Archive for February, 2007

Indonesia & Brunei Darussalam

Wednesday, February 28th, 2007

PELAJARAN DARI BRUNEI MERDEKA 

Kamis, 01 Maret 2007

Brunei Negara kecil kaya karena minyak. Kekurangannya, kurang daya juang. Tapi Tetapi proklamasi kemerdekaannya adalah proklamasi aqidah. Bandingkan dengan Indonesia

oleh Dzikrullah

Hari Jum’at dan Sabtu pekan lalu, Brunei Darussalam merayakan Hari Kebangsaannya. Ada beberapa catatan yang menarik untuk kita cermati.

Tepat tengah malam itu, 23 tahun lalu, dalam detik-detik pergantian waktu dari 31 Desember 1983 menuju 1 Januari 1984, ribuan rakyat yang berkumpul sejak maghrib basah kuyup disiram hujan deras.

(Entah mengapa, meski diproklamasikan tanggal 1 Januari 1984, Brunei selalu merayakan Hari Kebangsaannya setiap 23 Pebruari. Tapi yang ini lebih penting..)

Mereka berkumpul di Masjid Omar Ali Saifuddin dan di lapangan seberangnya, Taman Haji Sir Muda Omar ‘Ali Saifuddien. Mereka sudah menunaikan shalat maghrib berjama’ah. Para ulamanya memimpin mereka memanjatkan doa syukur kepada Allah Ta’ala dan shalat ‘Isya berjama’ah. Sesudah diguyur hujan, ribuan rakyat yang kegembiraannya meluap-luap itu masih bertahan.

Tak ada teriakan “merdeka!”. Tak ada penurunan bendera Union Jack, seperti di Hong Kong 1997, walaupun negeri ini berada di bawah the British Empire selama 96 tahun. Rakyat Brunei tak pernah mau menyebut dirinya “dijajah”.

Yang ada gemuruh “Allaahu Akbar! Allaahu Akbar! Allaahu Akbar!” diteriakkan ribuan manusia menggelegar di langit negeri yang baru lahir kembali itu, Brunei Darussalam. Nama itu tertulis di Al-Qur’an surah Yunus ayat 25:

“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).”

Rakyat menyambut teriakan pemimpin mereka, Sultan Haji Hassanal Bolkiah, yang memproklamasikan kepada seluruh warga dunia bahwa negeri ini sudah merdeka. Ini petikan proklamasinya:

“…Brunei Darussalam dengan berkah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selamanya menjadi Kerajaan Muslim Melayu yang berdaulat, demokratik, dan merdeka berdasarkan ajaran-ajaran Islam, kebebasan, kepercayaan dan keadilan…”

Modal aqidah

Berapa banyak negara yang memproklamasikan kemerdekaannya dengan meneriakkan takbir tiga kali, dipimpin langsung oleh rajanya? Kalaupun ada, maka diantara daftar yang sangat pendek itu, sudah pasti Brunei salah satunya –kalau bukan satu-satunya.

Bangsa berpenduduk sangat kecil yang sangat kaya minyak ini tidak mengagung-agungkan Inggris yang telah menguasainya selama hampir satu abad, yang kemudian melepaskannya. Bangsa ini mengagungkan Allah, karena yakin, pemilik sah tanah, hutan, udara, laut dan seluruh kekayaan isinya di negeri ini adalah Allah Yang Maha Berkuasa.

Brunei mungkin masih banyak kekurangan dan kelemahannya. Orang Brunei sendiri mengakuinya. “Manja karena minyak, kurang inisiatif dan daya juang, kurang kreatif, kurang berani ambil risiko, banyak yang hidup berlebihan,” adalah sebagian otokritik yang mereka sampaikan sendiri.

Tetapi, proklamasi kemerdekaan Brunei adalah proklamasi kemerdekaan aqidah, yang meyakini keselamatan bangsa ini hanya akan dicapai jika aqidahnya suci dan ibadahnya benar. Ini modal besar.

Dengan modal awal aqidah yang suci, bangsa ini mudah-mudahan tidak akan pernah takut, meskipun minyak dan gas bumi akan kering dalam beberapa generasi ke depan. Beberapa penelitian menyebut, Brunei termasuk negara produser minyak yang “sudah melewati puncaknya”. Aqidah yang suci akan menjadikan sebuah negeri tandus berisi pasir dan batu menjadi negeri termakmur di seantero dunia.

Lihatlah negeri Makkah Al-Mukarramah. Ketika Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam meninggalkan isterinya Siti Hajar dan bayinya Ismail, tempat itu bernama lembah Baka’, lembah kematian, karena tak ada satupun makhluk yang hidup di situ, tidak juga selembar rumput.

Karena aqidah yang benar dan ketaatan yang tanpa reserve kepada Allah Pemilik tanah Mekah dan seluruh bumi, Nabi Ibrahim tidak berdoa minta agar negeri itu menjadi makmur dan kaya, tetapi doanya, “Ya Allah, jadikanlah aku dan keturunanku semuanya sebagai orang-orang yang mendirikan shalat.”

Apa hasilnya? Belasan juta orang setiap tahun mendatangi Makkah untuk beribadah. Lebih dari itu, Makkah yang kini resminya menjadi bagian dari negeri bernama Arab Saudi merupakan negeri terkaya di dunia karena minyak dan gas buminya, sejak tahun 1930-an.

Persoalan bangsa manapun di dunia ini bukanlah kondisi kaya atau miskinnya. Seperti Brunei atau Etiopia. Persoalan utamanya adalah apakah suatu bangsa akan selamat di dunia dan Akhirat di mata Allah Pemilik Jagat Raya ini, pemilik ruh-ruh kita.

Planologi Nabi Ibrahim adalah contoh terbaik. Pondasi bagi master plan pembangunan sebuah negara adalah aqidah yang benar. Sebelum anggaran keuangan dan infrastruktur fisik, harus dipastikan bahwa aqidah bangsa ini selalu menyeru penduduknya untuk taat dan hanya menyembah Allah saja, 24 jam sehari 7 hari seminggu, di semua bidang kehidupan.

Kepada mereka yang kafir, menolak kebenaran aqidah ini, sama sekali tidak akan dipaksa untuk menjadi Muslim. Allah melarang pemaksaan seperti itu. Bahkan Islam mencontohkan di Madinah, di Damaskus, di Yerusalem, di Baghdad dan di mana-mana bahwa para khalifah, sultan, gubernur dan panglima perang Islam menjaga, melindungi dan menjamin keadilan orang-orang yang memilih keyakinan yang berbeda, selama mereka tidak melakukan kekacauan atau memerangi umat Islam.

Bagaimana Indonesia?

Bandingkan Brunei Darussalam dengan negara tetangganya yang jauh lebih besar, Indonesia. Selama 350 tahun dijajah, darah dan nyawa para mujahidin membasahi sejarah jihad bangsa ini. Takbir-takbir para pejuang Indonesia jauh lebih patriotik menggelegar. Namun, ironisnya, Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tidak menyebut satu kalipun nama Allah, pemilik sah tanah, air dan udara di negeri ini.

Naskah “Piagam Jakarta” yang sudah disiapkan berbulan-bulan oleh BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), dan sedianya disiapkan untuk naskah proklamasi dinyatakan “lupa dibawa” ke rumah Laksamana Maeda. Walhasil, naskah proklamasi baru dioret-oret. Pengakuan atas kebesaran Allah tidak disebut sama sekali.

Tidak berhenti sampai di situ. Bangsa yang baru merdeka ini, di hari kedua (18 Agustus 1945) sudah membatalkan syahadatnya sebagai bangsa Muslim, untuk kedua kalinya. Soalnya, Bung Hatta konon didatangi opsir Jepang, yang menyampaikan bahwa para tokoh Kristen dari Indonesia Timur menyatakan akan memisahkan diri dari republik baru ini.

Yang bisa mencegah, hanya bila tujuh kata dalam Piagam Jakarta (yang menjadi mukaddimah pembukaan konstitusi), dihapus. Ketujuh kata itu adalah sambungan dari sila pertama dasar negara “Ketuhanan yang Mahaesa.., dengan kewajiban bagi ummat Islam melaksanakan syariatnya.”

Sebuah disertasi doktor bidang sejarah di Universitas Indonesia menemukan fakta, bahwa tidak ada satu opsir Jepang pun yang pernah menemui Bung Hatta sesudah Proklamasi.

Apakah Jin Jepang atau Opsir Jepang yang pernah menemui Bung Hatta, yang pasti kesucian aqidah bangsa Indonesia sudah sukses dibatalkan.

Saya jadi teringat obrolan dengan Ustadz Abu Bakar Baasyir, di penjara Cipinang, sekitar sebulan sebelum beliau bebas, tahun lalu.

Beliau bilang begini, “Bangsa ini ndak akan pernah beres, karena kita selalu sia-sia membereskan segala urusan kalau pangkal urusan, yaitu aqidah bangsa ini, tidak dibersihkan.”

“Ibaratnya kita mau mandi di sungai, ya ndak akan pernah bersih badan kita. Lha wong di hulu sungai, di mata airnya, ada badak besar penuh lumpur dan buang air terus-terusan..”

“Kalau mau mandi sampai bersih, ya diusir dulu badaknya,” kata beliau.

Nah, kita sekarang mau ikut ambil bagian mengusir badak jorok itu, atau mau terus-menerus mandi di air yang mengandung kencing dan kotoran badak?

   * Penulis adalah kolumnis www.hidayatullah.com kini sedang menulis untuk The Brunei Times

Wednesday, February 28th, 2007

9 Kewajiban Ummat Terhadap Al-Aqsha

Alaqsha

Kalau para ahli fiqh menentukan bahwa suatu kewajiban ada yang terbatas dari segi waktu, demi kemuliaan si pelaku atau karena kesitimewaan tempatnya. Maka suatu kewajiban yang agung yang harus dilakukan ummat pada zaman ini adalah terhadap Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama ummat Islam, al-Haram ketiga dalam ajaran Islam serta tempat isranya Rasulallah salallahu alaihi wasallam. Ada sembilan kewajiban yang harus diemban ummat Islam saat ini, dimana pun mereka berada, yaitu :
Al-Aqsha

 

1. Memproklamirkan jihad untuk membebaskan Al-Aqsha dan melindunginya dari para pengganggunya. Hal ini sudah disepakati oleh seluruh fuqoha Islam. Mereka telah menetapkan, bahwa barang siapa yang menjajah sejengkal tanah dari kaum muslimin, maka hukumnya menjadi fardhhu ain bagi seluruh ummat Islam membebaskannya. Seorang perempuan boleh keluar tanpa izin dari suaminya, seorang budak boleh pergi tanpa izin dari majikanya, seorang anak boleh berangkat tanpa izin orang tuanya. Kalaupun Al-Aqsha telah lama dijajah, tetapi kewajiban ini belum lepas dari pundak setiap muslim. Mereka wajib membebaskanya sebelum dihancurkan oleh yahudi dan digantinya dengan Haikal Sinagog buatan mereka.

   2. Mengalirkan darah dan mengorbankan nyawa demi mejaga Al-aqsha dari kehancuran. Ini suatu keharusan, karena sesuatu yang diambil dengan darah maka harus dikembalikan dengan darah. Karena sesungguhnya amalan yang paling Allah cintai adalah mengalirnya setetes darah dalam jihad fi sabilillah. Dalam salah satu riwayat diterangkan, Allah sangat kagum bahkan tertawa ketika melihat seseorang menceburkan dirinya dalam medan perang. Sementara teman-temanya pada mundur, kemudian ia terbunuh oleh musuh.

   3. Memberikan hartanya untuk modal Jihad Fi Sabilillah di Palestina, diantaranya untuk melindungi Masjid Al-Mubarak. Dana ini diperlukan untuk melakukan reovasi, memeliharanya dari kerusakan dan menggaji para pegawainya serta memberikan santunan bagi orang yang suka rela memelihara Al-Aqsha. Disamping untuk memberikan bantuan bagi para keluarga yang bekerja di Al-Aqsha. Disamping itu, dana tersebut dapat digunakan untuk melakukan profaganda dan informasi bagi masyarakat umum.

   4. Menyisihkan waktu untuk sesekali mengunjungi Al-Aqsha bagi yang tinggal dekat denganya. Sebagaimana sabda Nabi salallah alaihi wasallam, setiap mayat terhenti amal terhenti amal ibadahnya kecuali orang yang berjuang di jalan Allah

   5. Memanjatkan doa dan mengajak kaum muslimin yang ada di barat dan timur untuk menjaga Al-Aqsha serta melindunginya dari setiap penodaan. Doa adalah senjata orang mukmin.

   6. Memebicarakan Al-Aqsha dalam setiap kesemptan dengan menyebut-nyebut urgensinya, keutamaanya. Hingga al-Aqsha menjadi topic pembicaraan di setiap majelis, dijelaskan di setiap mimbar.

   7. Yang mempunyai pengaruh atau pangkat menggunakan kedudukanya untuk melindungi al-Aqsha, mempertahankanya serta tidak pelit tarhadap apa yang akan mengangkat derajatnya dan menentramkan hatinya.

   8. Menulis tentang al-Aqsha bagi yang biasa berdakwah lewat tulisan dengan menjelaskan sejarahnya, tempat-tempat bersejarah, kewajiban membelanya. Menguaraikan tentang kewajiban ummat terhadap al-Aqsha dengan menyerbarkan tulisan tersebut agar al-Aqsha menjadi pembicaraan di tingkat dunia. Al-Aqsha adalah waritsan dunia, tidak boleh diganggu gugat apalagi dihancurkan. Dan agar para pemikir di seluruh jagat ini melakukan pembelaan terhadap al-Aqsha dan menjaga kehormatanya.

   9. Mengunjungi al-Aqsha, sebagaimana sabda Rasulallah sallallah alaihi wasalam, “Tidak disyariatkan bepergian kecuali bagi tiga masjid, Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjid al-Aqsha. Dan dalam riwayat yang lain, “Datangilah masjid tersebut dan shalat di dalamnya, jika tidak mampu maka carilah minyak bakar untuk menerangi dengan lampu-lampunya.

Dengan melakukan salah satu dari kesembilan kewajiban tadi, mungkin ummat Islam punya alasan di depan Allah ketika ditanya tentang pertanggung jawaban mereka terhadap al-Aqsha. Tanpa melakukan apapun dari kesembilan tadi maka, tidak ada udzur atau alasan yang dapat diterima di sisisNnya. Ia tidak akan dihiraukan oleh Allah. Semoga Allah menolong kita semua.

Muhammad Abu Shualik
Harian al-Sabil 20/2/2007

Celoteh Om feli pagi hari….

Saturday, February 10th, 2007

Minggu pagi, 11 Februari 2007.

Apakah DPR/DPRD masih diperlukan???

Pagi ini perasaan saya campur-baur antara kesal, marah, bingung dan entah apa lagi. Yang jelas pagi ini perasaan saya jadi nggak enak, saya jadi nggak enak sarapan, nggak enak ngopi, nggak enak baca koran dan nggak enak  semuanya. Saya menyesal baca berita yang membuat saya jadi nggak enak. Saya bingung apa maunya mereka. Saya nggak habis pikir, mereka itu orang-orang terhormat apa bukan? Harga diri mereka begitu rendah kalau sudah berhadapan dengan uang. Sebelum saya menumpahkan unek-unek saya ini lebih lanjut, mungkin perlu saya bercerita sekilas tentang hal yang membuat saya jadi begini.

Pada bulan-bulan terakhir tahun lalu pemerintah mengeluarkan peraturan pemerintah (PP) 37 tahun 2006 yang mengatur tentang tunjangan komunikasi untuk anggota DPR/DPRD se-Indonesia. Dalam PP yang berlaku surut tersebut anggota DPR/DPRD mendapat tunjangan komunikasi terhitung sejak Januari 2006 dalam jumlah yang luar biasa besarnya. Sementara itu rakyat yang diwakili oleh anggota dewan (yang terhormat?) itu sedang bergelut dengan penderitaan panjang akibat ditimpa musibah yang datang silih berganti.

Keluarnya PP yang cukup kontroversial ini, menimbulkan protes dari berbagai elemen masyarakat. Berbagai demonstrasi dilakukan banyak pihak menuntut pemerintah untuk segera membatalkan peraturan yang bisa menyengsarakan rakyat ini.

Untunglah, ternyata pemerintah masih mempunyai hati nurani dan masih mau mendengarkan keluhan rakyatnya. Awal tahun ini PP yang berpotensi menguras keuangan negara itupun direvisi  oleh pemerintah. Masyarakatpun lega, karena dana APBN dan ABPD tidak jadi terkuras untuk menebalkan pundi-pundi anggota dewan yang katanya wakil rakyat itu.

Tapi keputusan pemerintah merevisi PP 37 tahun 2006 ini membuat berang sebagian besar anggota DPRD. Mereka yang sudah terlanjur menerima uang tunjangan ini enggan mengembalikan dana tersebut ke kas negara. Mereka seperti orang kebakaran jenggot, kasak-kusuk menyusun rencana menuntut pemerintah untuk tidak merevisi PP tersebut dan memberlakukannya kembali.

Pagi ini mereka yang menggabungkan diri dalam Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (Adkasi), Asosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia (Adeksi), dan Badan Komunikasi DPRD Provinsi se-Indonesia menyiapkan berbagai aksi untuk menolak revisi PP 37 Tahun 2006. Bahkan menurut Ketua Adkasi M. Harris, hingga Jumat kemarin (9/2) sudah 5 ribu orang anggota DPRD yang mendaftarkan diri untuk ikut demo ke Jakarta. Namum setelah mendapat surat dari pimpinan DPR, maka diputuskan hanya seperlima saja (seribu orang) yang turun ke Jakarta.

Hingga tadi malam, 700 orang anggota DPRD itu telah tiba di Jakarta. Mereka menginap di Hotel Sahid Jaya dan Hotel Shangri-La, Sedangkan sisanya menyusul hari ini.

Nah…, itulah sekilas cerita yang pagi ini membuat saya jadi nggak enak, jadi bingung, kesal dan marah. Saya melihat mereka yang mengaku wakil rakyat ini sudah tidak berprilaku lagi sebagai wakil rakyat. Saya melihat mereka yang dikatakan anggota dewan yang terhormat ini sudah tidak terhormat lagi. Mereka sudah berprilaku sebagai lintah darat yang taunya hanya mengisap darah masyarakat. Mereka lebih buas dari binatang yang paling buas, karena binatang yang paling buas pun tidak pernah memakan sesuatu melebihi kebutuhannya. Mereka vampir yang bewujud manusia yang dibungkus dengan jas dan dasi mewah. Dengan penampilannya, mereka memainkan sandiwara seakan mereka adalah pejuang yang selalu berjuang untuk kepentingan masyarakat. Mereka adalah makhluk jadi-jadian yang selalu mengenakan topeng sebagai orang terhormat, sehingga, sewaktu-waktu mereka bisa berubah menjadi sosok yang mereka inginkan.

Sudah berapa banyak uang rakyat yang habis untuk membayar gaji dan tunjangan mereka. Sudah berapa banyak anggaran negara dan anggaran daerah yang terkuras untuk mereka, sehingga dana untuk pembangunanpun terpaksa dikurangi demi kesejahteraan mereka. Tapi mereka seperti orang yang habis minum air laut, makin diminum makin haus. Mereka tidak pernah merasa puas dan tak pernah merasa cukup. Padahal kalau mereka mau jujur, gaji, tunjangan, uang reses, uang lainnya yang mereka terima sudah lebih dari cukup. Merekapun tahu, bahwa rakyat yang mereka wakili masih menderita kekurangan. Tapi karena mereka sudah dikuasai nafsu serakah alias tamak, maka semuanya itu seakan tak terasa oleh mereka. Mata mereka seakan buta, telinga mereka seakan tuli, perasaan mereka seakan sudah hilang, sehingga mereka seakan orang yang sangat perlu dikasihani, karena mereka sedang dalam kekurangan, sementara tugas mereka sangat berat dalam memperjuangkan rakyat yang mereka wakili. 

Kini dalam perjuangan itu, mereka merasa perlu untuk menuntut pemerintah membatalkan revisi PP 37/2006 itu. Untuk itu mereka merasa perlu untuk ke Jakarta dan karena mereka merasa sebagai orang-orang terhormat, mereka perlu menginap di hotel berbintang seperti Sahid Jaya dan Shangri-La. Mereka seakan tidak tahu bahwa dana yang mereka pakai untuk ke Jakarta dan menginap di hotel mewah adalah uang rakyat. Saya bingung, entah apa yang mereka cari? Tapi saya punya ide. Kalau dulu anggota dewan kan tugasnya mengawasi pemerintah. Kemudian mereka yang di daerah tugasnya milih gubernur, walikota dan bupati, sedang kan di pusat anggota dewan yang merangkap anggota MPR milih presiden.

Nah…, sekarang presiden, gubernur, walikota dan bupati kan dipilih langsung oleh rakyat. Bagaimana kalau DPR-RI dan DPRD se-indonesia ini kita bubarkan saja, sedang tugas untuk mengawasi pemerintah langsung diawasi oleh rakyat. Kalau ini kita dilakukan, saya yakin banyak dana yang bisa kita manfaatkan untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat. Masyarakatpun akan terpacu untuk aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena mereka terlibat langsung dalam pemilihan kepala negara, kepala daerah dan terlibat langsung dalam mengawasi setiap gerak langkah pemerintah.

Gimana…, setuju khan???

Saturday, February 10th, 2007
The Amazing Child
Buat halaman ini dlm format PDF

Cetak halaman ini

Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Kamis, 04 Januari 2007

ImageBocah 5 tahun hafal Al Qur’an dan Maknanya.

"Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami pula yang akan menjaganya." (QS Al-Hijr: 15) 

Demikian Allah subhaanahu wata’aala berfirman, dan kebenaran mutlak
atas firmanNya. Al Quran yang telah diturunkan akan senantiasa
dijaganya, tiada satu makhlukpun yang berkuasa untuk menghapus hukumnya
dan menghilangkan pengaruhnya dari jiwa hamba-hamba-Nya yang suci. Dia
yang membuat aturan dan undang-undang dasar hidup makhluknya. Maka
hanya Dia pula yang memiliki kuasa untuk menghancurkannya atau
mengokohkannya.

Anak kecil dalam film ini (sebagai bukti kebesaranNya) adalah nyata
adanya, sejak umur 3th, kedua orang tuanya (Hafidz & Hafidzah Al
Qur’an) telah memperkenalkan Al Qur’an kepada Husein, putranya. Dan
dalam tempo 2,5 th ia dapat menghafal AlQur’an beserta makna dan
mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Masih banyak lagi
keajaiban yang dimiliki oleh anak kecil tersebut dalam film ini yang
dapat membuat anda berdecak kagum atas kebesaran-Nya. Semoga
Bermanfaat…
 

Production by: Ar Rahmah Media
Durrasi: 27 minit
Bahasa: Iran
Subtittle: Indonesian
Rilis: Januari 2007
Kategori: Education
Layanan Pemesanan: 021 6884 1087

koleksi juga yang ini
buat tontonan adik2 kita….

(jangan nonton smackdown ya!!! dah ga zaman lage)
175288826_e408f555b8_o

“Mereka memperkosaku seperti ini !”

Wednesday, February 7th, 2007

Muslimah_jihadArtikel ini ditujukan untuk setiap muslim yang masih memiliki darah mengalir di nadinya


Nadia adalah salah satu korban tentara Amerika di penjara Abu Ghraib.
Dia ditangkap tanpa alasan. Ketika dia dibebaskan dari penjara, tidak
langsung kembali ke pangkuan keluarganya sebagaimana kebanyakan tahanan
lainnya yang telah mengalami hal buruk, meskipun ketika dia telah
terbakar oleh api penindasan dan kerinduan pada keluarganya.

Nadia kabur dengan segera setelah dia meninggalkan penjara, bukan
karena perasaan malu yang akan diterimanya karena sejumlah kejahatan
yang dilakukannya, akan tetapi karena apa yang telah dialami olehnya
dan wanita Iraq lain yang tertangkap, yaitu pemerkosaan dan penyiksaan
yang dilakukan oleh tentara Amerika di penjara Abu Ghraib. Dinding
penjara mengungkapkan banyak cerita tragis, namun apa yang dikisahkan
Nadia merupakan kebenaran hidup dan sekaligus neraka hidup.

Nadia memulai ceritanya:

"Aku sedang mengunjungi salah seorang kerabatku, kemudian tiba-tiba
tentara Amerika memasuki rumahnya dan mulai menggeledah rumah itu.
Mereka menemukan beberapa senjata ringan. Maka merekapun menangkap
semua orang yang berada di rumah itu termasuk aku. Aku mencoba
menjelaskan pada penerjemah yang menyertai patroli Amerika bahwa aku
hanyalah seorang pengunjung. Akan tetapi pembelaanku gagal. Aku
kemudian menangis, memohon pada mereka, sampai hilang kesadaran karena
takut ketika mereka membawaku ke penjara Abu Ghraib.

Nadia melanjutkan: "mereka menempatkanku sendirian di sebuah sel
penjara yang gelap dan kotor. Aku berharap aku akan segera dibebaskan,
utamanya setelah penyelidikan terbukti aku tidak melakukan kejahatan".

Nadia menjelaskan sambil air matanya mengalir ke pipinya, sebuah pertanda betapa banyak dia telah mengalami penderitaan.

"Hari pertama sangat menyusahkan. Selnya berbau tidak sedap, lembab dan
gelap, kondisi ini membuatku semakin lama semakin takut. Suara tertawa
prajurit di luar sel semakin membuatku ketakutan. Aku khawatir akan apa
yang menimpaku nanti. Untuk pertama kalinya aku merasa berada dalam
cengkraman situasi yang sulit dan aku telah memasuki sebuah dunia yang
tidak dikenal yang aku tidak akan pernah keluar darinya.

Ditengah beraneka ragamnya perasaanku saat itu, aku mendengar suara
seorang tentara wanita Amerika berbicara dalam bahasa Arab. Dia berkata
kepadaku: "Aku tidak mengira penjual senjata di Iraq adalah wanita."
Ketika aku mulai mencoba menjelaskan kepadanya kondisi yang sebenarnya,
dia memukulku dengan kejam. Aku menangis dan berteriak "Demi Allah !
aku dianiaya, demi Allah ! aku dianiya"

Tentara wanita itu menghujaniku dengan cacian dengan cara yang belum
pernah aku bayangkan bisa terjadi atau aku akan diperlakukan seperti
itu dalam keadaan apapun selamanya. Kemudian dia mulai menertawakanku
sambil mengatakan bahwa dia telah memonitorku sepanjang hari dengan
satelit, dan bahwa mereka mampu melacak musuh-musuh mereka meskipun
sedang berada di dalam kamar tidur mereka sendiri dengan teknologi
Amerika.

Kemudian dia tertawa dan berkata, "Aku mengawasimu ketika kamu bercinta
dengan suamimu." Aku menjawab dengan suara kebingungan "Tapi aku belum
menikah".

Dia memukuliku selama lebih dari 1 jam dan dia memaksaku minum segelas
air, yang kemudian kuketahui mereka memberi obat di air itu. Aku
mendapatkan kembali kesadaranku setelah 2 hari dalam keadaan telanjang.
Segera aku tahu jika aku telah kehilangan sesuatu yang hukum apapun di
dunia tidak akan mampu mengembalikannya kepadaku lagi. Aku telah
diperkosa. Aku kemudian histeris tak terkontrol, dan aku mulai
memukulkan kepalaku dengan keras ke tembok sampai lebih dari lima
tentara Amerika yang dikepalai tentara wanita itu memasuki sel dan
mulai memukuliku, kemudian mereka memperkosaku bergantian sambil
tertawa-tawa dan menperdengarkan musik dengan keras.

Hari demi hari skenario pemerkosaan terhadapku diulangi. Dan setiap
hari mereka menemukan cara baru yang lebih kejam dibanding dengan yang
sebelum-sebelumnya."

Nadia mulai menjelaskan perbuatan mengerikan dari Amerika bajingan:

"Setelah sekitar satu bulan, seorang tentara negro memasuki selku dan
melemparkan 2 potong pakaian militer Amerika kepadaku. Dalam bahasa
Arab yang lemah dia mengatakan agar aku memakainya. Setelah dia menutup
kepalaku dengan kantong hitam, dia menuntunku ke toilet umum yang ada
pipa untuk air dingin dan panas, dan dia memintaku untuk mandi.
Kemudian dia menutup pintu dan pergi.

Aku menjadi sangat lelah dan merasakan kesakitan, tanpa mempedulikan
banyaknya memar di tubuhku aku menuangkang sejumlah air ke badanku.
Sebelum aku selesai mandi, tentara negro tadi masuk ke dalam. Aku
ketakutan dan memukul wajahnya dengan mangkok air. Namun dia sangat
kuat, dia memperkosaku dengan kejam dan meludahi mukaku, kemudian dia
pergi dan kembali lagi dengan 2 tentara yang membawaku kembali ke sel.

Perlakuan seperti itu terus berlanjut, yang paling parah kadang aku
diperkosa sampai 10 kali dalam sehari, membuat kesehatanku sangat
buruk."

Nadia berlanjut mengungkapkan perbuatan Amerika yang mengerikan terhadap wanita-wanita Iraq, dia berkata:

"Setelah lebih dari 4 bulan, seorang tentara wanita datang, dan aku
menyimpulkan dari percakapannya dengan tentara lainnya jika namanya
adalah Mary. Dia berkata kepadaku "sekarang kamu memiliki kesempatan
emas, karena seorang petugas yang memiliki posisi tinggi akan
mengunjungi kita hari ini. Jika kamu menghadapinya dengan sikap yang
positif kamu akan dibebaskan, terutama karena kami sekarang yakin kamu
tidak bersalah."

Aku menjawab, "Jika kalian yakin aku tidak bersalah, mengapa kalian tidak membebaskan aku?"

Dia menjerit dengan gelisah, "Satu-satunya yang menjamin terbebasnya kamu adalah sikap positifmu terhadap mereka."

Dia membawaku ke toilet umum, dan dia mengawasiku mandi sambil membawa
tongkat tebal untuk memukulku jika aku tidak melakukan perintahnya.
Kemudian, dia memberiku make up, dan memperigatkanku untuk tidak
menangis dan merusak make up ku. Lalu dia membawaku ke sebuah ruangan
kosong yang di situ tidak ada apapun kecuali sebuah penutup lantai.
Setelah satu jam dia datang dengan ditemani 4 tentara dengan memegang
kamera. Dia melepas bajunya dan mulai menggangguku seoalah-olah dia
adalah seorang lelaki. Tentara lainnya tertawa dan memperdengarkan
musik yang ribut, mengambil photoku dalam berbagai pose, dan mereka
menunjuk-nunjuk wajahku. Yang wanita menyuruhku tersenyum, jika tidak
dia akan membunuhku. Dia mengambil pistol dari salah satu temannya dan
menembakkan empat peluru di dekat kepalaku seraya bersumpah bahwa
peluru yang kelima akan ditembakkan tepat di kepalaku.

Setelah itu, keempat tentara lainnya memperkosaku secara bergantian
sampai aku kehilangan kesadaranku. Ketika kesadaranku pulih aku
menemukan diriku di sel dengan bekas-bekas gigitan, kuku dan rokok ada
di sekujur tubuhku."

Nadia berhenti bercerita tentang tragedi yang menimpanya untuk menyeka
air matanya, kemudian dia melanjutkan lagi: "Kemudian suatu hari Mary
datang dan mengatakan kepadaku bahwa aku kooperatif dan akan dibebaskan
setelah aku menonton film yang mereka rekam. Aku merasa sakit setelah
menonton filmnya, dan Mary mengatakan, "Kamu telah diciptakan hanya
untuk membuat kami bersenang-senang". Saat itu aku menjadi sangat marah
dan aku menyerangnya meskipun aku takut akan reaksinya, aku akan
membunuhnya kalau saja tentara lain tidak turut campur. Ketika para
tentara melepaskanku, Mary menghujaniku dengan pukulan, kemudian mereka
meninggalkanku.

Setelah kejadian itu, tidak ada seorangpun yang menggangguku selama
lebih dari satu bulan. Aku menghabiskan masa itu dengan beribadah dan
berdoa pada Allah Ta’ala yang memiliki seluruh kekuatan untuk
menolongku.

Mary datang dengan beberapa tentara yang memberiku pakaian yang
kukenakan ketika mereka menangkapku dan membawaku ke sebuah mobil
Amerika. Kemudian mereka melemparkanku di sebuah jalan raya setelah
memberiku 10.000 dinar Iraq.

Aku pergi ke sebuah rumah yang berdekatan dengan tempat aku dibuang,
dan untuk mengetahui reaksi keluargaku, aku memilih mengunjungi salah
seorang kerabatku supaya mereka mengetahui apa yang telah menimpaku
ketika menghilang. Aku mengetahui bahwa saudaraku telah memasang papan
tanda duka untukku selama lebih dari 4 bulan, mereka menganggapku
sebagai orang yang sudah mati.

Aku memahami jika tikaman malu sudah menungguku. Maka, aku pergi ke
Baghdad dan menemukan sebuah keluarga yang baik yang menampungku, dan
aku bekerja pada keluarga ini sebagai pembantu dan guru privat bagi
anak-anaknya.

Nadia terheran dalam kesakitan, penyesalan dan kemarahan:

"Siapa yang akan memuaskan dahagaku? Siapa yang akan mengembalikan
keperawananku? Apa salah keluarga dan familiku? Aku mengandung seorang
bayi, bahkan akupun tidak tahu siapa ayahnya."

Dan Nadia mengakhiri ceritanya sampai di sini.

Apakah Amerika hanya memperkosa Nadia ataukah mereka memperkosa seluruh
pria dan wanita di Ummat Islam ? Nadia adalah saya dan anda, istrimu
dan juga istriku, saudarimu dan juga saudariku, ibumu serta ibuku.
Dimanakah para pembela kesucian Islam! Dimanakah para pembela Islam!


"Mungkin masih banyak kisah menyesakan dada, bagi kita ummat Islam.
Mungkin masih ada Nadia-Nadia lain di dalam penjara penuh penjaga babi
dan kera berbangsa Amerika. Dimanakah kalian, jikalau kalian tidak
tersentuh dengan cerita saudari kita, marahkah kalian dengan perlakuan
manusia-manusia yang lebih kotor dari binatang ternajis sekalipun,
bahkan mungkin mereka menjadi yang paling hina di Dunia dan Akhirat.
Bangunlah wahai ummat!! Tidur kalian sudah terlalu lelap!!"

Sumber: lahaonline.com