kaum feminis yang sering menyerang ide-ide mereka, berdirilah Concerned Women for America yang didukung 600.000 anggota, dan menjadi organisasi perempuan dengan anggota terbanyak di negeri itu.

Maka dalam dua kali pemilu terakhir, gerakan politik Evangelical menyerahkan suara kepada Partai Republik yang konservatif, dan mendukung pemenangan Bush, calon partai itu, menjadi Presiden. Boleh dibilang sejak saat itu, gereja terlibat dalam urusan politik kekuasaan di negeri super-power ini.

Faktor kedua, banyak orang Amerika yang konsern pada apa yang mereka lihat sebagai kemerosotan nilai-nilai, moral, dan standar, di dalam masyarakat. Sebutlah, merebaknya penggunaan narkoba, penyakit Aids, perselingkuhan, wanita melahirkan tanpa ayah (single parent), abortus, meningkatnya kriminalitas, ketamakan mengejar harta, dan sebagainya. Lalu di tengah masyarakat muncul kebutuhan personal untuk mempercayai dan memiliki sesuatu yang tak bisa dipenuhi atau dipuaskan oleh ideologi dan institusi sekuler.

Dan perubahan besar itu pun terjadi. Tiba-tiba, menjadi atheis – berbagai survei menunjukkan pengikutnya kini tak sampai 10% — adalah sesuatu yang asing bagi orang Amerika. Ada survei yang menunjukkan kaum atheis lebih tak disukai dibanding kaum homo, atau menjadi Muslim.

Dulu di tahun 1960-an, Presiden John F.Kennedy terkenal dengan ucapannya yang mengatakan, pandangan seorang Presiden tentang agama adalah urusan privat ("a President whose views on religion are his own private affairs"). Sekarang beda. Para politisi selalu membawa agama atau nama Tuhan saat berbicara di hadapan publik. Itu terjadi pada para tokoh Partai Republik mau pun Partai Demokrat yang liberal.

Al Gore, misalnya, calon Presiden dari Partai Demokrat pada Pilpres tahun 2000, menguraikan bagaimana ia menghabiskan waktu setahun untuk mengeksplor makna hidup. Akhirnya ia temukan. ’’Kegunaan hidup ini adalah untuk mengagungkan Tuhan,’’ katanya.

Tapi yang paling bersemangat tentu Presiden Bush. Siapa ahli filsafat politik favoritnya? Bush menjawab di sebuah acara TV yang dipancarkan secara nasional, ’’Jesus, sebab Ia mengubah hatiku. Ketika kau menyerahkan hati dan hidupmu kepada Jesus, ketika kau menerima Jesus sebagai penyelamat, hatimu akan berubah, hidupmu akan berubah. Dan itulah yang terjadi pada aku.’’ Dengan ini tentu sulit dibedakan apakah Bush seorang Presiden atau Pendeta.

Tentu fenomena itu menimbulkan berbagai kekhawatiran. Misalnya, tampilnya agama dalam politik akan menurunkan kecintaan pada negara, seperti yang sering diembuskan kaum nasionalis sekuler Indonesia. Ternyata, jawaban dari Profesor Huntington: tidak.

Sebuah survei yang dilakukan di 41 negara, pada 1990-1991, menemukan bahwa penduduk suatu negara yang lebih religius, ternyata juga lebih nasionalis. Semakin seseorang memberi angka tinggi pada pentingnya Tuhan di dalam hidup, semakin dia bangga pada negaranya (1990-1991 World Values Survey, Ronald Inglehart dan Marita Carballo).

Dari suvei itu, Nigeria, Turki, Brasil, Polandia, Irlandia, dan Amerika Serikat, menduduki tempat teratas: masyarakatnya agamis, sekaligus nasionalis. Sebuah survei yang lain, pada 1983, di 15 negara – sebagian besar di Eropa — menemukan bahwa semakin tipis rasa keagamaan responden, semakin tipis pula nasionalismenya.

Berarti benarlah, ’’Hubbul wathon minal iman’’. Cinta tanah air itu bagian dari iman. Dan bagi para pendukung Hizbut Tahrir,  Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) atau gerakan Islam lainnya, petuah ini tentu sesuatu yang tak mungkin diabaikan.

* Penulis adalah mantan Redaktur TEMPO dan GATRA. Kini,  bergabung dengan IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta

Penting untuk Pencerahan

August 16th, 2007 by feliaja
Anis Malik : ”Pluralisme Agama, Ancaman bagi Agama-agama”
Cetak halaman ini

Kirim halaman ini melalui E-mail
Kamis, 16 Agustus 2007
var sburl4281 = window.location.href; var sbtitle4281 = document.title;var sbtitle4281=encodeURIComponent(”Anis Malik: ”Pluralisme Agama, Ancaman bagi Agama-agama””); var sburl4281=decodeURI(”http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5194″); sburl4281=sburl4281.replace(/amp;/g, “”);sburl4281=encodeURIComponent(sburl4281);
 

Hidup
tanpa toleransi sangat tidak mungkin. Tapi toleransi bukan pluralisme.
Sebab, pluralisme agama, justru musuhnya agama-agama

Hidayatullah.com—Kesimpulan
ini disampaikan oleh Dr. Anis Malik Toha, dosen perbandingan agama di
Universitas Islam Antar bangsa (UIA) Malaysia saat diskusi INSISTS,
Malaysia  bertajuk ’pluralisme agama’ yang dihadiri tidak
kurang 20-an orang. Anis, demikian panggilannya, adalah pakar bidang
’pluralisme agama’ yang pertama di Indonesia.

Menurut
Anis, istilah ”pluralisme agama’ sudah banyak sekali ditulis di media
dan diuraikan di berbagai forum ilmiah.Dari segi istilah, sebenarnya,
bukan suatu yang asing. 

Dalam penjelasannya, Anis menjelaskan bahwa ’pluralisme agama’ ini sangat  menantang
kita semua, karena yang dilakukakan oleh pengusung ide ini memang
secara terang-terangan ingin membongkar dan mempertanyakan sesuatu yang
mapan, establish, di dalam agama.

Mereka, kata Anis,  menganggap
kemapanan ini merupakan biang keladi kemunduran dan keterpurukan umat
Islam secara umum. Oleh karena itu, semua konsep, tatanan yang mapan
dalam Islam ingin dirombak sedemikian rupa, sehingga menurut tujuan
mereka, umat Islam betul-betul searah dan seirama dengan perkembangan
zaman. Dari sinilah zaman itu menjadi segala ukuran, sementara apa yang
ada dalam tataran agama ini menjadi tunduk kepada zaman.

Karenanya,
apa-apa yang dipahami dan di yakini secara tradisional oleh umat
beragama dianggap salah (jika perlu, dibetulkan) karena harus
disesuaikan dengan demokrasi, hak asasi manusia (HAM), kesetaraan
gender, sekularisme, humanisme, dan lainnya. Hal itulah yang kemudian
mengkristal menjadi pluralisme agama.

Munculnya
ideologi-ideologi modern itu, ujar Anis, sebenarnya sudah merupakan
”semi-agama”. Hal ini, sudah dikemukakan oleh beberapa kalangan filosof
dan teolog Barat, semisal Paul Tillich. Tillich, (
18861965) dalam bukunya ”Christianity and the World Religion”,  memandang,
mengemukanya ideologi-ideologi modern –seperti humanisme, demokrasi,
sekularisme, marxisme, ateisme dan isme-imse lainnya– dipahami tidak
sekedar ideologi semata, tapi lebih merupakan ”semi agama” atau quasi religion.
Dikatakan seperti itu karena, ideologi-ideologi di atas nyatanya
menjadi pemasok utama terhadap nilai-nilai, norma-norma yang membingkai
cara pandang manusia (worldview) di dalam melihat dan menghukumi segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Sehingga, quasi religion ini tidak saja sebagai saingan bagi agama yang resmi (propper religion), tapi lebih merupakan ancaman yang sangat berbahaya.

Dalam
paparannya, Anis yang juga Khatib ‘Aam Syuriah NU Cabang Istimewa
Malaysia ini dalam paparannya juga menjeskan bahwa pluralisme agama  pada
awalnya lebih terkait dengan ideologi politik, dengan mulai munculmnya
ide-ide demokrasi pada periode modern, yang diperkenalkan oleh John
Locke (
16321704), Montesquieu (1689-1755), dan Jean Jacques Russou (17121778),
yang kemudian nilai-nilai politik ini mau tidak mau harus bersinggungan
dengan agama. Hal itu karena masyarakat pada umumnya tidak pernah bisa
lepas dari a state of belief system.

Para pendiri Amerika Serikat, dan yang paling getol adalah Benjamin Franklin (17061790), sangat menyadari keberagaman ideologi masyarakatnya, sehingga sangat bernafsu memunculkan”public Religion”,
agama pemersatu ideologi-ideologi masyarakatnya. Menurutnya, suatu
negara yang plural memerlukan suatu agama yang sepatutnya dipeluk oleh
semua penguhuni negara tersebut. Agama publik, menurutnya, diambil dari
unsur-unsur yang baik dari semua agama, agama yang dipeluk oleh
masyarakat Amerika Serikat. Agama inilah yang diharapkan memberi
framework kepada masyarakat untuk hidup secara damai dengan berbagai
latar belakang agama dan keyakinan.

Hal senada juga diungkap Russou dengan bukunya ”The Social Contract and Discource”, yang sezaman dengan Benjamin Franklin, ternyata menteorikan juga tentang cita-cita ”Civil Religion”. Dan dari dialah istilah ini pertama kali muncul.

Pluralisme Agama Bukan Pluralitas Agama

Munculnya
pemahaman pluralisme agama ini sebenarnya banyak aspek yang ikut
memberikan konstribusi. Baik aspek politik, agama, sosial, dll, dengan
mesin perobahnya adalah metode hermeneutik untuk merombak pemhaman yang
lama.
Pada
akhirnya, di dunia Kristen, baik Protestan dan Katolik, sama-sama
menggelindingkan dan mendukung paham pluralisme agama, antara thn
1960-1970-an, sehingga istilah pluralisme agama ini sudah mulai masuk
ke istilah-istilah akademis, baik di universitas-universitas, di
ensiklopedi-ensiklopedi, buku-buku dan media.

Teori
pluralisme agama tidak bisa dipahami secara simplistis sebagaimana
selama ini berlaku di media-media. Kebanyakan media menganggap bahwa
pluralisme agama dianggap sama dengan toleransi beragama. Padahal kedua
istilah ini merupakan entitas berbeda, yang tidak sama. Bedanya, kalau
pluralisme agama adalah mengakui agama lain sebagai absah atau ”valid and authentic
(mengikuti istilah John Hick). Valid dan otentik inilah sebenarnya
suatu pengakuan bahwa agama lain di luar agama seseorang sebagai yang
absah. Sedangkan toleransi hanya mengakui keberadaan agama-agama lain
sebagai gejala kemajemukan, tanpa harus menghilangkan keyakinan dalam
agama diri sendiri. Tidak harus mengakui agama orang lain absah secara
akidahnya, valid dan otentik. Toleransi, singkatnya, menghargai
perbedaan. ”Jadi toleransi ada karena ada perbedaan. Kalau tidak ada
perbedaan, maka tidak muncul istilah toleransi,” ujar Anis.

Sayangnya,
keragaman ini kurang dipahami secara baik oleh mereka. Seperti Allah
menciptakan keberagaman dalam agama, semua agama dianggap sama-sama
absah secara syara’ karena sama-sama diciptakan Allah Swt. Memang semua
agama yang ada adalah ciptaan Allah, tapi tidak semuanya diridhoi
secara syara’. Tidak semua yang Allah kehendaki (iradah) dikehendaki secara ontologis (kaunan) dan diridhoi (syar’an).
Ada yang Allah kehendaki secara ontologis tapi tidak secara syara’,
seperti diciptakannya setan. Ada juga yang dikehendaki secara
ontologis, tapi dikehendaki juga secara syara’, seperti diciptalannya
Muhammad Saw. Contoh lain, Allah Swt dalam Al-Quran berfirman: In Tasykuru yardhahu lakum wa la yardha li’ibadihi al-kufur.
Syukur dikehendaki dan diridhoi oleh Allah, tapi kufur dicipta tapi
tidak diridhoi. Begitu juga tatanan-tatanan keagamaan ada yang
dikehendaki dan diridhoi dan ada pula yang dikehendaki tapi tidak
diridhoi.

Lalu
pertanyaan yang akan muncul kemudian adalah, bagaimana Islam
mengharmonikan keberagaman ini? Menurut Dr. Anis, Islam menawarkan
penyelesaikan non-teologis, karena secara teologis Islam sudah tuntas
dan selesai membahasnya. Sehingga penyelesaian yang mendesak adalah
penyelesaian praktikal administratif, bagaimana mengatur kehidupan
bersama, berdampingan, saling membantu, dan kerjasama. Semua itu diluar
teologis. Itulah sebenarnya yang pernah dilakukan oleh Rasulullah
dengan Piagam Madinah. Piagam Madinah mengatur hubungan antara umat
beragama secara administratif, tak menyinggung masalah teologis.

Jadi
toleransi adalah suatu hajat bagi individu penganut agama. Mereka tak
mungkin eksis tanpa adanya toleransi. Tapi toleransi bukan pluralisme.
Ia hanya sebatas menghargai penganut agama lain dan hak hidupnya.
Sementara pluralisme agama, pada hakekatnya, akan menghacurkan
agama-agama yang ada. Ketika ia mengklaim sebagai tafsir agama yang
paling benar, justru ia hendak memaksakan paham-paham agama lain
ditinggalkan dan mengambil tafsir agama versi di pihaknya. Pada titik
ekstrimnya, target pluralisme agama adalah untuk menghabisi
agama-agama. Minimalnya akan membiarkan agama-agama bergentayangan
tanpa ruh atau esensi dari agama-agama tersebut.

Ancaman
ini sebenarnya sudah banyak disadari oleh para pemikir, filosof, dan
pemukan agama. Untuk Indonesia, misalkan, ada beberapa tokoh yang
menolak gagasan Pluralisme agama. Antara lain, dari kalangan Kristen.
Menurut Anis, ada tesis doktoral yang ditulis oleh Pdt. Stephly
Lumintang, yang dibukukan dengan judul ”Ideologi Abu-Abu”.
Disebut abu-abu karena tidak jelas. Menurut buku ini, pluralime agama
ini akan membabat habis agama-agama, termasuk Kristen. Sedangkan dari
kalangan Hindu ada buku juga yang diedit oleh Ngakam Made Madra Suta,
yang diterbitkan thn 2006, dengan judul ”Semua Agama Tidak Sama.”
Buku ingin merespon beberapa argumen yang dipkai oleh kalangan
pluralis, utamanya John Hick. Sementara Romo Franz Magnes Suseno,
nampaknya, bersikap mendua. Maksud mendua di sini ia dalam beberapa
tulisannya tidak setuju dengan pluralisme agama, tapi dalam beberapa
diskusi, ia mengaku mendukung pluralisme agama.

Jadi
kalau boleh disimpulkan, pluralisme agama bukanlah toleransi agama.
Sebab pluralisme agama berbeda dengan pluralitas. Hal-hal yang
digaungkan oleh pengusungnya sebagai pendamai dan solusi untuk
mendamaikan antara agama-agama justru menunjukkan sebaliknya, yakni
akan memusnahkan agama-agama lainnya.

”Pluralisme Agama melarang klaim kebenaran (truth claim), ternyata ia sendiri yang mengklaim dirinya paling benar, dan agama-agama yang ada adalah salah,” ujar Anis. Dengan demikian,  tambah Anis, pluralisme agama ini bukanlah solusi, tapi lebih merupakan ancaman bagi eksistensi agama-agama. [amj/dimyati/www.hidayatullah.com]

 

Ada Apa dengan Talmud

June 29th, 2007 by feliaja

Talmudbabyloniamanuskrip_2Talmudbig_2

Talmud

 

Talmud, Kitab Suci Kaum Qabalis Yahudi

Pendahuluan

Kitab Talmud adalah kitab suci yang terpenting bagi kaum Yahudi, bahkan lebih penting daripada Kitab Taurat. Kitab Talmud bukan saja menjadi sumber dalam penetapan hukum agama, tetapi juga menjadi ideologi dan prinsip-prinsip, serta arahan bagi penyusunan kebijakan negara dan pemerintah Yahudi Israel, dan menjadi pandangan hidup orang Yahudi pada umumnya. Itu pula sebabnya mengapa negara Yahudi Israel disebut sebagai negara yang rasis, chauvinistik, theokratik, konservatif, dan sangat dogmatik. Untuk dapat memahami sepak-terjang negara Israel yang tampak arogan, keras-kepala, tidak kenaI kompromi, orang perlu memahami isi ajaran Kitab Talmud, yang diyakini oleh orang Yahudi sebagai kitab suci yang terpenting di antara kitab-kitab suci mereka.

Keimanan orang Yahudi terhadap Kitab Talmud mengatasi bahkan Kitab Perjanjian Lama, yang juga dikenal dengan nama Taurat. Bukti tentang hal ini dapat ditemukan dalam Talmud ‘Erubin’ 2b (edisi Soncino) yang mengingatkan kepada kaum Yahudi, “Wahai anakku, hendaklah engkau lebih mengutamakan fatwa dari para Ahli Kitab (Talmud) daripada ayat-ayat Taurat”.

Para pendeta Talmud mengklaim sebagian dari isi Kitab Talmud merupakan himpunan dari ajaran yang disampaikan oleh Nabi Musa a.s. secara lisan. Sampai dengan kedatangan Nabi Isa a.s. Kitab Talmud belum dihimpun secara tertulis seperti bentuknya yang sekarang. Nabi Isa a.s. mengutuk tradisi ‘mishnah’ (Talmud awal) termasuk mereka yang mengajarkannya (para pendeta Yahudi dan kaum Farisi), karena isi Kitab Talmud seluruhnya menyimpang, bahkan bertentangan dengan Kitab Taurat. Kaum Kristen, karena ketidak-pahamannya, hingga dewasa ini menyangka Perjanjian Lama merupakan kitab tertinggi bagi agama Yahudi. Sangkaan itu keliru.

Para pendeta Parisi mengajarkan, doktrin dan fatwa yang berasal dari para rabbi (pendeta), lebih tinggi kedudukannya daripada wahyu yang datang dari Tuhan. Talmud mengemukakan hukum-hukumnya berada di atas Taurat, dan bahkan tidak mendukung isi Taurat. Seorang peneliti Yahudi, Hyam Maccoby, dalam bukunya ‘Judaism on Trial’ mengutip peryataan Rabbi Yehiel ben Joseph, bahwa “Tanpa Talmud kita tidak akan mampu memahami ayat-ayat Taurat … Tuhan telah melimpahkan wewenang ini kepada mereka yang arif, karena tradisi merupakan suatu kebutuhan yang sama seperti kitab-kitab wahyu. Para arif itu membuat tafsiran mereka … dan mereka yang tidak pernah mempelajari Talmud tidak akan mungkin mampu memahami Taurat.”

Memang ada kelompok di kalangan kaum Yahudi yang menolak Talmud, dan tetap berpegang teguh kepada kitab Taurat saja (Perjanjian Lama yang sekarang) Mereka ini disebut golongan ‘Karaiyah’, kelompok yang sepanjang sejarahnya paling dibenci dan menjadi korban didzalimi oleh para pendeta Yahudi orthodoks.

Kepada tradisi ‘mishnah’ itu para pendeta Yahudi menambah sebuah kitab lagi yang mereka sebut ‘Gemarah’ (kitab “tafsir” para pendeta). Tradisi ‘mishnah’ (yang kemudian dibukukan) bersama dengan “Gemarah’, disebut Talmud. Ada dua buah versi Kitab Talmud, yaitu ‘Talmud Jerusalem’ dan ‘Talmud Babilonia’. ‘Talmud Babilonia’ dipandang sebagai kitab yang paling otoritatif1.

Beberapa kutipan yang diangkat dari Kitab Tamud dalam uraian berikut ini merupakan dokumen asli yang tidak-terbantahkan, dengan harapan dapat memberikan pencerahan kepada segenap ummat manusia, termasuk kaum Yahudi, tentang kesesatan dan rasisme dari ajaran Talmud yang penuh dengan kebencian, yang menjadi kitab suci baik bagi kaum Yahudi Orthodoks maupun Hasidiyah di seluruh dunia.

Pelaksanaan ajaran Talmud tentang keunggulan kaum Yahudi yang dldasarkan pada ajaran kebencian itu telah menyebabkan penderitaan yang tak terperikan terhadap orang lain sepanjang sejarah ummat manusia sampai dengan saat ini, khususnya di tanah Palestina. Ajaran itu telah dijadikan dalih untuk membenarkan pembantaian secara massal penduduk sipil Arab-Palestina. Kitab Talmud menetapkan bahwa semua orang yang bukan-Yahudi disebut “goyyim”, sama dengan binatang, derajat mereka di bawah derajat manusia. Ras Yahudi adalah “ummat pilihan”, satu-satunya ras yang mengklaim diri sebagai keturunan langsung dari Nabi Adam a.s. Marilah kita periksa beberapa ajaran Talmud.

Beberapa Contoh Isi Ajaran Talmud

Erubin 2b, “Barangsiapa yang tidak taat kepada para rabbi mereka akan dihukum dengan cara dijerang di dalam kotoran manusia yang mendidih di neraka”.

Moed Kattan 17a, “Bilamana seorang Yahudi tergoda untuk melakukan sesuatu kejahatan, maka hendaklah ia pergi ke suatu kota dimana ia tidak dikenal orang, dan lakukanlah kejahatan itu disana”

Menganiaya seorang Yahudi Sama Dengan Menghujat Tuhan

Sanhedrin 58b, “Jika seorang kafir menganiaya seorang Yahudi, maka orang kafir itu harus dibunuh”.

Dibenarkan Menipu Orang yang Bukan-Yahudi

Sanhedrin 57a, “Seorang Yahudi tidak wajib membayar upah kepada orang kafir yang bekerja baginya”.

Orang Yahudi Mempunyai Kedudukan Hukum yang Lebih Tinggi

Baba Kamma 37b, “Jika lembu seorang Yahudi melukai lembu kepunyaan orang Kanaan, tidak perlu ada ganti rugi; tetapi ,jika lembu orang Kanaan sampai melukai lembu kepunyaan orang Yahudi maka orang itu harus membayar ganti rugi sepenuh-penuhnya”.

Orang Yahudi Boleh Mencuri Barang Milik Bukan-Yahudi

Baba Mezia 24a, “Jika seorang Yahudi menemukan barang hilang milik orang kafir, ia tidak wajib mengembalikan kepada pemiliknya”. (Ayat ini ditegaskan kembali di dalam Baba Kamma 113b),

Sanhedrin 57a, “Tuhan tidak akan mengampuni seorang Yahudi ‘yang mengawinkan anak-perempuannya kepada seorang tua, atau memungut menantu bagi anak-lakinya yang masih bayi, atau mengembalikan barang hilang milik orang Cuthea (kafir)’ …”.

Orang Yahudi Boleh Merampok atau Membunuh Orang Non-Yahudi

Sanhedrin 57a, “Jika seorang Yahudi membunuh seorang Cuthea (kafir), tidak ada hukuman mati, Apa yang sudah dicuri oleh seorang Yahudi boleh dimilikinya”.

Baba Kamma 37b, “Kaum kafir ada di luar perlindungan hukum, dan Tuhan membukakan uang mereka kepada Bani Israel”.

Orang Yahudi Boleh Berdusta kepada Orang Non-Yahudi

Baba Kamma 113a, “Orang Yahudi diperbolehkan berdusta untuk menipu orang kafir”.

Yang Bukan-Yahudi adalah Hewan di bawah Derajat Manusia

Yebamoth 98a, “Semua anak keturunan orang kafir tergolong sama dengan binatang”.

Abodah Zarah 36b, “Anak-perempuan orang kafir sama dengan ‘niddah’ (najis) sejak lahir”.

Abodah Zarah 22a - 22b, “Orang kafir lebih senang berhubungan seks dengan lembu”.

Ajaran Gila di dalam Talmud

Gittin 69a, “Untuk menyembuhkan tubuh ambil debu yang berada di bawah bayang-bayang jamban, dicampur dengan madu lalu dimakan“.

Shabbath 41a, “Hukum yang mengatur keperluan bagaimana kencing dengan cara yang suci telah ditentukan”.
Yebamoth 63a, ” … Adam telah bersetubuh dengan semua binatang ketika ia berada di Sorga”.

Yebamoth 63a, “…menjadi petani adalah pekerjaan yang paling hina “.

Sanhedrin 55b, “Seorang Yahudi boleh mengawini anak-perempuan berumur tiga tahun (persisnya, tiga tahun satu hari)”.

Sanhedrin 54b, “Seorang Yahudi diperbolehkan bersetubuh dengan anak-perempuan, asalkan saja anak itu berumur di bawah sembilan tahun”.

Kethuboth 11b, “Bilamana seorang dewasa bersetubuh dengan seorang anak perempuan, tidak ada dosanya”.

Yebamoth 59b, “Seorang perempuan yang telah bersetubuh dengan seekor binatang diperbolehkan menikah dengan pendeta Yahudi. Seorang perempuan Yahudi yang telah bersetubuh dengan jin juga diperbolehkan kawin dengan seorang pendeta Yahudi”.

Abodah Zarah 17a, “Buktikan bilamana ada pelacur seorangpun di muka bumi ini yang belum pernah disetubuhi oleh pendeta Talmud Eleazar”.

Hagigah 27a, “Nyatakan, bahwa tidak akan ada seorang rabbi pun yang akan mas uk neraka”.

Baba Mezia 59b, “Seorang rabbi telah mendebat Tuhan dan mengalahkan-Nya. Tuhan pun mengakui bahwa rabbi itu memenangkan debat tersebut”.

Gittin 70a, “Para rabbi mengajarkan, ‘Sekeluarnya seseorang dari jamban, maka ia tidak boleh bersetubuh sampai menunggu waktu yang sama dengan menempuh perjalanan sejauh setengah mil, konon iblis yang ada di jamban itu masih menyertainya selama waktu itu, kalau ia melakukannya juga (bersetubuh), maka anak-keturunannya akan terkena penyakit ayan”.

Gittin 69b, “Untuk menyembuhkan penyakit kelumpuhan campur kotoran seekor anjing berbulu putih dan campur dengan balsem; tetapi bila memungkinkan untuk menghindar dari penyakit itu, tidak perlu memakan kotoran anjing itu, karena hal itu akan membuat anggota tubuh menjadi lemas “.

Pesahim 11a, “Sungguh terlarang bagi anjing, perempuan, atau pohon kurma, berdiri di antara dua orang laki-laki. Karena musibah khusus akan datang jika seorang perempuan sedang haid atau duduk-duduk di perempatan jalan “.

Menahoth 43b-44a, “Seorang Yahudi diwajibkan membaca doa berikut ini setiap hari, ‘Aku bersyukur, ya Tuhanku, karena Engkau tidak menjadikan aku seorang kafir, seorang perempuan, atau seorang budak belian’ “.

Kisah-kisah Holocaust oleh Romawi

Di dalam Talmud, ayat Gittin 57b ada dikisahkan tentang dibantainya 4 juta orang Yahudi oleh orang Romawi di kota Bethar. Gittin 58a, mengklaim bahwa 16 juta anak-anak Yahudi dibungkus ke dalam satu gulungan dan dibakar hidup-hidup oleh orang Romawi.
Demografi tentang zaman kuno menyatakan orang Yahudi di seluruh dunia pada masa penjajahan oleh Romawi tidak sampai berjumlah 16 juta, bahkan 4 juta pun tidak ada).

Pengakuan Talmud

Abodah Zarah 70a, “Seorang rabbi ditanya, apakah anggur yang dicuri di Pumbeditha boleh diminum, atau anggur itu sudah dianggap najis, karena pencurinya adalah orang-orang kafir (seorang bukan-Yahudi bila menyentuh guci anggur, maka anggur itu dianggap sudah najis). Rabbi itu menjawab, tidak perlu dipedulikan, anggur itu tetap halal (’kosher’) bagi orang Yahudi, karena mayoritas pencuri yang ada di Pumbeditha, tempat dimana guci-guci anggur itu dicuri, adalah orang-orang Yahudi”. (Kisah ini juga ditemukan di dalam Kitab Gemara, Rosh Hashanah 25b).

Ibadah Orang Farisi

Erubin 21 b, “Rabbi Akida berkata kepadanya, ‘Berikan saya air untuk mencuci tangan saya’. Ia menjawab, ‘Air itu tidak cukup bahkan untuk diminum, apalagi untuk membasuh tanganmu’ keluhnya. ‘Lalu apa yang harus saya perbuat ?’ tanya seseorang lainnya, ‘padahal engkau tahu menentang ucapan seorang rabbi diancam dengan hukuman mati?’ ‘Saya lebih baik mati daripada menentang pendapat kawan-kawan saya’ ” (Ritual cuci tangan ini terekam dikutuk Nabi Isa a.s. dalam Injil Matius 15 : 1- 9).

Genosida Dihalalkan oleh Talmud

Perjanjian Kecil, Soferim 15, Kaidah 10, “Inilah kata-kata dari Rabbi Simeon ben Yohai, ‘Tob shebe goyyim harog’ (”Bahkan orang kafir yang baik sekali pun seluruhnya harus dibunuh”). Orang-orang Israeli setiap tahun mengikuti acara nasional ziarah ke kuburan Simon ben Yohai untuk memberikan penghormatan kepada rabbi yang telah menganjurkan untuk menghabisi orang-orang non-Yahudi2.

Di Purim, pada tanggal 25 Februari 1994 seorang perwira angkatan darat Israel, Baruch Goldstein, seorang Yahudi Orthodoks dari Brooklyn, membantai 40 orang muslim, termasuk anak-anak, tatkala mereka tengah bersujud shalat di sebuah masjid. Goldstein adalah pengikut mendiang Rabbi Meir Kahane, yang menyatakan kepada kantor berita CBS News, bahwa ajaran yang dianutnya mengatakan orang-orang Arab itu tidak lebih daripada anjing, sesuai ajaran Talmud”.3 Ehud Sprinzak, seorang profesor di Universitas Jerusalem menjelaskan tentang falsafah Kahane dan Goldstein, “Mereka percaya adalah telah menjadi iradat Tuhan, bahwa mereka diwajibkan untuk melakukan kekerasan terhadap ‘goyyim’, sebuah istilah Yahudi untuk orang-orang non-Yahudi”.4

Rabbi Yizak Ginsburg menyatakan, “Kita harus mengakui darah seorang Yahudi dan darah orang ‘goyyim’ tidaklah sama”.5 Rabbi Jacov Perrin berkata, “Satu juta nyawa orang Arab tidaklah seimbang dengan sepotong kelingking orang Yahudi”.6

Doktrin Talmud : Orang non-Yahudi Bukanlah Manusia

Talmud secara spesifik menetapkan orang non-Yahudi termasuk golongan binatang, bukan-manusia, dan secara khusus menyatakan bahwa mereka bukan dari keturunan Nabi Adam a.s. Ayat-ayat yang berkaitan itu ditemukan bertebaran di dalam Kitab Talmud, antara lain sebagai berikut :

Kerihoth 6b, “Menggunakan minyak untuk mengurapi. Rabbi kita mengajarkan, ‘Barangsiapa menyiramkan minyak pengurapan kepada ternak atau perahu, ia tidak melakukan dosa; bila ia melakukannya kepada ‘goyyim’, atau orang mati, dia tidak melakukan dosa. Hukum yang berhubungan dengan ternak dan perahu adalah benar, karena telah tertulis: terhadap tubuh manusia (Ibrani: Adam) tidak boleh disiramkan (Exodus 30:32); karena ternak dan perahu bukan manusia (Adam)’ “. “Juga dalam hubungan dengan yang meninggal (sepatutnya) ia dikecualikan, karena setelah meninggal ia menjadi bangkai dan bukan manusia lagi (Adam). Tetapi mengapa terhadap ‘goyyim’ juga dikecualikan, apakah mereka tidak termasuk kategori manusia (Adam) ?Tidak, karena telah tertulis: ‘Wahai domba-domba-Ku, domba-domba di padang gembalaan-Ku adalah manusia (Adam)’ (Ezekiel 34:31): Engkau disebut manusia (Adam), tetapi ‘goyyim’ tidak disebut sebagai manusia (Adam)’ “.

Pada ayat-ayat terdahulu para rabbi membahas hukum Talmud yang melarang memberikan minyak suci bagi manusia. Dalam pembahasan itu para rabbi menjelaskan bukanlah suatu dosa untuk membenkan miyak suci itu kepada ‘goyyim’ (kaum non-Yahudi, seperti muslim, Kristen, dan sebagainya), karena ‘goyyim’ tidak termasuk golongan manusia (harfiahnya: bukan keturunan Adam).

Yebamoth 61a, “Telah diajarkan: Begitulah Simeon ben Yohai menerangkan (61a) bahwa kuburan orang ‘goyyim’ tidak termasuk tempat yang suci untuk mendapatkan ‘ohel’ (memberikan sikap ruku’ terhadap kuburan), karena telah dikatakan, wahai domba-domba-Ku yang ada di padang gembalaan-Ku, kalian adalah manusia (Adam)’, (Ezekiel 34:31); kalian disebut manusia (Adam); tetapi kaum kafir ltu tldak dlsebut manusia (Adam)’ “.

Hukum Talmud menerangkan bahwa seorang Yahudi yang menyentuh bangkai manusia tau kuburan (Yahudi) menyebabkan ia ternajisi. Tetapi hukum Talmud mengajarkan, sebaliknya, jika seorang Yahudi menyentuh kuburan orang goyyim, hal itu membuat ia tetap suci, karena orang goyyim tidak termasuk golongan manusia (Adam).

Baba Mezia 114b, “Dia (Rabbah) berkata kepadanya: ‘Apakah engkau bukan pendeta: mengapa engkau berdiri di atas kuburan ? Ia menjawab: ‘Apakah guru belum mempelajari hukum tentang kesucian? Karena telah diajarkan: Simeon ben Yohai berkata:‘Kuburan kaum ‘goyyim’ tidak menajisi. Karena telah tertulis, ‘Wahai gembalaan-Ku gembalaan di padang rumput-Ku adalah manusia (Adam), dan ia berdiri di atas kuburan kaum ‘goyyim’ “.

Mengingat pembuktian berdasarkan nash Taurat (Ezekiel 34:31). disebut sampai beru1ang-kali pada ketiga ayat-ayat Talmud di atas tadi, padahal dalam kenyataannya Taurat tidak pernah menyebutkan bahwa hanya orang Yahudi saja yang termasuk golongan manusia. Para ‘hachom’ Talmud sangat menekankan kekonyo1an ajaran mereka tentang kaum ‘goyyim’. Hal itu merupakan bukti bahwa mereka sebenarnya adalah rasis dan ideolog anti-kaum non-Yahudi, yang dalam kebuntuan nalarnya telah mendistorsikan ayat-ayat Taurat dalam rangka membenarkan kesesatan mereka.

Berakoth 58a, “Shila seorang Yahudi memberikan hukuman cambuk kepada seseorang yang telah bersetubuh dengan seorang perempuan Mesir: Orang yang dicambuk itu pergi mengadukannya kepada pemerintah, dan berkata: ‘Ada seorang Yahudi yang memberikan hukuman cambuk tanpa izin dari pemerintah’. Seorang petugas memerintahkan untuk memanggilnya (Shila). Ketika ia (Shila) tiba, ia ditanya: ‘Mengapa engkau mencambuk orang ini?’ Ia (Shila) menjawab: ‘ Karena ia telah menyetubuhi keledai betina’ “. “Petugas itu berkata kepadanya: ‘Apakah engkau mempunyai saksi-saksi?’ Ia(Shila) menjawab ‘Saya mempunyainya’. Kemudian (nabi) Elijah turun dari langit dalam bentuk manusia dan memberikan bukti. Petugas itu berkata lagi kepadanya: ‘Kalau demikian halnya seharusnya orang itu dihukum mati!’ Ia (Shila) menjawab: ‘Karena kami telah diasingkan dari negeri kami, kami tidak mempunyai wewenang untuk menjatuhkan hukuman mati; lakukanlah terhadapnya sesuai kehendak kalian’ ”

“Ketika mereka masih mempertimbangkan perkara itu Shila pun berteriak.• ‘Kepada-Mulah ya Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Kuasa’ (Kisah-kisah 29:11). ‘Apa kehendakmu? tanya petugas itu. Ia (Shila) menjawab.• ‘Apa yang kukatakan ialah: Terpujilah Yang Maha Pengasih yang telah menciptakan segala sesuatunya dari tanah serupa dengan Yang di Sorga, dan telah memberikan kepadamu sekalian tempat tinggal, dan membuat kalian mencintai keadilan’ “,

“Petugas itu berkata kepadanya (Shila).• ‘Apakah engkau sedemikian membantu kepada kehormatan pemerintah?’ Petugas itu memberi Shila sebuah tongkat dan berkata kepadanya: ‘Engkau boleh menjadi hakim. ‘ Tatkala petugas (orang ‘goyyim’) itu telah pergi, orang-orang yang ada disana berkata kepadanya (Shila).• ‘Apakah Yang Maha Pengasih membuat mu’zizat bagi kaum pendusta?’. Ia (Shila) menjawab mereka (’goyyim’) disebut keledai? Karena telah tertulis: Daging mereka adalah daging keledai’ (Ezekiel 23:30)

Ia (Shila) memperhatikan orang-orang itu akan memberi-tahukan petugas-petugas itu bahwa ia (Shila) telah menyebut mereka sebagai keledai. Maka ia (Shila) berkata.• ‘Orang itu adalah penuntut hukum, dan Taurat telah mengatakan: Jika seseorang datang untuk membunuhmu, bangkitlah segera dan bunuh dia lebih dahulu. Begitulah tongkat yang diberikan kepadanya itu dipukulkannya kepada terdakwa dan membunuhnya.’ Kemudian ia berkata: ‘Karena sebuah mu’zizat telah terjadi melalui ayat ini, maka aku melaksanakannya’ “.

Bagian ini terpaksa diutarakan agak panjang, tetapi agaknya terpaksa dikutip seluruhnya untuk memperlihatkan bagaimana kedzaliman kaum Yahudi. Sebagai tambahan bahwa nabi Elijah sampai perlu turun dari sorga ke bumi untuk menipu mahkamah kaum goyyim, disini Talmud mengajarkan, bahwa kaum ‘goyyim’ pada dasamya adalah binatang, sehingga karena itu Rabbi Shila (dan nabi Elijah) sama sekali tidaklah dapat disebut telah berdusta atau telah membuat dosa. Ceritera itu menjelaskan bahwa sekiranya seseorang (termasuk orang Yahudi) mengungkapkan ajaran Talmud pandangan tentang kaum ‘goyyim’ sama dengan keledai, maka ia akan menerima hukuman mati. Karena mengungkapkan hal itu akan membuat kaum ‘goyyim’ murka dan akan menindas agama Yahudi.

Kutipan Talmud dari kitab Ezekiel ini merupakan “nash bukti” sangat penting, karena ayat itu menyatakan bahwa kaum ‘goyyim’ itu termasuk golongan binatang (keledai). Ayat dari kitab Ezekiel pada Kitab Perjanjian lama telah diubah dengan hanya mengatakan bahwa “orang Mesir memiliki kemaluan yang besar” (sindiran - sama dengan keledai). Hal ini tidak membuktikan atau menegaskan secara eksplisit bahwa orang Mesir yang dirujuk oleh Taurat sarna dengan binatang. Dalam hal ini Talmud memalsukan Taurat dengan cara mendistorsikan tafsir. Beberapa ayat Talmud yang lain yang mengkaitkannya dengan kitab Ezekiel 23:30 yang memperlihatkan watak rasis orang Yahudi ditemukan dalam Arakin 19b, Berakoth 25b, Niddah 45a, Shabbath 150a, dan Yebamoth 98a. Lagipula nash aseli Sanhedrin 37a hanya mengkaitkannya dengan persetujuan Tuhan untuk penyelamatan kaum Yahudi saja.7

Moses Maimonides Membenarkan Pembantaian

Begawan yang sangat dihormati, Moses Maimonides, mengajarkan tanpa tedeng aling-aling, bahwa kaum Kristen wajib dihabisi. Tokoh yang memberikan fatwa seperti itu memiliki kedudukan tertinggi dalam hirarki agama Yahudi.

Moses Maimonides dipandang sebagai penyusun hukum dan filosuf terbesar sepanjang sejarah Yahudi. Ia acapkali dengan penuh rasa hormat disebut dengan nama Rambam, dan disapa dengan panggilan Rabenu Moshe ben Maimon, yang artinya ‘Rabbi Kami Musa anak Maimun”.8 Inilah yang diajarkan oleh Maimonides tentang boleh tidaknya menyelamatkan nyawa kaum ‘goyyim’, atau bahkan’ orang Yahudi sekali pun yang berani menolak “inspirasi ilahiyah di dalam Talmud’.

“Sesungguhnya bila kita melihat seorang kafir (’goyyim’) sedang terhanyut dan tenggelam di sungai, kita tidak boleh menolongnya. Kalau kita melihat nyawanya sedang terancam, kita tidak boleh menyelamatkannya.”9. Naskah dalam bahasa Ibrani edisi Feldheim 1981 tentang Mishnah Torah menyebutkan hal yang sarna seperti itu.

Dengan peringatan dari Maimonides itu, telah diwajibkan bagi kaum Yahudi untuk tidak boleh menyelamatkan nyawa atau memberikan pertolongan kepada seorang ‘goyyim’, ia sebenarnya menyatakan sikap kaum Yahudi yang sebenarnya yang dibebankan oleh Talmud terhadap kaum non-Yahudi.10

“Hal itu telah merupakan ‘mitvah’ (kewajiban agama) untuk , menghabisi para pengkhianat kaum Yahudi, para ‘minnim’, dan “apikorsim” dan membuat mereka jatuh ke dalam lobang kehancuran, karena mereka telah menyebabkan penderitaan kepada kaum Yahudi, dan menipu manusia untuk menjauh dari Tuhan, sebagaimana yang dilakukan oleh Isa dari Nazareth dan para muridnya, dan Tzadok, Baithos dan murid-muridnya. Semoga terla’natlah mereka”.

Komentar penerbit Yahudi itu memuat pernyataan Maimonides bahwa Nabi Isa a.s. adalah contoh seorang ‘min’ (”pengkhianat” majemuknya ‘minnim’). Komentar itu juga menerangkan bahwa murid-murid Tzadok, yaitu kaum Yahudi yang menolak kebenaran Talmud dan mereka yang hanya mengakui hukum tertulis, yakni Taurat. Menurut buku ‘Maimonides’ Principles’ pada h.5, Maimonides memerlukan waktu dua-belas tahun untuk menyimpulkan hukum dan keputusan dari Talmud, dan mensistemasikan kesimpulannya itu ke dalam 14 jilid. Karya itu akhirnya selesai pada tahun 1180 dan diberi judul ‘Mishnah Torah’, atau ‘Syari’at Taurat’.

Maimonides mengajarkan pada bagian lain dari ‘Mishnah Torah’, bahwasanya kaum ‘goyyim’ bukanlah golongan manusia: “Hanyalah manusia (kaum Yahudi), dan bukannya perahu, yang dapat memperoleh najis bila bersentuhan … Bangkai dari seorang ‘goyyim’ tidak menyebabkan najis bila bersentuhan dengan bayang-bayang seorang Yahudi … seorang ‘goyyim’ tidak sampai menyebabkan penajisan; dan bila seorang ‘goyyim’ menyentuh, membawa, atau membayangi … ‘goyyim’ itu tidak menyebabkan najis … mayat seorang ‘goyyim’ tidak menyebabkan menjadi najis; dan sekiranya’” seorang ‘goyyim’ menyentuh, membawa, atau menjatuhkan bayangannya kepada mayat, ia dianggap tidak pernah menyentuh mayat tersebut.” .11

Film ‘Schindlers List’ - Contoh Kebohongan Kaum Yahudi

Teks Talmud (khususnya Talmud Babilonia) pada Sanhedrin 37a tidak mewajibkan orang Yahudi untuk menyelamatkan nyawa orang lain, terkecuali nyawa orang Yahudi. Moshe Maimonides memperkuat ajaran Talmud tersebut. Tetapi, beberapa buku yang ditulis oleh orang-orang Yahudi kontemporer (Hesronot Ha-shas) merujuk beberapa nash dari Talmud yang seolah-olah memuat frase nilai-nilai universal, seperti, “Barangsiapa membunuh kehidupan seseorang, hal itu sama dengan membunuh seluruh isi dunia; dan barangsiapa memelihara kehidupan seseorang ,,, hal itu seperti ia telah memelihara seluruh isi dunia”. (Bandingkan dengan al-Qur’ an 5:32, “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya”)

Namun Hesronot Ha-ash mengakui ayat-ayat di atas tadi bukan katta-kata yang otentik dari Talmud yang aseli. Dengan kata lain, ayat-ayat bemada universal tersebut bukanlah nash otentik dari Talmud. Jadi sekedar sebagai contoh, “versi universal” ini yang oleh Stephen Spielberg dituangkan ke dalam filmnya ‘The Schindler’s List’ yang terkenal itu (dan dikaitkan seolah-olah bersumber dari Talmud pada judul maupun iklan filmnya) adalah penipuan dan merupakan propaganda, yang dimaksudkan untuk memberikan polesan kemanusiaan kepada Talmud, yang pada hakekatnya adalah kitab yang penuh berisi semangat rasisme dan chauvinisme Yahudi. Dalam nash Talmud yang aseli tertulis pada ayat yang sama, “Barangsiapa memelihara bahkan satu nyawa orang Israeli, maka ia seperti memelihara seluruh isi dunia”. Sama seperti ayat-ayat yang lain, Talmud yang aseli hanya membicarakan perihal menyelamatkan orang-orang Yahudi.

Tipuan Orang Yahudi

Sanggahan para rabbi orthodoks bahwa tidak ada bukti dokumentasi otentik tentang rasisme dan semangat kebencian di dalam Talmud adalah bohong besar, karena di dalam Baba Kamma 113a, menyatakan bahwa “Orang Yahudi boleh berbohong untuk menipu kaum ’goyyim’ ‘.

The Simon Wiesenthal Center, sebuah pusat propaganda ruhubiyah Yahudi yang didukung oleh dana multi-jutaan dolar terpaksa memecat Rabbi Daniel Landes pada tahun 1995, karena rabbi ini menentang ajaran dehumanisasi oleh Talmud terhadap orang non-Yahudi. “Sikap ini benar-benar busuk”, katanya. Buktinya ? “Ya, pernyataan-pernyataan di dalamnya”.

Berdusta untuk menipu orang ‘goyyim’ telah lama menjadi panutan di dalam agama Yahudi. Ambil contoh sehubungan dengan debat pada abad ke-13 di Paris antara Nicholas Donin, seorang Yahudi yang telah memeluk agama Katolik - yang oleh Hyam Maccoby diakui mempunyai pengetahuan yang luas tentang Talmud”12 -saat berkonfrontasi lawan Rabbi Yehiel. Pada waktu itu Yehiel tidak sedang berada di bawah ancaman hukuman, atau dicederai. Namun tanpa malu tetap saja berdusta sepanjang debat tersebut. Sebagai contoh ketika ditanya oleh Donin apakah ada ayat-ayat yang menghujat Jesus di dalam Talmud, Yehiel menyanggahnya. Donin, seorang ahli dalam bahasa lbrani paham benar jawaban itu dusta maka. Ryam Maccoby, seorang komentator Yahudi mengenai debat tersebut, yang hidup di abad ke-20, membela kebohongan Rabbi Yehiel seperti ini, “Pertanyaan itu mungkin diajukan, apakah Yehiel benar-benar percaya yang Jesus tidak disebut-sebut di dalam Talmud atau, bisa juga ia mengajukan pertanyaan ini sebagai suatu tipuan yang cerdik, untuk menciptakan keadaan mendesak Yehiel … tentu saja Rabbi Yehiel dapat dimaafjkan bila ia tidak mengakui sesuatu yang tidak sepenuhnya dipercayainya, dalam rangka mencegah proses tiranik yang menghadapkan budaya dari suatu agama tertentu, terhadap agama yang lain”.13

Beginilah cara orang Yahudi menyanggah sampai dengan hari ini tentang adanya nash Talmud yang mengandung ayat-ayat yang penuh dengan kebencian. Sebuah kata tentang “kebohongan Yahudi diplesetkan dan disulap menjadi “dapat dimaafkan”, sementara setiap penyelidikan terhadap kitab-kitab suci Yahudi oleh peneliti non-Yahudi dipandang sebagai “proses tiranik”. Sementara itu serangan kaum Yahudi terhadap kitab-kitab Injil Perjanjian Baru dan al-Qur’an tidak pernah dianggap sebagai “proses tiranik”. Hanya kritik kaum non- Yahudi yang dianggap tiranik, sedangkan cara mempertahankan diri bagi orang Yahudi adalah berdusta. (Tidak semua orang Yahudi bersikap seperti tersebut di atas. Dr. Israel Shahak dari Hebrew University menulis sebuah buku lengkap yang diberinya judul ‘Jewish History, Jewish Religion’, yang mendokumentasikan secara lengkap muatan anti-’goyyim’ di dalam kitab Talmud).
Betapapun banyaknya sanggahan dan kebohongan yang keluar dari ‘The Anti-Defamation League’ (ADL - ‘Liga Anti-Penghinaan’ Yahudi) dan dari the Wiesenthal Center, dalam buku ini dikutip nash-nash baik dari Talmud maupun juga dari mufassir Talmud ‚paling’ terkemuka” di mata orang Yahudi sendiri, seperti Moses Maimonides,

Pada tahun 1994 Rabbi Tzvi Marx, direktur pendidikan teknologi terapan pada ‘Shalom Hartman Institute’ di Jerusalem, telah menulis semacam pengakuan yang menakjubkan tentang bagaimana kaum Yahudi di masa yang silam telah membuat dua jenis kumpulan kitab: kitab Talmud yang otentik sebagai bahan pelajaran bagi para pemuda mereka di sekolah-sekolah (’kollel’) Talmud, dan sebuah lagi kitab Talmud yang telah “disensor dan diamendemen” yang ditujukan bagi konsumsi para ‘goyyim’ yang tidak mengerti apa-apa. Rabbi Marx menjelaskan bahwa versi tafsir Maimonides yang dikeluarkan untuk konsumsi umum, tertulis misalnya, “Barangsiapa membunuh seorang manusia, ia telah melanggar hukum”. Tetapi Rabbi Marx menyatakan, nash yang aseli berbunyi, ” Barangsiapa membunuh seorang Israeli”.

Buku Hesronot Ha-shas (”Yang Dihilangkan dari Talmud”)15 lalu menjadi penting dalam kaitan ini. Heshronot Ha-shas dicetak-ulang pada tahun 1989 oleh Sinai Publishing House, Tel Aviv. Heshronot Ha-shas menjadi sangat berharga bagi kita, karena buku ini menyusun suatu daftar panjang ayat-ayat Talmud yang diubah atau dihilangkan, dan daftar ayat-ayat yang dipalsukan dewasa ini, yang dibuat untuk konsumsi kaum ‘goyyim’ seolah-olah ayat-ayat itulah yang otentik.

Popper (h.58-59) menjelaskan : “Tidak selalu yang disensor itu ayat-ayat panjang, tetapi acapkali satu kata pun dihapus. … Acapkali dalam hal seperti itu digunakan dalam rangka penghapusan dan penggantian”. Sebagai contoh pentarjamah versi Talmud dalam bahasa Inggris terbitan Soncino menterjemahkan kata lbrani ‘goyyim’ dengan sejumlah kata-ganti samaran seperti, “kafir, Cuthean, Mesir, penyembah berhala”, dan sebagainya. Tetapi sebenarnya kata-ganti ini merujuk kepada kata-aseli ‘goyyim’ (semua yang non- Yahudi). Pada catatan-kaki no. 5 Talmud pada edisi Soncino dijelaskan bahwa, “Istilah orang Cuthea (Samaritan) disini adalah untuk menggantikan kata-aseli ‘goyyim’ … ”

Hal itu merupakan praktek disinformasi yang lazim dipakai oleh kaum Farisi untuk menyangkal adanya ayat-ayat yang rasialistik di dalam Talmud yang telah diungkapkan terdahulu dalam buku ini, dalam rangka mengklaim bahwa ayat-ayat itu adalah “karangan dari orang-orang yang anti-Semit”.

Pada tahun 1994, Lady Jane Birdwood, berusia 80 tahun, ditangkap dan diadili di depan pengadi1an pidana di London, hanya karena “kejahatannya” menerbitkan sebuah pamflet berjudu1 ‘The Longest Hatred’ (’Kebencian yang Paling Lama’), berisi seluruh pernyatan kebencian di dalam Talmud yang diangkatnya dari ayat-ayat yang berisi kebencian kepada kaum ‘goyyim’ dan Kristen. Sepanjang peradilan yang dituduhkan terhadapnya sebagai suatu kejahatan yang sayangnya tidak mendapatkan perhatian dari media massa, seorang rabbi diundang sebagai saksi ahli. Rabbi itu menyanggah sepenuhnya bahwa kitab Talmud berisi ayat-ayat yang mengundang kebencian kepada kaum ‘goyyim’ dan Kristen, dan hanya karena kedudukan dan prestise rabbi tersebut, wanita tua yang malang itu dijatuhi hukuman “tiga bulan kurungan penjara dan denda senilai $ l000″

Dr. Israel Shahak dalam bukunya berjudul ‘Jewish History and Jewish Religion’, pada bab tentang Jesus di dalam Talmud pada h.57, dan h.105-106, menegaskan adanya ayat-ayat yang menganjurkan kebencian dan rasisme di dalam Talmud. Mereka yang menyangkal kenyataan ini adalah pembohong besar.

Tanggapan Dunia ‘Judeo-Kristen’ terhadap Talmud

Dewasa ini ada persekongkolan yang kuat antara dunia Kristen dan Yahudi. Anehnya tidak ada, bahkan tidak pernah ada, para Paus, Katolik serta tokoh-tokoh gereja Protestan di era modern ini yang menyerang atau mengecam ajaran rasisme di Talmud, atau kebencian mendarah-mendaging terhadap Kristen dan kaum ‘goyyim’ (muslim dan lain-lain) yang diajarkannya. Sebaliknya pada pimpinan gereja Kristen, baik Katolik maupun Protestan, malah dewasa ini menganjurkan kepada para pengikut Jesus Kristus untuk mentaati, menghormati, bahkan membantu pengikut Talmud. Oleh karena itu kesimpulan kita tidak lain, para pemimpin gereja Katolik dan Protestan dewasa ini sebenarnya adalah pengkhianat paling nyata terhadap Jesus Kristus di muka bumi dewasa ini (periksa Perjanjian Baru Matius 23:13-15; I Thessalonika 2:14-16; Titus 1:14; Lukas 3:8-9; dan Kitab Wahyu 3:9).

Kaum Non-Yahudi adalah ‘Sampah’

Semua orang non-Yahudi dari segala ras dan agama menurut Talmud adalah super-sampah’, begitu menurut pendiri Habad-Lubavitch, Rabbi Shneur Zalman. Analisanya ditemukan di dalam majalah Yahudi ‚The New Republic’, yang dalam analisisnya menyatakan bahwa, “… ada ironi besar dalam pandangan universalisme messianik yang baru pada gerakan Habad khususnya pandangannya tentang kaum ’goyyim’ yakni pernyataan Habad yang tanpa tedeng aling-aling berisi penghinaan bernada rasial terhadap kaum ‘goyyim ‘. …berdasarkan pendapat para theolog Yahudi pada abad pertengahan – terutama sekali pemikiran penyair dan filosuf Judah Ha-Levi pada pada abad ke-12 di Spanyol, dan tokoh mistik Yahudi Judah Loewe pada abad ke-16 di Praha - mereka mencari ketetapan mengenai keunggulan kaum Yahudi berdasarkan ras dan bukannya pada keunggulan kerohanian … menurut pandangan mereka, secara mendasar kaum Yahudi itu lebih unggul atas ras mana pun, dan mengenai hal itu ditegaskan berulangkali dalam bentuk yang sangat ekstrim oleh Shneur Zalman dari Lyadi. Pendiri Lubavitcher-Hasidisme itu mengajarkan, bahwa ada perbedaan hakiki antara jiwa orang Yahudi dengan jiwa kaum ‘goyyim’, bahwasanya hanyalah jiwa orang Yahudi yang di dalamnya terdapat dan memancarkan cahaya kehidupan ilahiyah. Sedangkan pada jiwa kaum ‘goyyim’, Zalman selanjutnya menyatakan, “sama sekali berbeda, karena terciptanya memang lebih inferior. Jiwa mereka sepenuhnya jahat, tanpa mungkin diselamatkan dengan cara apa pun.”

Akibat rujukan tentang kaum ‘goyyim’ menurut ajaran Rabbi Shneur Zalman, tanpa kecuali menyebabkan adanya penyakit dalam jiwa mereka. Dzat darimana jiwa kaum ‘goyyim’ terbuat penuh dengan “sampah” rohani. Itulah sebabnya mengapa jumlah mereka lebih banyak daripada kaum Yahudi, karena jumlah gabah lebih banyak daripada berasnya. Semua kaum Yahudi secara hakiki baik, dan semua kaum ‘goyyim’ secara hakiki jahat.

“Karakterisasi kaum ‘goyyim’ yang dinyatakan secara hakiki jahat dan dari segi kerohanian maupun biologis lebih inferior dari kaum Yahudi, belum pernah diralat dalam ajaran Habad masa kini”.16

Syari’at Yahudi Menuntut bahwa Kaum Kristen Wajib Dihukum Mati

Para ulama Taurat menetapkan, bahwa, “Taurat mewajibkan bahwa ummat yang benar akan mendapatkan tempatnya di Hari Kemudian. Tetapi, tidak semua kaum ‘goyyim’ akan memperoleh kehidupan yang abadi meskipun mereka taat dan berlaku shaleh menurut agama mereka … Dan meskipun kaum Kristen pada umumnya menerima Kitab Perjanjian Lama Ibrani sebagai kitab yang diwahyukan dari Tuhan, namun mereka (disebabkan adanya kepercayaan pada apa yang disebut mereka ketuhanan pada Jesus) sebenarnya kaum Kristen adalah penyembah berhala menurut Taurat, oleh karena itu patut dihukum mati, dan mereka kaum Kristen itu sudah dipastikan tidak akan memperoleh ampunan di Hari Kemudian.”

Takhayul Kaum Yahudi

Bukanlah mengada-ada bila edisi Talmud Babilonia dipanadang sebagai kitab suci Yahudi yang paling otoritatif. Karena orang Kristen terperdaya oleh para pengkhotbah Yahudi, maka para Paus kian hari kian percaya dan meminta fatwa kepada rabbi Yahudi sebagai “nara sumber yang shahih” untuk mendapatkan keterangan bila berkaitan dengan kitab Perjanjian Lama, yang tanpa mereka sadari berkonsultasi dengan para okultis (juru-ramal).

Yudaisme adalah agama kaum Farisi dan para pendeta Babilonia, yang menjadi sumber ajaran Talmud dan Qabala, yang di kemudian hari membentuk agama Yudaisme. Kitab suci Yudaisme Orthodoks lainnya, seperti ‘Kabbalah’, isinya penuh dengan ajaran tentang astrologi, ramal-meramal, gematria, nekromansi (sihir), dan demonologi (ilmu hitam). Jika seorang Yahudi ingin bertaubat ia cukup mengangkat seekor ayam, membaca mantera untuk keperluan itu, dan mengibas-kibaskannya di atas kepalanya untuk memindahkan dosa- dosanya kepada ayam tersebut. Yang dapat kita katakan mengenai hal ini tidak lain adalah takhayul dalam arti yang sebenar-benarnya. Selanjutnya lambang Israel yang mereka sebut sebagai “bintang Nabi Daud” sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Nabi Daud a.s. Bintang itu adalah hexagram (bersudut enam) supranatural yang melambangkan yantra dari androgen (kelenjar yang memberikan karakteristik pada kaum laki-Iaki), yang dihubungkan dengan para Khazar Bohemia pada abad ke-14. (Penyesatan publik dengan penggunaan nama “negara Israel” yang didirikan pada tahun 1948, merupakan buah hasil persekongkolan antara kaum Bolshevik-Yahudi dengan kaum Zionis yang atheis; nama itu tidak ada sangkut-pautnya dengan kelanjutan kerajaan Nabi Daud, tetapi dikukuhkan melalui pcngakuan pertama di PBB yang diberikan oleh diktator komunis Uni Sovyet Joseph Stalin).

Kaum Kristen akan lebih terbuka matanya bila berkunjung ke komunitas Yahudi Hasidik menonton acara ‘Purim’, dimana sebuah patung serupa Halloween meloncat-loncat (seperti ‘jailangkung’). Meskipun upacara ‘Purim’ itu merujuk kepada Kitab Esther yang disebutkan sebagai nash dasarnya, dalam prakteknya upacara ‘Purim’ tidak lain adalah sebuah tradisi kaum kafir Bacchan.17

Para rabbi orthodoks menggunakan kutukan, mantra, imej, dan sebagainya, yang mereka anggap lebih besar kuasanya dari kuasa Tuhan. Kesesatan itu mereka ambil dari ajaran Sefer Yezriah, (sebuah buku tentang ilmu sihir kaurn Qabalis). Kaum non-Yahudi dapat menyaksikan ulangan perilaku paganisme Babilonia kuno setiap kali mereka mengamati ritual para rabbi agama Yudaisme.18

Dengan mengetahui ajaran Talmud yang menjadi dasar konstitusi prinsip, dan arah kebijakan negara dan pemerintah Israel, mudah dipahami mengapa negara Israel sangat arogan dengan kebuasan yang melebihi Nazi Jerman.

Daftar Pustaka

1. R.C.Musaph-Andriesse, ‘From Torah to Kabbalah: A Basic Introduction to the Writings of Judaism’, h.40.
2. Jewish Press, 9 Juni 1989, h.56B.
3. Program CBS 60 Menit “Kahane”.
4. The New York Daily News, 26 Februari 1994, h.5.
5. The New York Times, 6 Juni 1989, h.5.
6. The New York Daily News, 28 Februari 1994, h.6.
7. ‘The Heshronot Ha”shas’, Cracow, 1894.
8. Aryeh Kaplan, ed., ‘Maimonides’ Priciples’, Union of Orthodox Jewish Congregation of America, h.3.
9. Maimonides, Mishnah Torah’, Moznaim Publishing Corporation, Brooklyn, New York, 1990, Chapter 10, English version, h.184.
10. Ibid., Chapter 10, h.184.
11. Herbert Danby, translator, ‘The Code of Maimonides’, vo1.10, Yale University Press, New Haven, 1954, h. 8-9.
12. ‘Judaism on Trial’, h.26.
13. ‘Judaism on Trial’, h.28.
14. Tikkun, ‘Bimonthly Jewish Critique, edisi May-June, 1994.
15. William Popper, ‘The Censorship of Hebrew Book’, h.59.
16. ‘The New Republic’, Edisi 4 May 1992; juga Roman A.Foxbrunner, ‘Habad: The Hasidism of Shneur Zalman of Lyadi’, Jason Aronson, Inc., Northvale, New Jersey, 1993, h. 108-109.
17. “Kepercayaan takhayul perayaan itu diwarisi dari nenek-moyang orang Yahudi’” Canadian Jewish News edisi November 16, 1989, h.58
18. Israeli Mcchon-Mamre Website, August 7, 1999; Hayyim Vital St., Jerusalem, (Mechon-Mamre adalah kelompok kecil sarjana Taurat di Israel cf. Indra Adil dan Bambang E.Budhiyono, eds., ‘Skenario Besar Penghancuran Bangsa-bangsa’, Mimeograf, barani.net, Jakarta, Desember 2000).

Sumber dah lupa. cari tau aja cendiri!!!
klo emang pingin tau bener2

Ancaman “Sipilis” semakin serius

May 12th, 2007 by feliaja
”Telah Terbit, Buku Kritik terhadap Abu Zayd”
Cetak halaman ini

Kirim halaman ini melalui E-mail
Sabtu, 12 Mei 2007
 

Buku ”Al-Quran Dihujat” mengulas si penghujat Al-Quran garda depan,  Prof. Dr. Nasr Hamid Abu Zayd. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-194

 

 

Oleh: Adian Husaini

 

 

Bulan Mei 2007 ini, peneliti INSISTS, Henri Shalahuddin MA telah menerbitkan sebuah buku berjudul “Al-Quran Dihujat”
(Jakarta: GIP). Buku ini sangat penting dalam perspektif kajian
pemikiran Islam di Indonesia saat ini. Secara umum, buku ini berisi
kritik terhadap pemikiran Prof. Nasr Hamid Abu Zayd, pakar sastra Arab
Mesir yang terkenal dengan teorinya bahwa Al-Quran adalah produk budaya
Arab. Dari isi dan literatur rujukannya, tampak buku ini dipersiapkan
cukup serius. Berbagai karya Abu Zayd ditelaah dan diberikan kritiknya.

Abu
Zayd memang telah divonis murtad oleh Mahkamah di Mesir, dan kemudian
lari ke Belanda. Di negara kolonial inilah, Abu Zayd diberi tempat
terhormat sebagai guru besar ilmu Al-Quran di Universitas Leiden. Dari
sini pula Abu Zayd mengkader lusinan dosen UIN/IAIN untuk menyebarkan
pahamnya di Indonesia.


Karena itu, tidak heran, jika hasil penelitian Litbang Departemen Agama
tentang paham Liberal keagamaan di sekitar kampus UIN Yogya menyatakan,
bahwa bagi kaum liberal: ”Al-Quran bukan lagi dianggap sebagai wahyu
suci dari Allah SWT kepada Muhammad saw, melainkan merupakan produk
budaya (muntaj tsaqafi) sebagaimana yang digulirkan oleh Nasr
Hamid Abu Zaid. Metode tafsir yang digunakan adalah hermeneutika,
karena metode tafsir konvensional dianggap sudah tidak sesuai dengan
zaman.”

Buku-buku
Abu Zayd memang sudah banyak yang diterjemahkan di Indonesia. Dalam
salah satu buku terjemahan karya Abu Zayd berjudul ”Hermeneutika
Inklusif” terbitan ICIP, Nash Hamid Abu Zayd dimasukkan ke dalam
ketegori ”pemikir pemberontak” (dissident Muslim thinkers).
Tetapi, ditulis di sini, bahwa ”Julukan pemikir pemberontak ini tidak
dimaksudkan sebagai julukan yang negatif, akan tetapi ditujukan untuk
menamai sebagian kelompok pemikir Islam yang memiliki pemikiran
terobosan dan cenderung melakukan reformasi terhadap status quo
pemikiran Islam. Corak pemikiran seperti itu, tidak hanya dibutuhkan
pada masa transisi, akan tetapi juga sangat dibutuhkan pada masa
stabil.”

Itulah
penghormatan terhadap Abu Zayd yang dilakukan oleh sebuah lembaga
penyebar paham Pluralisme Agama pimpinan Dr. Syafii Anwar tersebut.
Salah satu pemuja Abu Zayd yang terkenal adalah Rektor Uin Yogya, Prof.
Dr. Amin Abdullah. Itu bisa dilihat dalam bukunya yang berjudul
”Islamic Studies di Perguruan Tinggi” (2006). Kini, berbagai kampus di
Indonesia memang sudah mulai dijejali dengan pemuja Abu Zayd. Bahkan,
pendapat-pendapatnya sudah mulai diekspose melalui media massa.

Sejumlah
murid kesayangan Abu Zayd pun sudah menduduki pos-pos terhormat sebagai
dosen-dosen ilmu Al-Quran di UIN Jakarta dan UIN Yogya. Mereka leluasa
mendiktekan pemikirannya kepada para mahasiswa, dan bahkan berwenang
menyusun kurikulum dalam studi Al-Quran yang sejalan dengan pemikiran
Abu Zayd. Kaum Muslimin di Indonesia, banyak yang tidak menyadari
masalah besar ini dan membiarkan anak-anaknya dicekoki paham Abu Zayd.

Penulis
buku ini, Henri Shalahuddin, yang merupakan alumnus pesantren Gontor
Ponorogo dan kini aktif sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah
Mohammad Natsir Jakarta, berhasil membongkar kekeliruan pemikiran Abu
Zayd dan menyimpulkan, bahwa yang dilakukan Abu Zayd beserta para
pemujanya di lingkungan UIN/IAIN lebih merupakan hujatan terhadap
Al-Quran, bukan merupakan kajian ilmiah yang ikhlas dan serius. Karena
itulah, dia tidak ragu-ragu untuk menyatakan, bahwa apa yang dilakukan
Abu Zayd dan para pemujanya adalah sebuah upaya mengujat dan merusak
Al-Quran.

Menurut
penulis buku ini, dewasa ini, Al-Quran dihujat tidak hanya secara
fisik, tapi juga melalui penyelewengan konsep wahyu dan metodologi
tafsir. Penghujatan Al-Quran yang saat ini marak dilakukan bukan dengan
membuang mushaf ke toilet, atau menginjak dan membakarnya di depan kaum
Muslimin. Penghujatan Al-Quran non-fisik, dilakukan dengan menggunakan
‘metode ilmiah’ yang tidak mudah dipahami dan disadari oleh kebanyakan
kaum Muslimin. Sebab, banyak di antara pelakunya adalah cendekiawan
dengan titel professor, doktor maupun rektor, sehingga banyak yang
kemungkinan mudah tertipu dan menyangkanya sebagai suatu kebenaran
ilmiah.

Dan
Prof. Dr. Nasr Hamid Abu Zayd adalah salah satu garda terdepan
penghujat Al-Quran saat ini. Tokoh liberal kenamaan asal Mesir ini
kabur dari negaranya, setelah pengajuan kepangkatan gelar proffesor
ditolak, karya-karyanya dinilai tidak bermutu dan bahkan cenderung
melecehkan ajaran Islam, Rasulullah saw dan Imam Syafii. Menyusul
setelah itu, vonis mahkamah yang memutuskan bahwa dirinya telah murtad.
Dia pun kabur ke Belanda dan di sana memperoleh penghargaan layaknya
seorang pahlawan.

Di samping memandang Al-Quran sebagai produk budaya, Abu Zayd juga memposisikan Al-Quran sebatas teks manusiawi (nash insani), teks linguistik (nass lughawi) dan fenomena sejarah (zhahirah tarikhiyyah).
Sebagai teks linguistik, misalnya, Abu Zayd mengklaim bahwa Al-Quran
terpengaruh oleh tradisi dan budaya Arab pra-Islam. Sebab baginya,
dengan menggunakan bahasa Arab, berarti wahyu tidak turun ditempat yg
hampa. Ibarat kata pepatah, bahwa bahasa menunjukkan budaya, maka
demikian halnya dengan Al-Quran.

Sebagai
teks manusiawi, kata dia, kebenaran Al-Quran yang bersifat mutlak hanya
berada di lauhul mahfuzh. Namun kebenaran yang mutlak tersebut menjadi
relatif ketika masuk dan berinteraksi dengan akal pikiran manusia.
Dengan demikian, seorang Muslim tidak boleh mengklaim bahwa
pemahamannya terhadap Al-Quran lebih benar dari orang lain, atau bahwa
pemahamannya sudah sesuai dengan apa yang dimaui oleh Tuhan. Karena
manusia adalah relatif, maka kebenaran yang dicapainya pun juga
relatif. Sehingga Abu Zayd mengkategorikan orang yang mengatakan bahwa
kebenaran Al-Quran yang dia pahami adalah absolut, berarti telah
menyamakan dirinya dengan Tuhan.

Ide
Abu Zayd tentang teks manusiawi ini, –di samping ide-idenya yang
lain–, banyak diminati dan dipropagandakan oleh para tokoh-tokoh Islam
yang menganut pada paham relativisme kebenaran. Sebuah paham yang
mendasari aliran-aliran liberalisme, sekularisme, feminisme dan
pluralisme agama.

Sebagai
teks manusiawi dan teks linguistik sekaligus, Abu Zayd mendudukkan
Al-Quran sama seperti Bibel yang semua isi ajarannya tidak harus
diterapkan. ”According to Christian doctrine, not everything that
Jesus said was said as the Son of God. Sometimes Jesus behaved just as
a man
.” (Abu Zayd, Voice of an Exile: 174-5).

Sehingga
tidak aneh, jika Abu Zayd lalu menggugat pengharaman homoseksual dan
mengecam keras orang yang masih menganggapnya sebagai prilaku
menyimpang (voice. hal 89). Karena menurutnya, haramnya homoseksual
lebih karena konteks lokalitas budaya. Sehingga, di bukunya yang lain, al-Imam al-Syafi‘i wa Ta’sis al-Aidiyulujiyyah al-Wasathiyyah,
dia menyeru umat Islam untuk meninggalkan Al-Quran dan Hadits, karena
dianggapnya telah memasung kebebasan akal manusia (hal.146)

Tidak
puas menghujat Al-Quran, Abu Zayd juga menghujat para ulama yang
menjunjung tinggi kewahyuan Al-Quran. Di antara ulama yang dijadikan
sasaran hujatannya itu adalah Imam Syafi’i. Beliau dituduh sebagai
ulama oportunis yang suka bekerjasama dengan penguasa demi mendapatkan
dunia. Beliau juga dituduh telah mengangkat kedudukan hadits, sehingga
menjadi kitab nomor dua setelah Al-Quran di mata kaum Muslimin. Lebih
dari itu, Imam Syafi’i juga dituduh menyebarkan hegemoni suku Quraisy
atas suku-suku Arab lainnya dalam agama Islam, terkait dengan pandangan
beliau tentang bahasa Arab Al-Quran.

Dengan
keberanian Abu Zayd dalam menghujat Al-Quran dan Imam Syafii, jangan
heran, jika kaum liberal di Indonesia pun menyambut pendapat Abu Zayd
dengan gegap gempita dan menganggapnya sebagai tokoh hebat. Selain di
ruang-ruang kuliah di bangku UIN/IAIN/STAIN dan sebagainya, para
penganut dan pemuja Abu Zayd pun sudah berani secara terbuka menghujat
Al-Quran melalui media
massa. Koran Tempo, (4/5/2007) menurunkan sebuah artikel berjudul ”Pewahyuan Al-Quran: Antara Budaya dan Sejarah”, yang memaparkan bahwa Al-Quran adalah karya bersama antara Allah, Roh Kudus dan Muhammad.

Sebelumnya,
telah berjubel artikel, buku, makalah seminar dan sebagainya yang
cenderung menghujat Al-Quran. Ternyata jika diteliti, ujung-ujungnya,
yang dijadikan rujukan para penghujat Al-Quran itu adalah Abu Zayd.
Bahkan, saat Abu Zayd berkunjung ke Indonesia, di antara aktivis
liberal di Indonesia, ada yang begitu memujanya, sampai-sampai
menuliskan kekagumannya tentang selera makan Abu Zayd dan cara memilih
toilet. (Lihat, buku ”Al-Quran Dihujat”, hal 96). Sebuah alasan yang
tidak seharusnya dilakukan oleh kalangan yang mengidentitaskan dirinya
dengan sikap rasional dan keterbukaan.

Bahaya
terbesar dari penghujatan Al-Quran non-fisik adalah menyesatkan akal
pikiran umat Islam yang hendak kembali pada ajaran Al-Quran dan Hadits
secara benar. Sebab konsep wahyu Al-Quran yang bersifat final dan
universal untuk segala tempat dan zaman akan digeser dengan konsep
evolusi Darwin. Dengan itu, kebenaran Al-Quran hanya bersifat temporal
dan lokal, khusus untuk suatu masa, bangsa dan tempat tertentu. Begitu
juga, hukum-hukum Islam akan dinilai sebagai hukum yang bersifat
temporal dan spatial, hanya berlaku untuk kurun waktu dan tempat
tertentu. Maka, mereka rajin membuat perbedaan, bahwa ajaran dan
hukum-hukum Islam harus ditinjau ulang sesuai dengan perkembangan zaman.

Abu
Zayd juga seorang hermeneut, yaitu pengguna hermeneutika untuk
menafsirkan Al-Quran. Metodologi tafsir Al-Quran yang telah
dikembangkan oleh para ulama berwibawa yang memperhatikan segala aspek
dalam memahami Al-Quran digusur dengan metodologi hermeneutika produk
Yahudi dan Kristen. Padahal, metode tafsir Al-Quran jauh lebih ilmiah,
dibanding teori interpretasi hermeneutika yang tengah dikembangkan
neo-orientalis di berbagai perguruan tinggi di Indonesia saat ini.
Inilah sesungguhnya salah satu tantangan kontemporer yang terbesar yang
dihadapi umat Islam Indonesia dewasa ini.

Umat
Islam saat ini memerlukan puluhan ribu hujjatul Islam, syeikul Islam
dan generasi Al-Quran yang memperjuangkan ajaran Islam secara kafah
dalam menghadapi perongrongan global akidah dan syariat Islam.
Berkenaan dengan ilmu pengetahuan, dalam bab tanda-tanda ulama baik dan
ulama jahat, Imam Ghazali dalam bukunya, Ihya ’Ulumiddin dan Abu Thalib al-Makki, dalam bukunya, Qut al-Qulub, menjelaskan ragam golongan manusia dengan menukil pendapat Al-Khalil ibn Ahmad yang mengatakan:

"Manusia
itu empat golongan: 1) orang yang tahu, sedang dirinya tahu (menyadari)
bahwa dirinya tahu, dia itulah si cerdik pandai (‘alim), maka
ikutilah dia. 2) orang yang tahu, sedang dirinya tidak tahu (tidak
menyadari) kalau dirinya tahu, dia itu ibarat orang yang tidur, maka
bangunkanlah ia. 3) orang yang tidak tahu, sedangkan dia tahu bahwa
dirinya tidak tahu, dialah si pencari pentunjuk (mustarsyid),
maka berilah dia petunjuk (bimbingan). 4) orang yang tidak tahu,
sedangkan dia tidak tahu kalau dirinya tidak tahu, itulah orang jahil, maka tolaklah (hindarilah, abaikanlah, atau sangkallah) ia.

Mengembalikan
kejayaan Islam, harus dimulai dari pembangunan budaya ilmu. Adalah
sangat celaka jika ilmu-ilmu agama telah dirusak oleh orang-orang yang
menduduki posisi-posisi terhormat sebagai dosen-dosen bidang Al-Quran
di lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam. Kita patut meratapi nasib
mahasiswa-mahasiswa Islam yang kini menimba ilmu-ilmu keislaman di
berbagai kampus berlabel Islam, karena dipaksa mengikuti
pemikiran-pemikiran yang merusak keyakinan mereka sebagai Muslim.
Al-Quran yang dipahami oleh umat Islam sebagai wahyu Allah yang suci
dihujat oleh agen-agen neo-orientalis seperti Abu Zayd dan para anak
buahnya di Indonesia. Sementara itu, pemerintah dan pimpinan kampus
mendiamkan saja masalah ini.

Maka,
kita tidak perlu heran, jika setiap tahun ribuan orang belajar di
fakultas ushuluddin dan fakultas syariah, tetapi justru dari situ pula
muncul sejumlah orang yang aktif menolak aqidah dan syariah Islam.
Dalam bukunya ini, Henri Shalahuddin telah membuka mata kita akan satu
tantangan yang sangat besar yang dihadapi oleh umat Islam. Dia pun
memberikan jawaban-jawaban yang jitu yang menunjukkan dimana kelemahan
pendapat Abu Zayd dan pemujanya di lingkungan UIN/IAIN saat ini. Semoga
buku ini memberi manfaat besar dalam pengembangan studi pemikiran dan
peradaban Islam di Indonesia. Juga, semoga para pemuja Abu Zayd
bertobat dari kekeliruannya dan menghentikan aksi-aksinya dalam
menghujat Al-Quran. Tugas kita hanyalah mengingatkan. Masing-masing
kita bertanggung jawab atas amal kita masing-masing. [Depok, 11 Mei
2007/www.hidayatullah.com]

Tahukah Anda???

March 8th, 2007 by feliaja

TAHUKAH ANDA?
Zionis-Yahudi Berlomba Tanami Pohon Ghorqod di Tanah Palestina

Kamis, 8 Mar 07 13:51 WIB

Ghorqod

Washington Post edisi April 1984 memuat satu artikel tentang pertemuan Presiden AS Ronald Reagan dengan seorang pelobi senior Yahudi dari American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) bernama Tom Dine. Pertemuan itu berlangsung secara pribadi.

Kepada Tom Dine, mantan Gubernur Negara Bagian California ini dengan serius berkata, “Anda tahu, saya berpaling kepada nabi-nabi kuno Perjanjian Lama dan kepada tanda-tanda yang meramalkan Perang Armageddon. Saya sendiri jadi bertanya-tanya, apakah kita ini akan melihat semuanya itu terpenuhi. Saya tidak tahu. Apakah Anda belakangan ini juga telah memperhatikan nubuat-nubuat para nabi itu… akan tetapi, percayalah kepada saya, bahwa nubuat-nubuat itu menggambarkan masa-masa yang sekarang ini sedang kita jalani. ” Tom Dine tersenyum dan mengangguk pelan.

Presiden Reagan merupakan presiden Amerika Serikat pertama yang memulai suatu tradisi baru dalam protokoler Gedung Putih, di mana kebaktian, seminar keagamaan, dan pertemuan-pertemuan dengan sejumlah tokoh gereja evangelikal Amerika sering diadakan. Di masa Reagan-lah paham Zionis-Kristen masuk dalam lingkaran elit pemerintahan Amerika. Seluruh kebijakan, terutama kebijakan Amerika di luar negeri khususnya untuk wilayah Timur Tengah, sangat kental bernuansa Zionis.

Penerus Reagan, George H. W. Bush, William J. Clinton, dan George W. Bush, merupakan orang-orang yang sangat yakin tentang nubuat-nubuat (janji-janji atau ramalan-ramalan) Tuhan seperti yang tercantum di dalam Injil Darby atau Scofield, Injil resmi Amerika. Menurut keyakinan mereka, abad millennium merupakan zaman akhir di mana suatu ketika akan terjadi Peperangan Besar Terakhir (Armageddon) yang melibatkan seluruh dunia, antara Tentara Tuhan melawan Pasukan Iblis. Kristus akan mengalahkan Anti-Christ. Dan setelah itu dunia akan menjadi damai dan sejahtera hingga datangnya hari penghabisan.

Sebab itu, dilandasi kepercayaan akan hari akhir seperti yang dinubuatkan dalam Injil Darby, para presiden Amerika bekerja dengan sekuat tenaga untuk melapangkan jalan bagi suatu hari di mana akan datang Kristus yang kedua kalinya. Karena menurut kepercayaan mereka Kristus akan turun di tanah Palestina, maka mereka berupaya untuk menguasai Tanah Palestina sepenuhnya dan memberikannya kepada orang-orang Yahudi.

Kaum Zionis, apakah mereka yang berada di Tanah Palestina maupun yang tersebar di Amerika dan Eropa, sangat yakin bahwa era millenium ketiga ini merupakan pintu gerbang pada akhir zaman. Entah sengaja atau tidak, kasus WTC 911, di mana Menara Kembar WTC yang dilihat dari jauh bagaikan sebuah gerbang, diruntuhkan, maka seakan terbukalah suatu era baru bagi keyakinan ini. Segala daya upaya mereka lakukan guna menghadapi datangnya Messiah yang mereka yakini akan memimpin mereka dari Kuil Sulaiman untuk menaklukkan dunia.

Namun ada satu anomali yang secara diametral bertentangan dengan keyakinan mereka ini. Di satu sisi mereka mengaku sangat yakin akan bisa mengalahkan seluruh umat manusia, wabilkhusus umat Islam, dan menjadi pemimpin dunia, namun di sisi lain mereka juga berlomba-lomba menanami Tanah Palestina yang mereka duduki secara tidak sah, dengan pohon ghorqod (nama latin: Nitraria retusa).

Ada sebuah hadits shahih tentang hari akhir mengenai pohon ini: "Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon berkata: Hai Muslim! Hai hamba Allah! Ini Yahudi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon ghorqod, maka itu adalah dari pohon-pohonnya orang Yahudi. " (HR Muslim VII/188, Bukhari IV/51, Lu’lu’ wa al-Marjan III/308)

Melihat ulah para Zionis-Yahudi yang berlomba-lomba menanami Tanah Palestina dengan pohon Ghorqod, maka kenyataan ini menjelaskan kepada kita bahwa kaum Yahudi itu sesungguhnya memahami hakikat hari akhir, di mana mereka akan dikejar-kejar oleh umat Islam dan hanya pohon Ghorqod-lah satu-satunya tempat yang bersedia dipakai guna tempat persembunyian kaum Yahudi.

Proyek Internasional Ghorqod

Tidak diketahui secara pasti kapan kaum Zionis-Israel menanami Tanah Palestina dengan pohon Ghorqod. Hanya saja, melalui website Jewish National Fund (www.jnf. Org), di bagian JNF Store (Tress for Israel Certificate), disebutkan bahwa di Tanah Palestina telah ditanami sebanyak 220 juta batang pohon Ghorqod.
Garqad2
Uniknya, dengan serius dan profesional, kaum Zionis juga mengiklankan di dalam situs tersebut bahwa siapa saja bisa membeli pohon Ghorqod secara online dan kemudian menyumbangkannya ke Israel untuk ditanami di Tanah Palestina. Harga sebatang pohon tersebut sebesar US$18, dan barangsiapa yang membeli tiga batang seharga US$36 akan mendapat satu batang gratis.

Bukan itu saja, pengepakkannya pun pembeli bisa memilih dengan memakai plastik (dikenai tambahan biaya US$10 perbatang) atau dengan peti kayu (US$50 perbatang). Dan untuk waktu pengirimannya, pembeli bisa memilih antara yang super cepat (US$30 perbatang, dijamin sampai di Tanah Palestina hanya dalam waktu 2 hari), cepat (US$15 perbatang dengan waktu 3 hari), dan reguler (tidak disebutkan). Untuk keterangan lebih lanjut, mereka juga menyediakan sebuah nomor hubungan internasional (888) JNF-0099 dan 1-800-542-TREE. Hanya mata uang dollar AS yang diterima sebagai pembayaran yang sah.

Pertanyaannya kemudian, adakah orang Indonesia yang sudah memesan pohon ini untuk ditanam di Tanah Palestina?(Rz)

Sumber

Pencerahan

March 4th, 2007 by feliaja

Antara
Zagreb dan Sarajevo: Islam dan Demokrasi

 

KETIKA ke Bosnia-Herzegovina untuk kedua kali pada 1994,
saya bertemu seorang pengusaha dari Swedia. Kami cepat menjadi akrab karena
bersama menyewa mobil dan bergantian menyetir untuk perjalanan darat dari
Zagreb ke Sarajevo–di tengah musim salju yang menyengat, dan kemacetan panjang
kendaraan pengungsi yang ingin pulang setelah perang mereda.

 

Salah satu yang paling saya ingat dari dia adalah perdebatan
kami soal perempuan dalam Islam. Perdebatan itu saya ingat betul karena
mengandung paradoks dan ironi.

 

Dia mengaku seorang "non-practising Mormon".
Hampir sepanjang perjalanan itu dia bercerita bangga tentang petualangan
seksnya dengan banyak perempuan, yang membuat saya iri…. Namun, dia menolak
poligami dan mengecam penindasan perempuan dalam Islam.

 

Dia agak terkejut ketika menanyakan agama saya dan saya
jawab "Islam". Mungkin dia mengira hanya orang Arab yang beragama
Islam. "Lebih banyak Muslim di Indonesia ketimbang di Arab Saudi,"
kata saya.

 

"Apakah istri Anda memakai veil (jilbab) seperti
perempuan di Bosnia sini?" tanya dia.

 

Jilbab sebenarnya bukan fenomena baru di Balkan dan tidak
khas Islam. Terutama di kalangan generasi tua, kerudung dipakai secara
tradisional tidak hanya perempuan Islam, tapi juga orang Kroasia yang Katolik
dan orang Serbia yang Kristen Ortodoks. Namun, kekejaman perang di Bosnia
justru menyadarkan sebagian orang Islam untuk memperkuat identitas agamanya.
Jilbab akhirnya juga dipakai oleh generasi muda perempuan di sana, yang selama
ini cenderung mengambil mode pakaian Eropa.

 

Saya jawab pertanyaan itu: "Ya. Istri saya memakai
jilbab". Dan dia bertambah terkesima. Dia memandang saya dengan mata
menyelidik seperti tidak percaya. Sebentar tercenung, dia mengatakan:
"Saya sedih dan kasihan tentang nasib perempuan Islam."

 

Pembicaraan seperti ini sebenarnya mengesalkan. Meski saya
banyak membaca tentang betapa kurang tahunya orang Eropa terhadap Islam, dan
karenanya saya bisa menoleransi kesalahpahaman, saya tersentak oleh ignoransi
dan prasangka yang begitu kental di kalangan orang Eropa terhadap dunia luar
dan khususnya terhadap Islam.

 

Saya merasa seperti tertuduh. Teman saya ini mungkin
beranggapan semua lelaki Islam suka menindas perempuannya, mengerangkeng
istrinya di rumah seraya di luar rumah dia bisa mencari banyak perempuan untuk
bisa dikawini, bahkan gadis-gadis di bawah umur. Dia juga menganggap
hijab/jilbab sebagai simbol keterbelengguan perempuan Islam.

 

Anggapan dasar itulah yang antara lain mengilhami Barat
untuk menunaikan "missi suci" membebaskan perempuan dari agama yang
terbelakang seperti Islam. Ada sejumlah argumen di Amerika bahwa agresi Amerika
ke Irak dan Afghanistan bisa dibenarkan dalam konteks membebaskan perempuan
dari keterbelakangan Islam.

 

Namun, mereka tidak belajar dari sejarah kolonialisme,
ketika "missi suci" itu, yang kini dipoles dengan selubung
"demokrasi dan penegakan HAM", sebenarnya merupakan dalih untuk
eksploitasi ekonomi belaka.

 

Saya bukannya tak setuju pada demokrasi dan penghormatan hak
asasi. Tapi, banyak pidato demokrasi dan HAM itu belakangan ini sebenarnya
hanya lip-service belaka.

 

"Missi suci" George Bush untuk menciptakan
"demokrasi" di Afghanistan dan Irak, misalnya, justru telah
menyengsarakan perempuan di kedua negeri itu, lebih dari yang bisa ditanggung
di zaman Saddam Hussein dan Taliban.

 

Kembali ke perbincangan di Bosnia itu, saya bilang pada
teman Swedia saya. "Anda benar." Ada banyak perempuan yang menderita
di bawah Islam, terutama di Saudi Arabia–negeri Islam fundamentalis yang
justru paling pro-Barat, khususnya Amerika. Tapi, kata saya, "Anda bisa
melihat gambaran yang berbeda di luar Saudi."

 

Negeri-negeri Muslim seperti Turki, Pakistan, Bangladesh dan
Indonesia pernah memiliki perdana menteri atau presiden perempuan. Di Iran,
perempuan menduduki jabatan-jabatan penting di parlemen.

 

Pernahkah Amerika, negeri yang mengaku paling
"demokratis dan menghormati HAM", memiliki presiden perempuan?

 

Betapa ironis ketika Eropa atau Amerika bicara tentang
perempuan Islam dan Timur.

 

Di Pakistan, Amerika mendukung jenderal diktator yang
mengkudeta Perdana Menteri Benazir Buttho, seorang perempuan lulusan Oxford
University. Atau, Barat diam saja menyaksikan militer Myanmar memberangus Aung
San Su Kyi, lulusan Oxford yang lain, sampai sekarang.

 

Pernahkah ada rencana George Bush atau Tony Blair menyerbu
Myanmar untuk membebaskan perempuan di sana? Myanmar tidak punya minyak seperti
Irak atau Afghanistan, dan tidak sama strategisnya dengan Saudi untuk
ditundukkan, itulah soalnya!

 

Banyaknya perempuan di negeri Islam yang menduduki jabatan
tinggi tidak otomatis mencerminkan tiadanya penindasan perempuan. Tapi, saya
bilang pada teman saya, "ada terlalu banyak fantasi, ketimbang realitas,
ketika orang Barat bicara soal penindasan perempuan di Timur."

 

"Istri saya seorang dokter," kata saya. "Dia
punya pendidikan lebih tinggi ketimbang saya dan saya tidak pernah mengurungnya
dalam rumah." Hal seperti itu, kata saya, berlaku umum dalam masyarakat
Islam di Indonesia. "Ibu saya, seorang guru Sekolah Dasar, yang mengajari
saya kesukaan akan membaca sastra, tidak pernah enggan mendebat argumen
suaminya."

 

Saya bilang pada teman Swedia tadi, saya tidak rajin membuka
Qur’an, tapi saya tahu pesan esensial Kitab Suci ini tidak pernah melihat
perempuan lebih rendah dari lelaki. Qur’an memang memperlakukan perempuan dan
lelaki secara berbeda, dan untuk banyak hal sering dipakai sebagai dalih lelaki
menindas perempuan, suatu hal yang menyedihkan dan suatu hal yang harus
senantiasa dikritik.

 

Tapi, bahkan tanpa membaca Qur’an saya bisa mengatakan
lelaki dan perempuan memang berbeda, baik secara biologis maupun prioritas
perannya secara sosial.

 

Mungkin ada banyak perempuan yang tidak ingin
"dilindungi" dan "dibedakan", dua kata yang secara gender
sering dianggap sebagai pelecehan. "Perempuan sama kuatnya dengan
lelaki," kata kaum feminis. Jika begitu bolehkah saya menyarankan
perempuan yang mengatakan hal itu pergi ke Kompleks Pasar Tanah Abang, Jakarta,
berkaos oblong ketat pada tengah malam, sendirian!

 

"Bagaimana dengan poligami dalam Islam?" kata
teman saya tadi. "Tidakkah itu bentuk penindasan?"

 

Saya bilang, ada banyak penafsiran baru tentang poligami ini
di kalangan orang Islam yang beragam mazhab. "Namun, bahkan di kalangan
yang setuju, praktek poligami dalam Islam tidak seluas seperti yang dibayangkan
orang. Dan karena poligami bukan merupakan kewajiban, monogami tidak dianggap
berdosa dalam Islam."

 

Ketika menjawab ini, saya teringat perdebatan antara
Mohammad Natsir (pendukung Syariah) dengan Bung Karno (nasionalis sekuler).
Meski menyetujui poligami, setahu saya, Natsir tidak pernah mempraktekannya.
Sebaliknya, Bung Karno beristri banyak meski tidak setuju Syariah.

 

Perbincangan Zagreb-Sarajevo itu menyadarkan saya perlunya
pengalaman empiris dalam masyarakat Islam lebih banyak dibahas ketimbang kita
hanya sekadar memperdebatkan konsep atau dogma, baik pro-Syariah maupun
anti-Syariah, baik pro maupun anti-poligami.

 

Realitas tidak pernah hitam-putih, dan selalu menyediakan
ruang untuk kompromi dalam konotasi positif, atau sebaliknya, hipokrisi di
kedua pihak.

sumber

Indonesia & Brunei Darussalam

February 28th, 2007 by feliaja

PELAJARAN DARI BRUNEI MERDEKA 

Kamis, 01 Maret 2007

Brunei Negara kecil kaya karena minyak. Kekurangannya, kurang daya juang. Tapi Tetapi proklamasi kemerdekaannya adalah proklamasi aqidah. Bandingkan dengan Indonesia

oleh Dzikrullah

Hari Jum’at dan Sabtu pekan lalu, Brunei Darussalam merayakan Hari Kebangsaannya. Ada beberapa catatan yang menarik untuk kita cermati.

Tepat tengah malam itu, 23 tahun lalu, dalam detik-detik pergantian waktu dari 31 Desember 1983 menuju 1 Januari 1984, ribuan rakyat yang berkumpul sejak maghrib basah kuyup disiram hujan deras.

(Entah mengapa, meski diproklamasikan tanggal 1 Januari 1984, Brunei selalu merayakan Hari Kebangsaannya setiap 23 Pebruari. Tapi yang ini lebih penting..)

Mereka berkumpul di Masjid Omar Ali Saifuddin dan di lapangan seberangnya, Taman Haji Sir Muda Omar ‘Ali Saifuddien. Mereka sudah menunaikan shalat maghrib berjama’ah. Para ulamanya memimpin mereka memanjatkan doa syukur kepada Allah Ta’ala dan shalat ‘Isya berjama’ah. Sesudah diguyur hujan, ribuan rakyat yang kegembiraannya meluap-luap itu masih bertahan.

Tak ada teriakan “merdeka!”. Tak ada penurunan bendera Union Jack, seperti di Hong Kong 1997, walaupun negeri ini berada di bawah the British Empire selama 96 tahun. Rakyat Brunei tak pernah mau menyebut dirinya “dijajah”.

Yang ada gemuruh “Allaahu Akbar! Allaahu Akbar! Allaahu Akbar!” diteriakkan ribuan manusia menggelegar di langit negeri yang baru lahir kembali itu, Brunei Darussalam. Nama itu tertulis di Al-Qur’an surah Yunus ayat 25:

“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).”

Rakyat menyambut teriakan pemimpin mereka, Sultan Haji Hassanal Bolkiah, yang memproklamasikan kepada seluruh warga dunia bahwa negeri ini sudah merdeka. Ini petikan proklamasinya:

“…Brunei Darussalam dengan berkah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selamanya menjadi Kerajaan Muslim Melayu yang berdaulat, demokratik, dan merdeka berdasarkan ajaran-ajaran Islam, kebebasan, kepercayaan dan keadilan…”

Modal aqidah

Berapa banyak negara yang memproklamasikan kemerdekaannya dengan meneriakkan takbir tiga kali, dipimpin langsung oleh rajanya? Kalaupun ada, maka diantara daftar yang sangat pendek itu, sudah pasti Brunei salah satunya –kalau bukan satu-satunya.

Bangsa berpenduduk sangat kecil yang sangat kaya minyak ini tidak mengagung-agungkan Inggris yang telah menguasainya selama hampir satu abad, yang kemudian melepaskannya. Bangsa ini mengagungkan Allah, karena yakin, pemilik sah tanah, hutan, udara, laut dan seluruh kekayaan isinya di negeri ini adalah Allah Yang Maha Berkuasa.

Brunei mungkin masih banyak kekurangan dan kelemahannya. Orang Brunei sendiri mengakuinya. “Manja karena minyak, kurang inisiatif dan daya juang, kurang kreatif, kurang berani ambil risiko, banyak yang hidup berlebihan,” adalah sebagian otokritik yang mereka sampaikan sendiri.

Tetapi, proklamasi kemerdekaan Brunei adalah proklamasi kemerdekaan aqidah, yang meyakini keselamatan bangsa ini hanya akan dicapai jika aqidahnya suci dan ibadahnya benar. Ini modal besar.

Dengan modal awal aqidah yang suci, bangsa ini mudah-mudahan tidak akan pernah takut, meskipun minyak dan gas bumi akan kering dalam beberapa generasi ke depan. Beberapa penelitian menyebut, Brunei termasuk negara produser minyak yang “sudah melewati puncaknya”. Aqidah yang suci akan menjadikan sebuah negeri tandus berisi pasir dan batu menjadi negeri termakmur di seantero dunia.

Lihatlah negeri Makkah Al-Mukarramah. Ketika Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam meninggalkan isterinya Siti Hajar dan bayinya Ismail, tempat itu bernama lembah Baka’, lembah kematian, karena tak ada satupun makhluk yang hidup di situ, tidak juga selembar rumput.

Karena aqidah yang benar dan ketaatan yang tanpa reserve kepada Allah Pemilik tanah Mekah dan seluruh bumi, Nabi Ibrahim tidak berdoa minta agar negeri itu menjadi makmur dan kaya, tetapi doanya, “Ya Allah, jadikanlah aku dan keturunanku semuanya sebagai orang-orang yang mendirikan shalat.”

Apa hasilnya? Belasan juta orang setiap tahun mendatangi Makkah untuk beribadah. Lebih dari itu, Makkah yang kini resminya menjadi bagian dari negeri bernama Arab Saudi merupakan negeri terkaya di dunia karena minyak dan gas buminya, sejak tahun 1930-an.

Persoalan bangsa manapun di dunia ini bukanlah kondisi kaya atau miskinnya. Seperti Brunei atau Etiopia. Persoalan utamanya adalah apakah suatu bangsa akan selamat di dunia dan Akhirat di mata Allah Pemilik Jagat Raya ini, pemilik ruh-ruh kita.

Planologi Nabi Ibrahim adalah contoh terbaik. Pondasi bagi master plan pembangunan sebuah negara adalah aqidah yang benar. Sebelum anggaran keuangan dan infrastruktur fisik, harus dipastikan bahwa aqidah bangsa ini selalu menyeru penduduknya untuk taat dan hanya menyembah Allah saja, 24 jam sehari 7 hari seminggu, di semua bidang kehidupan.

Kepada mereka yang kafir, menolak kebenaran aqidah ini, sama sekali tidak akan dipaksa untuk menjadi Muslim. Allah melarang pemaksaan seperti itu. Bahkan Islam mencontohkan di Madinah, di Damaskus, di Yerusalem, di Baghdad dan di mana-mana bahwa para khalifah, sultan, gubernur dan panglima perang Islam menjaga, melindungi dan menjamin keadilan orang-orang yang memilih keyakinan yang berbeda, selama mereka tidak melakukan kekacauan atau memerangi umat Islam.

Bagaimana Indonesia?

Bandingkan Brunei Darussalam dengan negara tetangganya yang jauh lebih besar, Indonesia. Selama 350 tahun dijajah, darah dan nyawa para mujahidin membasahi sejarah jihad bangsa ini. Takbir-takbir para pejuang Indonesia jauh lebih patriotik menggelegar. Namun, ironisnya, Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tidak menyebut satu kalipun nama Allah, pemilik sah tanah, air dan udara di negeri ini.

Naskah “Piagam Jakarta” yang sudah disiapkan berbulan-bulan oleh BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), dan sedianya disiapkan untuk naskah proklamasi dinyatakan “lupa dibawa” ke rumah Laksamana Maeda. Walhasil, naskah proklamasi baru dioret-oret. Pengakuan atas kebesaran Allah tidak disebut sama sekali.

Tidak berhenti sampai di situ. Bangsa yang baru merdeka ini, di hari kedua (18 Agustus 1945) sudah membatalkan syahadatnya sebagai bangsa Muslim, untuk kedua kalinya. Soalnya, Bung Hatta konon didatangi opsir Jepang, yang menyampaikan bahwa para tokoh Kristen dari Indonesia Timur menyatakan akan memisahkan diri dari republik baru ini.

Yang bisa mencegah, hanya bila tujuh kata dalam Piagam Jakarta (yang menjadi mukaddimah pembukaan konstitusi), dihapus. Ketujuh kata itu adalah sambungan dari sila pertama dasar negara “Ketuhanan yang Mahaesa.., dengan kewajiban bagi ummat Islam melaksanakan syariatnya.”

Sebuah disertasi doktor bidang sejarah di Universitas Indonesia menemukan fakta, bahwa tidak ada satu opsir Jepang pun yang pernah menemui Bung Hatta sesudah Proklamasi.

Apakah Jin Jepang atau Opsir Jepang yang pernah menemui Bung Hatta, yang pasti kesucian aqidah bangsa Indonesia sudah sukses dibatalkan.

Saya jadi teringat obrolan dengan Ustadz Abu Bakar Baasyir, di penjara Cipinang, sekitar sebulan sebelum beliau bebas, tahun lalu.

Beliau bilang begini, “Bangsa ini ndak akan pernah beres, karena kita selalu sia-sia membereskan segala urusan kalau pangkal urusan, yaitu aqidah bangsa ini, tidak dibersihkan.”

“Ibaratnya kita mau mandi di sungai, ya ndak akan pernah bersih badan kita. Lha wong di hulu sungai, di mata airnya, ada badak besar penuh lumpur dan buang air terus-terusan..”

“Kalau mau mandi sampai bersih, ya diusir dulu badaknya,” kata beliau.

Nah, kita sekarang mau ikut ambil bagian mengusir badak jorok itu, atau mau terus-menerus mandi di air yang mengandung kencing dan kotoran badak?

   * Penulis adalah kolumnis www.hidayatullah.com kini sedang menulis untuk The Brunei Times