Archive for January, 2007

Renungan

Saturday, January 27th, 2007

Renungan Akhir Tahun 2006

Oleh : Redaksi 22 Dec, 06 - 4:00 am
Hamba Mengerti - Ampuni kami Yaa Allah

Dari Ali bin Abi Thalib, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Bila Allah Azza wa Jalla murka kepada suatu kaum, maka kaum itu akan ditimpa adzab. Harga-harga barang menjadi mahal, kemakmurannya menjadi surut, perdagangannya tidak mendapatkan untung, hujan sangat jarang turun, sungai-sungainya tidak mengalir, dan penguasanya adalah orang-orang yang rusak akhlaknya." (Hadits Riwayat Dailami dan Ibnu Najjar).

Sepanjang tahun 2006 berbagai bencana alam menerpa bangsa Indonesia. Bencana alam adalah sebuah pesan, bahasa yang sederhana dan jujur, yang seharusnya kita pahami maknanya.

Ketika tsunami menghantam bumi Serambi Mekah, 26 Desember 2004, dua tahun lalu, lebih dari 200 ribu jiwa melayang. Kepedihan yang begitu menyayat hati belum sirna, di Jawa Barat pada 21 Februari 2005, muncul musibah yang menewaskan sekiar 100 jiwa akibat tertimpa longsoran sampah dengan volume satu juta meter kubik. Sebuah tragedi yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Kejadian di atas hanyalah dua di antara sejumlah rentetan musibah yang menimpa bangsa Indonesia, ketika rakyat Indonesia belum jauh dari kisaran 100 hari menikmati alam demokrasi pasca pilpres pertama yang dipilih langsung oleh rakyat.

Memasuki tahun 2006, sejumlah musibah datang silih berganti. Akhir Maret 2005, kawasan Nias yang pada Desember 2004 ikut dihempas tsunami, kali ini mengalami gempa yang kekuatannya terbesar dalam kurun waktu satu abad terakhir di lokasi yang sama, dan menelan ribuan jiwa.

Mei 2006, ketika masyarakat se Indonesia ketar-ketir dengan potensi musibah yang berasal dari Gunung Merapi, yang datang justru gempa. Gempa yang menghampiri Yogja-Jateng dan berskala 5.9 - 6.1 SR ini bukanlah kali pertama terjadi di kawasan Yogya. Pada tahun 1867, gempa serupa pernah terjadi mengakibatkan 372 rumah roboh, 5 orang meninggal. Pada tahun 1943, sekitar 2800 rumah hancur, 213 orang meninggal, 2096 orang luka-luka. Pada tahun 1981, dinding Hotel Ambarukmo retak-retak. Sedangkan pada tahun 2006, sekitar 6.234 orang meninggal, sekitar 50.000 orang luka-luka, dan 70.000 bangunan rusak/ambruk.
Allah_swt
Ketika perhatian dan kesedihan kita masih tertuju kepada musibah gempa Yogya-Jateng, pada saat yang bersamaan sebuah musibah lain di tempat yang tak berapa jauh dari Yogya mulai datang menjelang. Yaitu banjir lumpur Lapindo di Sidoardjo. Musibah lumpur panas yang menyembur sejak 29 Mei 2006 dari sumur Banjar Panji-1 milik PT Lapindo Brantas di desa Renokenongo, kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo provinsi Jawa Timur ini, hingga akhir tahun 2006 ini masih terus menyemburkan lumpur panasnya.

Ketika musibah lumpur Lapindo masih terus berlangsung, musibah lain hadir di Jawa Barat. Gempa berkekuatan 6,8 Skala Richter (SR) menghantam kawasan pantai Pangandaran pada hari Senin pukul 15.19 tanggal 17 Juli 2006. Gempa di Pangandaraan ini dibarengi dengan tsunami, sehingga meluluh-lantakkan bangunan di sekitar pantai.

Dari serentetan musibah yang terjadi sepanjang tahun 2006, musibah lumpur Lapindo merupakan musibah yang tak jelas kapan akan berakhir.

Ada apa dengan Sidoardjo?

Ternyata di Sidoardjo tidak saja ada Marsinah si pejuang buruh yang ketika itu (1993) berusia 24 tahun tewas dibunuh aparat karena membela kepentingan kawan-kawannya sesama buruh. Uniknya, kasus Marsinah juga terjadi pada bulan Mei, 13 tahun lalu (1993).

Selain ada Marsinah yang dianiaya, di Sidoardjo juga ada pabrik miras termasuk Vodka, yang baru ketahun setelah lumpur Lapindo menenggelamkan Sidoardjo. Selama ini masyarakat tidak menyadari keberadaan pabrik miras ini.

Barulah pada Agustus 2006, ketika sejumlah anak-anak menemukan botol miras di antara genangan lumpur, masyarakat baru tersadar, ternyata lingkungan mereka telah menjadi salah satu kawasan produsen minuman haram yang dilaknat Allah.

Dua bulan sebelum musibah lumpur Lapindo terjadi, pada hari Minggu tanggal 5 Maret 2006, di Sidoardjo berlangsung kompetisi aerobik yang digelar sejumlah lembaga swasta bekerja sama dengan Pemkab Sidoarjo, yang berlangsung di atrium GOR Delta Sidoarjo, dihadiri dan diresmikan oleh Bupati Win Hendrarso dan istrinya, Emy Sussanti. Para peserta kompetisi aerobik ini, mengenakan uniform yang nyaris telanjang, padahal penonton yang hadir berasal dari segala umur dan jenis kelamin. Kompetisi ini bebas ditonton siapa saja dan tidak dipungut biaya.

Ternyata selain ada Vodka dan kompetisi aerobik yang nyaris telanjang, di Sidoardjo juga ada Dr. Emy Sussanti aktivis perempuan yang rela dan ikhlas bila para wanita tampil nyaris telanjang di depan umum (padahal perbuatan itu dilaknat Allah), namun menolak konsep poligami yang dibenarkan syari’ah.

Emy Sussanti adalah aktivis gender dari Pusat Studi Wanita (PSW) UNAIR Surabaya, yang ketika wacana poligami mengemuka ia secara tegas menyatakan tidak setuju para suami untuk poligami. Sebab perilaku tersebut, menurutnya jelas akan bisa menimbulkan kekerasan psikis bagi sang istri. Sebagai istri Bupati, Emmy secara otomatis menjadi penasehat Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Sidoarjo.

Selain ada Dr Emy Sussanti, ternyata dari Sidoardjo muncul sebuah nama mesum yaitu Maria Eva, yang berzinah dengan Yahya Zaini, petinggi Golkar, anggota DPR dengan basis kultural NU. Sidoardjo memang basis NU.

Sekitar bulan November 2006, video mesumnya mulai terkuak secara meluas. Dari kasus itu, masyarakat pun jadi mengenal Maria Eva, yang sebelumnya tergolong sebagai penyanyi dangdut tidak terkenal.

Sebagai orang Sidoradjo, Maria Eva tak menyia-nyiakan peluang memanfaatkan musibah lumpur Lapindo untuk dijadikan momentum mendongkrak popularitasnya yang sedang terangkat berkat kasus mesumnya. Maka, Mariapun bertandang ke lokasi pengungsi 15 Desember 2006 lalu. Di sana ia disambut para pengungsi bagaikan super star beken, bahkan banyak di antara pengungsi yang berlomba-lomba meminta tandatangan dari Maria Eva.

Ternyata, rakyat Sidoardjo dan pemimpinnya sama saja. Mereka lebih akrab dengan kemaksiatan dibanding dengan kesalehan. Sang Ratu mesum disambut kedatangannya bagai menyambut pahlawan. Padahal, seharusnya ditimpuki batu atau diceburkan ke kubangan lumpur sesuai dengan kebiasaannya yang gemar berlumpur dosa.

Oleh karena itu, ketika pada 22 November terjadi ledakan pipa gas yang menewaskan sejumlah aparat dan rakyat, dan dari kobaran api yang mencuat membentuk lafadz ALLAH, sebagaimana didokumentasikan salah satu petugas di sana, ada yang bergumam, mungkin ini isyarat agar kita terutama masyarakat Sidoardjo agar segera mengingat Allah, menjauhi larangan-Nya.

Masyarakat Sidoardjo adalah cuplikan masyarakat Indonesia pada umumnya, yang lebih bisa menerima sesuatu yang dilaknat Allah ketimbang menerima syari’at Allah. Dalam perkara poligami, di tingkat nasional pemimpinnya juga bersikap sama. Bila istri Bupati lebih bisa menerima kompetisi aerobik yang nyaris telanjang padahal merendahkan martabat wanita, namun menolak poligami yang dibenarkan agama. Di tingkat pusat juga demikian. Ibu pejabat tidak pernah kedengaran suaranya ketika ada kasus-kasus yang menjadikan wanita sebagai korban. Namun ketika poligami ditempuh ulama kondang Abdullah Gymnastiar, mereka tergopoh-gopoh mengingatkan sang suami, antara lain berupa dorongan untuk merevisi PP yang berkenaan dengan poligami dan perkawinan.

Padahal banyak pusat perhatian yang seharusnya dibidik ibu pejabat, baik tingkat kabupaten maupun nasional. Kasus kematian Alda di sebuah hotel, seharusnya mampu membuka mata para ibu-ibu pejabat, untuk mendorong suami mereka merevisi atau menerbitkan PP yang melarang seorang perempuan tanpa suami atau mahram bisa check in di hotel mana pun di Indonesia.

Para ibu pejabat seharusnya mendorong suami mereka membuat PP atau Perda yang melindungi anak-anak mereka dari bahaya narkoba, bahaya seks bebas, dan bahaya moral lainnya baik yang bersumber dari lingkungan maupun media hiburan seperti televisi. Atau dari bahaya makanan yang tidak sehat akibat digunakannya zat pewarna pakaian untuk jajanan.

Ya Allah, kami mengerti mengapa musibah datang silih-berganti. Karena memang banyak kemungkaran yang berlangsung di tengah-tengah kami, namun kami diamkan saja, padahal Engkau memerintahkan kami untuk memeranginya.

Ketika kemungkaran berlangsung di depan mata, kami justru sembunyi di balik jendela, seraya mengintip, bukan justru memeranginya.

Ya Allah ampunilah kami. Berilah kami kekuatan untuk memerangi kemungkaran dan berilah kami kekuatan untuk bisa tolong-menolong dalam kebaikan. Berikanlah kami rizki yang dapat diagunakan untuk menolong agama-Mu, dapat digunakan untuk melawan kebathilan, kemungkaran dan angkara murka lainnya.
Lafalz Allah SWT
liat gambar

Hati2 ideologi SIPILIS

Wednesday, January 24th, 2007

(SIPILIS) Sekuler-Pluraris-Liberalis

Hanya untuk bahasan Intern

Counter Liberalisme

 

Dawam Rahardjo Asbun
Menjunjung Marxis dan Kristen Sambil Mengecam Muslim
Oleh Hartono Ahmad Jaiz

KALAU Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) berani
leha-leha berseminar dengan orang Kristen di Jakarta membahas tentang Tuhan di
hari Jum’at dari jam 10 hingga 13 dan tidak melaksanakan Shalat Jum’at (lihat
Majalah Gatra edisi 26 Februari 2005), maka pembela Ulil, yaitu Prof Dawam
Rahardjo, tidak mau kalah. Dawam menampilkan jurus-jurus asbun-nya (asal
bunyi, bahasa Jawa: waton muni, berbicara semaunya tanpa landasan dan
tak memperhitungkan benar salahnya) yang cukup menohok Islam dan umat Islam
ketika berseminar di kalangan Kristen, di Jakarta, Jum’at malam 28 April 2006.

Berikut ini cuplikan kutipan yang kami anggap penting untuk dikomentari, dari
presentasi Dawam Rahardjo di hadapan jemaat Kristiani dalam acara “Seminar
Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Beragama”
di Balai Sarbini Plaza
Semanggi Jakarta, Jum’at 28 April 2006 pukul 19.00 WIB. Pembicara lainnya
adalah Pendeta Dr. Stephen Tong, Pendeta Benjamin F. Intan Ph.D, dan Prof J.E.
Sahetapy SH MA.

Kutipan ungkapan Dawam Rahardjo: “Orang-orang Marxis
itu ternyata orang baik-baik saja. Bahkan orang-orang Marxis itu kebanyakan
humanis dan mempunyai etika yang tinggi. Jadi apa salahnya? Dari pada orang
beragama tapi kerjanya menteror. (audiens tertawa dan tepuk tangan). Memecahkan
masalah dengan teror, usul dengan teror.” (Ditranskrip oleh Imran, Mulyadi dan
Eros Dai dari Majalah Tabligh).


Komentar:

Menjunjung Marxis (PKI), mengecam Muslimin

Dawam Rahardjo tidak ingat sejarah. Kalau dia mau mengingat sejarah sedikit saja,
tentunya dia ingat bahwa pembantaian yang sadis telah dilakukan oleh PKI
(Partai Komunis Indonesia) yang berideologi marxisme, di antaranya dalam Affair
Madiun atau Peristiwa Madiun (Pemberontakan PKI di Madiun, 18 September 1948
pimpinan Muso dan Amir Syarifuddin).

Seorang wartawan asal Madiun menulis di Majalah Media Dakwah tentang hilangnya
kemanusiaan berganti dengan kesadisan. Di antaranya ia mengemukakan adanya
dokumentasi di kantor berita foto, Ipphos, tentang foto genangan darah
ulama yang disembelihi PKI (Partai Komunis Indonesia) dalam Affair Madiun atau
Peristiwa Madiun 18 Sepetember 1948. Dia sebutkan, foto genangan darah ulama
itu setebal bercenti-centi meter saking banyaknya ulama yang disembelihi PKI.
Di Kampung Gorang Gareng Madiun saja, ungkap wartawan asal Madiun ini, ada
seratusan lebih ulama beserta keluarganya yang dibantai PKI pimpinan Muso dan
Amir Sjarifuddin.

Bagaimana seorang Dawam Rahardjo bisa mengatakan, “Bahkan orang-orang Marxis
itu kebanyakan humanis dan mempunyai etika yang tinggi. Jadi apa salahnya? Dari
pada orang beragama tapi kerjanya menteror.”

Seandainya yang berbicara menyanjung marxis itu dokter Soelastomo (asal Solo
Jawa Tengah pula sebagaimana Dawam, dan tinggal di Jakarta pula, konon
Soelastomo pernah jadi saksi yang memberatkan dalam persidangan tokoh Masyumi,
dan terkesan seperti agak condong ke PKI dalam kasus itu, menurut sumber dari
orang Masyumi) itupun akan tetap mengangetkan orang. Karena justru yang
kerjanya menteror dan membantai itu PKI yang ideologinya jelas marxisme. Lha
ini sekarang yang berbicara memutar balikkan fakta, dengan menjunjung tinggi,
(dengan ungkapan, orang marxis itu kebanyakan humanis dan mempunyai etika
yang tinggi)
itu Dawam Rahardjo. Padahal Dawam itu dalam perjalanan
hidupnya, ketika mau kawin saja minta dicarikan isteri dengan minta tolong
kepada tokoh Masyumi, Dr Anwar Haryono, yang jelas musuh bebuyutan PKI. Jadi
jalan pikiran Dawam ini untuk dilacaknya melalui jalur mana?

Kesimpulan sementara, ada tiga alternatif:
–mungkin Dawam plintat-plintut
–mungkin tidak tahu berterimakasih
–mungkin memendam rasa tidak suka pada Islam, sebagai konsekuensi dari
pembelaannya terhadap faham sekulerisme yang dia usung, yang oleh tokoh Masyumi
seperti M Natsir sering diistilahkan dengan pihak yang netral agama,
yang bahasa Arabnya la dini atau ‘ilmani.

Terhadap orang yang mengaku beragama Islam tetapi berfaham netral agama
itu M Natsir cukup sengit sejak tahun 1930-an dalam berpolemik dengan Soekarno
dan lainnya, M Natsir biasanya pakai nama samaran A. Muchlis. Sampai-sampai M
Natsir memberikan contoh bahwa menghadapi orang non Muslim yang berfikirnya
masih konsekuen, lebih mudah dibanding menghadapi orang yang mengaku Islam
tetapi berfaham netral agama alias sekuler.

Kutipan:

Pernyataan Dawam: “…menurut pendapat saya yang mengganti Menteri Agama itu
tidak mesti dari orang Islam, bahkan lebih baik kalau Menteri Agama itu
dari golongan minoritas
atau yang disebut golongan minoritas. (audiens
tepuk tangan
).

Karena apa? Karena kalau dari golongan minoritas, misalnya Kristen, dia tidak
akan berani melanggar hak-hak sipil. (audiens tertawa dan tepuk tangan),
karena akan dikontrol oleh mayoritas. Sebaliknya kalau itu berasal dari
kelompok agama yang mayoritas, wah, itu pasti dia cenderung untuk selalu
melanggar, karena merasa berani dan merasa kuat, karena merasa dari golongan
mayoritas. Padahal di Indonesia itu tidak ada golongan mayoritas dan minoritas.
(Tepuk tangan) Semua sama di depan hukum.” (Ditranskrip oleh Imran, Mulyadi dan
Eros Dai dari Majalah Tabligh).


Komentar:

Pernyataan Dawam Rahardjo itu mengandung berbagai kerancuan:

1. Tidak melihat sejarah dan kenyataan ganasnya minoritas terhadap Umat
Islam.

Kenapa Dawam begitu bersemangatnya untuk mengganti menteri agama, dan gantinya pun
lebih baik dari golongan minoritas, misalnya Kristen? Kalau alasannya, jika
dari minoritas tidak akan berani melanggar hak-hak sipil, apakah memang ada
bukti dan jaminan? Ini hanya akal-akalan Dawam Rahardjo, tanpa ada landasan
pijakan yang dapat dipertanggung jawabkan. Bukankah penjajah Belanda yang
beragama Kristen, dan mereka itu adalah minoritas di Nusantara, terbukti telah
bercokol mencengkeramkan kuku-kukunya di Nusantara selama 350-an tahun dengan
aneka pelanggaran dan pemerkosaan hak-hak sipil? Berapa ribu ulama yang telah
dibantai dengan cara diadu domba. Contohnya, di zaman Amangkurat I, pengganti
Sultan Agung di Kerajaan Mataram Islam, di Jogjakarta, Amangkurat I mengadakan
perjanjian dengan Belanda, lalu para ulama tidak setuju, maka dikumpulkanlah
para ulama itu di alun-alun (lapangan) sejumlah 5.000-an ulama, lalu dibantai.
Sejarahnya sebagai berikut:

Amangkurat I membantai ribuan ulama

Pembantaian terhadap umat Islam kadang bukan hanya menimpa umat secara umum,
namun justru inti umat yang dibantai, yaitu para ulama. Pembantaian yang
diarahkan kepada ulama itu di antaranya oleh Amangkurat I, penerus Sultan
Agung, raja Mataram Islam di Jawa, tahun 1646.

Peristiwa itu bisa kita simak sebagai berikut:

‘Penyebaran Islam menjadi benar-benar terhambat dan sekaligus merupakan sejarah
paling hitam tatkala Amangkurat I mengumpulkan 5000 sampai 6000 orang ulama
seluruh Jawa dan membunuhnya seluruhnya secara serentak.’ 

Masalah ini ditegaskan lagi oleh Sjamsudduha pada halaman lain: ‘Penyebaran
Islam pernah mengalami hambatan yang bersifat politis, yaitu adanya pergolakan
intern dalam kerajaan-kerajaan Islam. Hambatan yang paling hebat dalam proses
penyebaran Islam terjadi ketika Amangkurat I melakukan pembunuhan besar-besaran
terhadap lima sampai enam ribu ulama dan keluarganya. Penyebaran Islam di Jawa
mengalami stagnasi untuk beberapa lama karena kehabisan muballigh, dan perasaan
takut.’

Dibantainya lima ribu sampai enam ribu ulama itu adalah masalah yang sangat
besar. Sumber yang lain menyebutkan:

‘Amangkurat I, juga terkenal dengan nama Amangkurat Tegal Arum atau Tegal Wangi
(karena mangkat di tempat tersebut) ialah putera Sultan Agung; naik tahta
Mataram (1645) sebagai pengganti ayahnya. Berlainan dengan Sultan Agung yang
bijaksana, Amangkurat I pada waktu hidupnya membuat beberapa kesalahan dan
sebagai tanda kelemahan ia mengadakan perjanjian perdamaian dengan Kompeni
Belanda (1646). Tindakannnya ini ditentang oleh beberapa golongan, di antaranya
para alim ulama, sehingga mereka ini disuruh bunuh.’

Peristiwa besar berupa pembantaian terhadap ribuan ulama itu tidak terjadi
kecuali di belakangnya ada penjajah Belanda yang menyetir Amangkurat I.

Penjajah Belanda itu jumlahnya sedikit, minoritas, tetapi memegang kendali
kepemimpinan, terbukti memainkan peran jahatnya terhadap inti umat Islam yaitu
membantai ribuan ulama. Kelompok minoritas itu sampai membantai yang mayoritas
saja tidak takut, apalagi kejahatan-kejahatan lainnya. Berikut ini sebagian
data kejahatan monoritas kafir penjajah Belanda terhadap umat Islam dalam
hal memberi dana sangat besar kepada Kristen dan Katolik, sebaliknya sangat
kecil terhadap Islam.

Semenjak masa pemerintah kolonial Belanda, Katolik terutama Protestan
memperoleh dana bantuan yang besar sekali, tidak demikian dengan Islam. Sebagai
contoh pada tahun 1927 alokasi bantuan untuk modal dalam rangka pengembangan
agama, adalah sebagai berikut:

Protestan memperoleh f31.000.000
Katolik memperoleh f10.080.000
Islam memperoleh f80.000.

Dana besar dari penjajah Belanda itu digunakan oleh orang Kristen dan Katolik
untuk membangun gedung-gedung, sekolah, rumah sakit dan sebagainya. Sedang
ummat Islam tidak punya uang. Pada gilirannya, anak-anak orang kafirin itu
telah makan sekolahan sedang anak-anak Muslimin belum, kecuali sedikit,
maka ketika merdeka, orang-orang kafirin Nasrani itu masuk ke pos-pos
pemerintahan di mana-mana. Padahal mereka itu ogah-ogahan untuk merdeka, lebih
enak menyusu pada penjajah sesama kafir. Jadi, yang berjuang mengorbankan nyawa
dan harta untuk melawan penjajah kafir itu orang Islam, namun ketika merdeka,
penyusu Belanda itu justru yang leha-leha duduk di kursi-kursi
pemerintahan.

Keadaan itu makin didukung oleh sikap pemerintahan Soekarno yang bersama PKI
(Partai Komunis Indonesia) mempecundangi ummat Islam. Senjata ampuh Soekarno
dan PKI adalah istilah DI (Darul Islam) yang harus dihabisi sampai
seakar-akarnya. Di situ kafirin Nasrani bersorak kegirangan karena ummat Islam dikuyo-kuyo
(dipecundangi, disengsarakan). Di masa Soeharto berkuasa 32 tahun pun ummat
Islam dikuyo-kuyo lagi oleh Soharto, Ali Moertopo, Benny Moerdani,
Sudomo (sebelum masuk Islam) dengan tunggangan Golkar. Sampai hanya untuk
bicara agama saja harus pakai SIM (Surat Izin Muballigh). Dan ummat Islam
banyak dibantai di mana- mana, di Aceh, Tanjung Priok, Lampung, Haur Koneng
Jabar dan sebagainya. Lagi-lagi kafirin Nasrani bersorak sorai.

Mereka yang sorak sorai –selama umat Islam dibantai, dikuyo-kuyo dan
didhalimi– itu kini diusulkan oleh Dawam Rahardjo untuk memimpin Departemen
Agama, yang diadakannya Departemen Agama itu sendiri menurut sejarahnya adalah
hadiah bagi umat Islam, karena para ulama dan umat Islam telah berjuang
mati-matian untuk meraih kemerdekaan. Kalau toh penyengsaraan terhadap umat
Islam tidak sampai tingkat pembantaian, maka seandainya dari kalangan Kristen
memimpin Departemen Agama, lakon nenek moyangnya dalam ideology dan agama,
yaitu penjajah Belanda, bisa diterapkan pula. Yaitu dana untuk Nasrani 41 juta
Gulden, sedang untuk Islam hanya 80 ribu Gulden saja.

Tidak usah jauh-jauh ke zaman Belanda, di saat pemerintahan Orde Baru pimpinan
presiden Soeharto, ketika Benny Moerdani yang Nasrani itu dijadikan Menteri
Pertahanan dan Keamanan/ Panglima Angkatan Bersenjata, ternyata ratusan umat
Islam dibantai di Tanjung Priok, Jakarta Utara, 12 September 1984. Diperkirakan
ratusan Muslimin dibantai, diangkut bertruck-truck entah ke mana dikuburkannya,
tak jelas.

Kemudian ketika TB Silalahi dari Nasrani pula dijadikan Menteri Aparatur
Negara, maka membuat kebijakan yang mengarah pada pembunuhan madrasah-madrasah
sore hari, dengan cara menambah lama bersekolah di sekolah-sekolah umum sampai
agak sore, sehingga mengakibatkan rontoknya madrasah-madrasah sore hari. Masih
pula ditambah dengan menghapus pengadaan guru-buru negeri untuk sekolah swasta,
yang artinya adalah membunuh madrasah-madrasah (swasta) se-Indonesia. Hingga
kini setelah tahun 2000 pun dampaknya makin memprihatinkan. Madrasah-madrasah
(swasta) mengalami koleps, rata-rata dalam keadaan megap-megap, karena
kekuarangan guru. Untuk seluruh Indonesia diperkirakan butuh 200.000-an guru
madrasah, dan khabarnya sampai sekarang kalau Departemen Agama RI mengajukan
kepada pemerintah untuk mengadakan tenaga guru itu senantiasa ditolak, kecuali
sangat sedikit. Sebaliknya, TB Silalahi walau sudah tak jadi menteri masih
aktif dalam kenasraniannya secara nasional, misalnya jadi ketua panitia natalan
tingkat nasional, yang mampu menggiring para pejabat Muslim sampai tingkat
presiden untuk hadir di upacara bernatalan ria, satu hal yang telah diharamkan
oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) bagi umat Islam. Seakan fatwa MUI itu
dianggap angin lalu oleh para pejabat Muslim. Padahal, mereka (pejabat-pejabat
Muslim) itu ketika sebelum naik jabatan biasanya mendekat-dekat kepada umat
Islam, paling kurang dengan cara hadir di masjid-masjid,guna meraih simpati
umat Islam, misalnya. Terkutuklah mereka. Agama dijadikan alat untuk meraih
jabatan. Betapa bedanya antara pejabat yang Muslim dengan yang kafir. Kalau
pejabat kafir, sampai sudah tidak menjabat pun masih gigih menjajakan
kekafirannya, seperti menjadi panitia upacara nasional kekafiran mereka, dan
mampu menggiring pejabat yang masih aktif untuk hadir di acara kekafiran
mereka. Sebaliknya, pejabat-pejabat Muslim, ketika masih menjabat saja sudah
lupa terhadap Islam dan umat Islam. Justru biasanya mereka ikut-ikutan ke
acara-acara kafir. Kemudian setelah mereka tidak punya jabatan lagi, baru
sebagian mendekat-dekat lagi ke umat Islam, tetapi sudah tidak ada daya
apa-apa, hanya sekadar mengisi waktu menunggu umur.

Kembali kepada sikap Dawam Rahardjo, perlu diingatkan mengenai kegigigihan
orang kafir tersebut. Yang telah dikemukakan itu tadi, orang-orang Nasrani
sampai sebegitu jauhnya dalam memecundangi Islam dan umat Islam. Padahal mereka
itu tidak langsung memegang jabatan yang berkaitan dengan agama Islam.
Bagaimana pula seandainya mereka yang Nasrani itu menjadi menteri agama? Tidak
jadi menteri agama saja, terbukti pencelakaan terhadap umat Islam sudah
sedemikian drastisnya. Lha kok Dawam Rahardjo yang dijuluki sebagai cendekiawan
Muslim malahan sama sekali buta terhadap lakon jahat orang Nasrani yang telah
ditusukkan kepada umat Islam se-Indonesia, padahal jelas-jelas di depan mata.

Sikap Snouck terhadap Islam, Ulama, dan Muslimin

Snouck telah melibatkan dirinya untuk kepentingan penjajahan dengan bukti
pernyataan dan laporannya kepada Jendral Van Houts untuk memerangi kaum
muslimin di seluruh wilayah jajahan Belanda. Dengan kata lain ia mengusulkan
untuk menggunakan kekerasan dalam menumpas kaum muslimin
. Karena itu
Jendral tadi mendapat julukan “pedang Snouck yang ampuh” karena
keberhasilannya dalam memerangi umat Islam.

Di samping itu Snouck Hurgronye juga banyak membantu dalam pembinaan kader
missionaris Belanda dan membuka sekolahan untuk mengkristenkan muslimin di
seluruh wilayah jajahannya.

Terdapat fakta lain pula bahwa seorang tokoh missionaris kondang dan sangat
disegani di kalangan kaum orientalis yang bernama Hendrick Kraemer adalah murid
Snouck Hurgronje, dari tahun 1921 hingga tahun 1935. Hubungan di antara guru
dan murid terus berkesinambungan tanpa putus. Snouck Hurgronje wafat pada tahun
1936.

Dr Van Koningsveled berkata: “Tidak terputus surat menyurat antara Snouck
Hurgronje dan muridnya, Hendrik Kraemer, misisionaris terkenal dan berpengaruh
dalam lingkungan aktivis kristenisasi dari tahun 1921 sampai dengan 1935.
Menurut penjelasan Boland, buku Hendrik Kraemer, Misi Kristen di Dunia Non
Kristen[b] 
mengungkapkan dengan jelas bahwa orang-orang Kristen
mempunyai rencana untuk mengkristenkan dunia, khususnya Indonesia. Mereka
bertujuan menundukkan dunia Islam. Bahkan, Kraemer membandingkan Islam dengan
Nazi. [/b]

Zaman merdeka, minoritas pun membantai umat Islam

Bahkan di zaman merdeka dan setelah tahun 2000 pun Indonesia yang mayoritas
Muslim ini, kaum minoritas membantai umat Islam di Poso Sulawesi, juga di
Ambon. Tibo, otak pembantaian terhadap umat Islam di Poso, dikabarakan mengaku
didoakan oleh gereja ketika mau melakukan pembantaian itu. Majalah Sabili No
22, Th XIII, 18 Mei 2006/ 20 Rabi’ul Akhir 1427H memberitakan sebagai berikut:

Gereja acap kali disebut-sebut dalam berbagai kerusuhan di tanah air.
Keterlibatan gereja pula yang disebut tervonis mati Tibo baru-baru ini.

Menjelang eksekusi mati, panglima pasukan Merah saat konflik Poso berkecamuk

beberapa waktu lalu ini, mengungkap keterlibatan Majelis Sinode Gereja Kristen
Sulawesi Tengah (GKST). GKST pimpinan pendeta Damanik yang berpusat di Tentena
ini, menurut Tibo terlibat dalam pembantaian umat Islam Poso.

Menurut Tibo, (pihak gereja) GKST memberikan dukungan moril dan lainnya
kepada pasukan Merah yang hendak menyerang kaum Muslimin Poso. Bahkan, lanjut
Tibo, para pendeta mendoakan mereka dengan upacara ala Kristen di Gereja
tersebut.

Hasilnya? Sebuah tragedy kemanusiaan yang di luar batas kewajaran manusia.
Pembantaian dan penganiayaan terhadap umat Islam secara biadab telah dilakukan
pasukan Merah. Fakta ini terungkap dari keterangan sejumlah saksi saat
persidangan Tibo beberapa waktu yang lalu.

Kesadisan pasukan Kelelawar pimpinan Tibo terhadap kaum Muslimin terungkap di
persidangan. Menurut salah satu saksi, pembina pesantren Walisongo Poso, Ustadz
Ilham, ia melihat rekannya dibacok pasukan Merah pimpinan Tibo, sebelum ia
nekad loncat dari mobil dan meloloskan diri.

Sebelumnya, Ustadz Ilham bersama 28 orang lainnya disuruh buka baju.
Selanjutnya tangan diikat satu persatu dengan sabut kelapa, tali nilon dan
kabel. Kemudian digiring lewat hutan tembus desa Lempomawu. Rombongan Ustadz
Ilham berjalan ke desa Ranononco dan ditampung di sebuah baruga.

Di sanalah mereka disiksa dalam keadaan berbanjar dua barisan. Selanjutnya
ikatan tangan ditambah sampai bersusun tiga. Badan Ustadz Ilham diiris,
ditendang dan dipukul dengan berbagai alat. Tak puas dengan itu, mereka
menyirami umat Islam dengan air panas selama dua jam.

Kebringasan pasukan Merah itu juga diungkap saksi lainnya, Tuminah. Menurut
kesaksian Tuminah, pasukan Merah mengikat mereka dengan tali dan memisahkan
antara laki-laki dan perempuan. Di bilik sebuah sekolah, Dominggus meminta para
Muslimah melepas bajunya dan disuruh berputar-putar di depannya.

Jauh sebelumnya, keterlibatan Gereja juga disebut-sebut saat penyerangan kaum
Kristen terhadap umat Islam Maluku di akhir tahun 1999. Sehari setelah Natal,
Ahad (26/12 1999), dengan amat tiba-tiba, massa Kristen menyerang dan membantai
kaum Muslimin di Kecamatan Tobelo, Maluku Utara.

Seorang saksi menceritakan, pembantaian yang menyayat hati umat Islam tersebut.
Menurut ceritanya, sebelum penyerangan biadab itu terdengar suara lonceng
Gereja saling bersahutan serta suara gaduh tiang listrik, bak pertanda kesiapan
untuk menyerang.

Seketika, massa Kristen yang membawa berbagai senjata tajam sudah mengepung dan
membombardir Masjid Jami’ tempat berlindungnya ribuan kaum Muslimin. Masjid
Jami’pun diguyur bensin dan dengan cepat api menjilat tembok-temboknya.

Jerit tangis anak-anak kecil bayi yang kepanasan dan istighfar para Muslimah
terdengar bersahut-sahutan. Yang mencoba keluar masjid langsung dibantai.
Kurang lebih 750 orang kaum Muslimin yang berada di dalam masjid tersebut
terbakar hidup-hidup, hingga mengeluarkan aroma daging terbakar.

Sejumlah pihak pun mensinyalir keterlibatan Gereja di sejumlah daerah konflik
lainnya. Sebut misalnya, kerusuhan Timor Timur (saat masih masuk wilayah
Indonesia). Ketika itu, kepala Kanwil Departemen Agama di Timor Timur seorang
Katolik. Ternyata karyawannya yang beragama Islam, hanya mau berkhutbah Jum’at
di masjid saja dilarang oleh Kakanwilnya yang Katolik itu. Pengakuan karyawan
Kanwil Departemen Agama Timor Timur bahwa dirinya dilarang oleh Kakanwilnya
untuk berkhutbah di masjid itu penulis dengar langsung ketika penulis bersama
rombongan wartawan Islam dari Jakarta berada di Dilly Timor Timur, waktu masih
jadi wilayah Indonesia. Nah, kalau menteri agamanya dari Katolik atau Kristen,
jenis-jenis pembantaian terhadap umat Islam dan pelarangan-pelarangan khutbah
di masjid-masjid bagi karyawan Departemen Agama, apakah tidak dilancarkan,
bahkan digalakkan? Dawam Rahardjo perlu berpikir ulang, kalau memang masih
mengaku Muslim, atau berpikiran obyektif.

Tirani minoritas

Apakah itu tidak pernah terdengar di telinga seorang professor yang menyandang
gelar cendekiawan Muslim seperti Dawam Rahardjo? Sedang tidur di mana dia?
Selain itu, apakah tidak pernah mendengar bahwa dalam perpolitikan di Indonesia
selama masa Orde baru di bawah rezim Soeharto, dalam tempo 25 tahun dari 32
tahun kekuasaannya sering diistilahkan adanya tirani minoritas, lantaran
kebijakan Soeharto mengikuti pihak minoritas dengan CSIS-nya dan di bidang
kekuasaan adalah Benny Murdani-nya? Kemudian setelah ada kerenggangan antara
Benny dan Soeharto, lantas terjadilah aneka kerusuhan di daerah-daerah
Indonesia bagian timur yang di sana campur antara Muslim dan Kristiani, maka
umat Islam dibantai, dibakari rumahnya, tokonya, dan bahkan masjid-masjidnya
seperti yang terjadi di Timor Timur, Flores dan lainnya. Apakah Dawam tak
pernah dengar? Bagaimana ketika pegawai Departemen Agama saja tidak boleh
khutbah di masjid oleh atasannya ketika atasannya orang Katolik seperti yang
terjadi di Timor Timur, padahal secara penduduk Indonesia, Katolik adalah
minoritas. Apakah Dawam tak pernah dengar? Bagaimana misalnya menteri agamanya
itu orang Kristen, lalu melarang pegawai Departemen Agama berkhutbah di masjid,
sebagaimana Kepala Kanwil Depag Timor Timur waktu masih jadi wilayah Indonesia
melarang pegawainya berkhutbah di masjid yang sudah ada, bahkan untuk didirikan
musholla saja sulit di sana? Masih banyak lagi tentunya.

Bukan hanya di wilayah yang banyak orang Kristennya. Di zaman Soeharto, saat
berlangsung tirani minoritas, maka pencekalan terhadap khotib-khotib dan
muballigh pun berlangsung, hingga ada istilah SIM (Surat Izin Muballigh).
Daftar apa yang disebut muballigh-muballigh ekstrim pun beredar. Hingga
muballigh digagalkan untuk berkhutbah hari raya seperti Pak Dr Deliar Noer yang
digagalkan hingga masuk berita di Koran pun, Dawam tentunya dengar. Kenapa?
Karena umat Islam dikuyo-kuyo oleh kebijakan yang memihak pada minoritas
Kristen.

Nah, sekarang ini, rupanya Dawam justru menjadikan dirinya rela, suka ria,
menjadi orang yang tidak perlu ditekan-tekan oleh minoritas Kristen, justru
mencadangkan diri untuk di bagian depan sebagai orang yang rela untuk ditepuki
oleh orang Kristen. Makin ramai tepuk sorak orang Kristen, makin bersemangatlah
Dawam. Padahal, nanti kalau meninggal dunia, Pak Dawam apakah akan dirumat oleh
orang Kristen? Apakah yang memandikan, mengkafani, mensholati, dan memasukkan
ke liang kubur nanti diharapkan dari orang-orang Kristen? Dan misalnya masih
percaya terhadap doa, apakah lebih baik yang mendoakan mayat Dawam nanti orang
Kristen dengan nyanyian-nyanyian kemusyrikannya?

Kalau Dawam Rahardjo istiqomah dengan pendapatnya, maka logika yang dapat
dipetik: Lebih baik nanti yang merawat jenazah saya adalah dari pihak yang
minoritas, misalnya Kristen. Karena mereka yang minoritas itu nanti tidak akan
berani sewenang-wenang terhadap jasad saya. Berbeda dengan kalau yang merawat
sampai menguburkan jasad saya itu dari pihak yang mayoritas, yakni kaum
Muslimin, mereka pasti akan berbuat sewenang-wenang, karena merasa mayoritas,
dan tidak dapat dikontrol dalam hal merawat jasad saya. Jadi saya lebih memilih
untuk dirawat oleh orang Kristen dari proses perawatan jenazah saya sampai
penguburannya. Kalau dapat, justru yang paling minoritas, yaitu orang yang
tidak beragamalah yang harus merawat sampai menguburkan jenazah saya. Karena
kalau yang paling minoritas, maka tidak mungkin akan berani untuk berbuat
sewenang-wenang terhadap jasad saya. Berbeda dengan kalau yang mayoritas. Jadi
saya lebih memilih untuk dirawat jenazah saya oleh orang yang tidak beragama,
daripada yang beragama.” Itu logika yang pas dari ungkapan-ungkapan Dawam
Rahardjo yang telah terlontar sebelumnya, bila dirangkaikan dengan kematiannya,
kapan-kapan.

2. Tidak punya ghirah Islamiyah.

Dawam Rahardjo menampakkan diri sebagai orang yang tidak punya ghirah
Islamiyah, justru cenderung menjauhkan diri dari kepentingan Islam. Dalam kasus
Dawam menginginkan Menteri Agama lebih baik diganti dengan yang dari minoritas
misalnya dari Kristen, itu mirip dengan pernyataan Gus Dur waktu jadi presiden
bahwa Masjid Istiqlal di Jakarta seharusnya bukan hanya diurus oleh umat Islam
saja. Kemiripannya ada, yaitu sama-sama tidak punya ghirah Islamiyah, justru
ingin menyerahkan Islam kepada orang kafir. Kalau yang diserahkan itu sekadar
diri Dawam atau mayat Dawam, misalnya, itu adalah diri pribadinya. Itu saja,
kerluarga dan ahli warisnya belum tentu merelakannya. Tetapi kalau yang
diserahkan kepada orang kafir itu tentang urusan umat Islam, maka apa hak
Dawam? Menyerahkan dirinya sendiri kepada orang kafir itu saja tidak sepenuhnya
jadi hak Dawam. Misalnya, ibunya yang masih hidup, tentu tidak rela. Hingga
Ibunya menelepon ke Dawam, dan kemudian orang lain yang disalahkan oleh Dawam,
karena Dawam menganggap, ibunya itu diintervensi oleh orang lain. Padahal belum
tentu ibunya itu diintervensi oleh orang lain. Mungkin ibunya itu melihat
berita-berita di televisi tentang ucapan-ucapan Dawam, mungkin pula ditambah
dengan rasa kasihan sebagai seorang ibu terhadap anaknya. Tetapi oleh Dawam
langsung divonis bahwa ibunya diintervensi orang. Terlepas dari itu semua,
sebenarnya, menyerahkan diri sendiri (diri Dawam) kepada orang kafir itu saja
sudah bukan sepenuhnya hak Dawam, walau adzabnya memang menjadi resiko Dawam;
tetapi ibunya kan tidak rela. Padahal ketidak relaan ibunya itu menjadi
pertanda ketidak relaan Allah swt. Jadi, apalagi kalau yang diserahkan itu
urusan Islam, oleh Dawam mau diserahkan kepada orang kafir. Apa hak Dawam? Dan
siapa yang rela?

3. Jauh dari petunjuk Nabi saw.

Cara berpikir Dawam Rahardjo itu jauh dari petunjuk Nabi Muhammad saw. Bahkan
jauh dari petunjuk Allah swt dalam Al-Qur’an. Dalam hal memegang jabatan, yang
telah ditunjuki Rasulullah saw adalah:

{ إذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ لِغَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرُوا
السَّاعَةَ } رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ فِي أَوَّلِ كِتَابِ الْعِلْمِ

Apabila urusan itu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saatnya
(kiamat). (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam awal kitab ilmu).

Bahkan untuk bertanya saja, tidak sampai menyerahkan urusan, hanya bertanya
saja, dalam Al-Qur’an ditegaskan:

{ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إنْ
كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ }

Maka bertanyalah kepada ahli ilmu apabila kalian tidak mengetahui. (QS An-Nahl/
16: 43).

Dari ayat dan hadits itu bisa diambil pelajaran bahwa yang berhak itu adalah
yang ahlinya. Ketika bukan ahlinya, maka akibatnya rusak, hancur. Baru mengenai
pembicaraan saja, seperti perkatan Dawam Rahardjo ini, karena dia tidak ahli agama,
lalu berbicara tentang urusan yang menyangkut agama (Ahmadiyah, Lia Eden, orang
tak beragama, menteri agama dan sebagainya), maka sudah tampak betul ketidak
jelasan alur pembicaraannya, dan sulit untuk dipertanggung jawabkan, walau
untuk dirinya sendiri, yaitu misalnya tentang penyerahan mayat dirinya nanti
kepada orang kafir. Dengan demikian, ungkapan-ungkapan Dawam Rahardjo di depan
orang kafir dan untuk menyenang-nyenangkan orang kafir padahal dirinya berlabel
cendekiawan Muslim, maka sangat aneh. Meskipun demikian, untuk melacaknya di
dalam ajaran Islam tidak sulit. Karena di dalam Al-Qur’an pun sudah difirmakan
Allah swt:

لَا تَجِدُ
قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا ءَابَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ
عَشِيرَتَهُم
ْ

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari
akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan
Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau
saudara-saudara ataupun keluarga mereka. (QS Al-Mujadilah/ 58: 22).

تَرَى كَثِيرًا
مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ
أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ(80)وَلَوْ كَانُوا
يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ
وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ(81)

Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang
kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri
mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan.

Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang
diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang
musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah
orang-orang yang fasik. (QS Al-Maaidah/ 5 : 80, 81).

4. Tidak jelas wala’ dan baro’nya.

Dawam Rahardjo dengan berbagai ucapan, sikap, dan upayanya yang menyakiti umat
Islam, dan sebaliknya mendekat-dekat dan menyanjung orang kafir serta
memperjuangkan mereka itu menandakan dirinya tidak jelas wala’ (kecintaan/
loyalitas) dan baro’ (kebencian)nya. Seharusnya, orang Muslim itu wala’nya
kepada Allah swt, Rasulullah saw, dan kaum Mukminin atau umat Islam. Secara
singkatnya, wala’nya kepada Islam. Sedang baro’nya (kebencian, lepas diri,
memusuhi dan sebagainya) adalah terhadap kekufuran.

Syekh Sulaiman ibn Abdillah ibn Muhammad ibn Abdil Wahhab mengatakan: “Agama
ini tidak akan tegak, panji-panji jihad tidak tegak dan panji-panji amar ma’ruf
dan nahi munkar tidak tegak melainkan karena aqidah cinta karena Allah dan
benci karena Allah…seandainya seluruh manusia bersatu di atas jalan yang satu
dan kecintaan yang satu tanpa ada kebencian dan permusuhan, tentu tidak
tercipta adanya furqan; pembeda antara yang haq dan yang bathil, antara yang
mukmin dan yang kafir dan tidak ada pembeda antara wali-wali Allah dan
wali-wali syetan” (Risalah Awtsaq Ura al-Islam, 38). 

Memporak porandakan pembeda haq dan batil

Yang ditempuh oleh Dawam Rahardjo dan orang-orang yang mengusung faham sepilis
(sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme) adalah pengandaian itu. Yaitu:
seandainya seluruh manusia bersatu di atas jalan yang satu dan kecintaan
yang satu tanpa ada kebencian dan permusuhan
. Untuk meraihnya, mereka
melakukan jurus-jurus yang berlawanan arus dengan aqidah wala’ dan baro’. Islam
yang seharusnya dicintai justru dipecundangi, sebaliknya kekafiran yang
seharusnya dibenci dan dimusuhi justru dibela. Islam yang seharusnya
diperjuangkan, ditegakkan syari’atnya, malah mereka tolak ramai-ramai. Sedang
kekufuran dan aturan thoghut yang seharusnya dibenci, dimusuhi, justru mereka
usung, mereka perjuangkan secara ramai-ramai.

Hasilnya?

Kalau upaya Dawam Rahardjo dan kaum Sepilis itu dibiarkan, maka hasilnya
sebagaimana dikemukakan oleh Syaikh Sulaiman tadi, yaitu: “Tidak tercipta
adanya furqan; pembeda antara yang haq dan yang bathil, antara yang mukmin dan
yang kafir dan tidak ada pembeda antara wali-wali Allah dan wali-wali syetan”.

Kalau itu diterus-teruskan, tidak lain akan menuju kepada kerendahan derajat
manusia ke lembah yang sangat hina. Karena mereka akan mempreteli aturan demi
aturan yang ada di Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pernikahan yang telah diatur oleh
Allah swt dan Rasulullah saw pun telah mereka obrak-abrik, hingga mereka secara
demonstratip mengadakan perkawinan antar agama. Wanita mengaku Muslimah tetapi
nikah dengan lelaki non Islam. Bahkan ada proyek yang mendanai pernikahan yang
melawan aturan Islam itu. Padahal sudah jelas diharamkan oleh Allah swt dalam
Al-Qur’an Surat Al-Baqarah/ 2: 221, dan QS Al-Mumtahanah/ 60: 10. Bahkan sudah
ada yang menulis buku, dengan mengecam segala aturan pernikahan, mengecam
lembaga pernikahan. Mereka ingin membebaskan manusia sebagaimana bebasnya
binatang, bahkan lebih dari itu, menghalalkan pelacuran, sambil mengecam
pernikahan.

Ujung-ujungnya, mereka itu menjerumuskan manusia kepada derajat hina, yaitu
budak-budak nafsu.

أَرَأَيْتَ
مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا(43)أَمْ تَحْسَبُ
أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ
بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا(44)

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?

atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami.
Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (QS Al-Furqon/ 25: 43, 44).

Dawam Rahardjo jelas berada di barisan depan dalam perhelatan perusakan Islam
ini. Sehingga ibunya pun meneleponnya dari Solo Jawa Tengah (ke Dawam yang
berada di Jakarta), dan dia beberkan kepada orang-orang Kristen peristiwa itu,
dengan menyalahkan orang-orang yang dianggap memberi informasi salah kepada
ibunya. Dawam menganggap, ada orang-orang yang menyerang Dawam lewat ibunya.

Itu semua urusan Dawam Rahardjo sendiri. Ternyata “perjuangannya” dalam
mengusung dan membela kebatilan itu penuh keruwetan. Padahal kalau mau menempuh
jalan yang benar, Allah telah menjanjikan:

فَإِنَّ مَعَ
الْعُسْرِ يُسْرًا(5)إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا(6)

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu adakemudahan, sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan. (QS Al-Insyirah/ 94: 5, 6).

Sebaliknya, sesuai dengan yang diusung adalah kebatilan dan perjuangannya untuk
membela kekufuran, maka Allah pun mengancam:

أَعَدَّ اللَّهُ
لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ(15)

Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat
buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (QS Al-Mujadilah: 15).

لِيَحْمِلُوا
أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ
بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ(25)

(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya
pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang
tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah
dosa yang mereka pikul itu. (QS An-Nahl/ 16 : 25).

Oleh karena itu, seyogyanya Dawam Rahardjo dan orang-orang yang mengaku Muslim
tetapi menempuh jalur yang tak sesuai dengan Islam itu bertaubatlah dengan taubatan
nashuha
, taubat yang benar-benar taubat. Sebelum nyawa sampai ditenggorokan
(maa lam yughorghir), yang saat itu telah terlambat untuk bertaubat.
Penyesalan pun tak ada gunanya lagi saat itu dan selanjutnya.

Apakah orang memberi nasihat semacam ini juga mau disomasi? Silakan!

FOOTNOTE:

 

  1. Hartono Ahmad Jaiz, DiBawah Bayang-bayang Soekarno Soeharto, Tragedi Politik Islam Indonesia dari Orde Lama hingga Orde Baru, Darul Falah, Jakarta, cetakan 2, 1420H, halaman 77.
  2. Sjamsudduha, Penyebaran dan Perkembangan Islam- Katolik- Protestan di Indonesia, Usaha Nasional, Surabaya, 1987,  halaman 119.
  3. Ibid, halaman 167.
  4. Prof. Mr, AG. Pringgodigdo–Hassan Shadily MA, Ensiklopedi Umum, Penerbit Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 1977, halaman 45.
  5. Sjamsudduha, Penyebaran dan Perkembangan Islam - Katolik- Protestan di Indonesia,_Usaha Nasional Indonesia, cet II, 1987, hal 129.
  6. Dr Ahmad Abdul Hamid Ghurab, ru’yah Islamiyyah lil Istisyraq, terjemahan AM Basalamah, Menyingkap Tabir Orientalisme, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, I, 1992, hal 97-98.
  7. Hendrik Kraemer, the Crisitian Message in a non-Christian World, London, 1938, edisi kedua, 1947.
  8. B.J Boland, the Strugle of Islam in Modern Indonesia’s Gravenhage, 1970, hal 236, dikutip Qasim Assamurai hal 164.
  9. Kraemer, op cit, hal 353, bandingkan Boland, op cit, hal 240, no 146, dikutip Qasim, ibid, hal 164.
  10. Majalah SabiliNo 22, Th XIII, 18 Mei 2006/ 20 Rabi’ul Akhir 1427H, halaman 20-21.
  11. Aqidah wala’ dan Bara’, Oleh: Ust. Agus Hasan Bashari Lc, M. Ag, da’I Yayasan Al-Sofwa Jakarta, tinggal di Malang.