Archive for December, 2007

Pattaniku

Sunday, December 16th, 2007

Patani, Jauh Di Mata, Dekat di Hati

Pattani

Memasuki Patani,  mirip ke Aceh tempo dulu. Meski budaya Muslim Melayu sangat kental. Namun di mana-mana masih "diawasi" tentara

Hidayatullah.com–Alhamdulillah setelah tinggal di Bangkok nyaris dua bulan dan ngimpi ke Patani sejak lama, tiba-tiba saya dikontak National Reconciliation Council of Southern Thailand conflict untuk ikut sharing experiences tentang peacebuilding process pada workshop di Patani 7 – 8 December 2007.  Kesampaian juga mimpinya.  Allah SWT memang Maha Tahu keinginan hambanya.

Maka, tanggal 7 December 2007 pagi saya terbang ke Hatyai,  kota terdekat dengan Patani yang punya bandara (karena di tiga propinsi Thailand, hanya Narathiwat yang punya Bandara, itupun hanya ada satu flight sehari ke Bangkok dengan NokAir, sungguh kayak anak tiri).

Tiba di Hatyai, atmosfir sudah sedikit berbeda.  Di mobil  jemputan kami ada stiker bertuliskan Allah dan Muhammad serta sang supirnya Muslim.  Pemandangan yang sukar ditemui di Bangkok .  Kalimat-kalimat Arab juga sudah mulai mudah dijumpai di Hatyai berdampingan dengan kalimat-kalimat Thailand .  Tertera pada papan nama instansi pemerintah maupun swasta.

Perjalanan ke Patani memakan waktu satu setengah jam dari Hatyai.  Jalanannya luas dan lengang dengan dua jalur terpisah yang mulus dan lebar.  Hutan lebat diselingi pertanian rakyat adalah pemandangan utama perjalananan antara Hatyai dan Patani.

Sekedar informasi, Hatyai adalah kota terbesar di Provinsi Songkla  yang penduduknya 50 %  Muslim. Bersama-sama dengan provinsi Patani, Yala, dan Narathiwat,  keempatnya dijuluki sebagai Patani Darussalam.  Maka, nama Patani bisa berarti tiga makna : kota Patani, propinsi Patani, atau Patani Darussalam yang berarti gabungan dari empat propinsi mayoritas Muslim di Selatan Thailand .

Memasuki Patani,  atmosfir semakin berbeda.  Warna budaya Muslim Melayu semakin kental.  Para Muslimah berjilbab, tua muda berseliweran dengan jalan kaki, naik motor tanpa helm, ataupun dengan angkutan umum.  Para lelaki tak banyak terlihat di jalan.  Atmosfir kedua yang terasa berbeda adalah security yang amat ketat.  Memasuki Patani berarti memasuki sekian banyak military checkpoint dan police checkpoint. Setiap beberapa kilo ada military checkpoint. Persis Aceh ketika jaman darurat militer sebelum tsunami dan Helsinki agreement.

Bagi mereka yang sering singgah ke Malaysia dan Aceh,  sepintas pemandangan di Patani tak jauh berbeda.  Yang menandakan bahwa ini wilayah Thailand hanyalah potret Raja Bhumibol yang masih bertebaran disana sini dan bendera Thai serta bendera kuning kerajaan yang bertengger di sekolah, hotel, maupun instansi pemerintah.

Penduduknya sendiri lebih banyak yang bercakap-cakap dalam bahasa Melayu Patani ketimbang bahasa Thai. Utamanya kaum dewasa dan tua.  Bahasa Melayu mereka unik.  Bahasa “percakapan kampong”-nya sulit ditangkap karena lidah seperti ditekuk, persis Melayu Kelantan Malaysia . Namun bahasa formalnya amat mirip dengan Melayu Malaysia , mudah dipahami oleh telinga Indonesia .  Saya ikut shalat Jum’at di Masjid desa Tiraya dan bahasa khotbah Jum’at –nya amat mudah dicerna.  Juga bahasa penyiar radio-nya.  Cukup understandable.

Konflik di Patani, Yala, dan Narathiwat sebenarnya sudah berlangsung puluhan tahun. Sama tuanya dengan ketika ketiga propinsi tersebut dilebur ke dalam kerajaan Siam melalui perjanjian sepihak oleh pemerintah kolonial Inggris pada awal abad 20.

Sebelum dipaksa bergabung dengan Siam, Patani adalah kesultanan Mandiri yang tersohor sebagai salah satu pusat studi Islam di Asia Tenggara.  Konflik yang berskala meluas dan massif berlangsung mulai awal 2004. Ketika terjadi penyerbuan Masjid Krue Se di Patani pada April 2004  lalu pembantaian Tak Bai di Narathiwat pada Oktober 2004.

Kedua peristiwa tersebut menambah eskalasi konflik Thailand Selatan dan memaksa pemerintah Thai era Thaksin berpikir keras cara mengintegrasikan warga Thai beretnis Melayu (yang tak pernah merasa sebagai orang Thai ini) ke dalam Negara Thailand yang mayoritas Buddhist.

Sampai kini konflik masih berlangsung. Pekan lalu sebuah karaoke dibom oleh orang tak dikenal di luar kota Patani hingga tujuh orang tewas. Bulan Agustus silam dua rumah dibakar di desa Tiraya, tak jauh dari kota Patani.

Penduduk hidup dalam cengkeraman ketakutan.  Kendati kehidupan sepintas lalu berjalan normal. Mahasiswa tetap pergi kuliah ke kampus, pedagang berjualan ke pasar, pegawai bekerja di kantor, jama’ah shalat tetap pergi ke masjid.  Namun setelah maghrib kondisi berubah,  jalanan menjadi makin lengang, kedai menjadi semakin sepi. Minoritas China dan Buddhist tak tampak di jalan-jalan umum.   Sekali lagi, mirip Aceh di era sebelum Perjanjian Helsinki.

Konflik Patani secara tak langsung mengusir warga Thai non Muslim keluar dari ketiga provinsi tersebut.  Juga mengusir warga Muslim Patani sendiri yang bingung mengungsi kemana. Mengungsi ke Bangkok tak lebih baik karena juga tak merasa sebagai negeri sendiri.  Ke Malaysia kendati secara kultural sama, namun juga mengundang masalah karena negaranya berbeda dan tak cukup ramah menampung ‘pendatang haram.’ Kampus Prince of Songkla University (PSU), Patani Campus, kini 90% mahasiswanya Muslim dari ketiga provinsi sekitar.  Padahal dahulu sebelum konflik, mahasiswa dari seantero Thai yang berbeda agama datang studi kesana.  Tak heran, pemandangan di PSU Patani Campus mirip dengan kampus Indonesia .  Banyak mahasiswi berjilbab, ada masjid, ada banyak tempat shalat, makanan semua halal. Sangat berbeda dengan wajah kampus-kampus di Bangkok .

Jangan ditanya tentang bisnis,  kendati ada Big C Superstore dan sekian banyak dealer mobil serta cellular company, namun bisnis mereka tak lebih hidup dari bagian Thai yang lain.  Walau demikian, mesti diakui bahwa infrastruktur Patani amatlah baik, jalan luas dan mulus, listrik dan lifelines tersedia. Jauh lebih baik dari Aceh. Tapi tidak lebih baik dari propinsi Thai yang lain.  Sedikit lebih baik-lah dari Narathiwat yang terkategori termiskin.

Satu hal yang menarik, di pasar tradisonal Patani, kedai DVD nya banyak menjual lagu-lagu dari artis Indonesia .  Ada Laudya Cinthya Bella, Krisdayanti, dll.  Tapi kebanyakan yang amat laris manis adalah Dangdut.  Mereka bilang, kami suka dangdut Indonesia .   Juga jangan tanya tentang sinetron Indonesia (yang juga mudah ditangkap dengan parabola), banyak yang hobi juga menonton sinetron dan film Indonesia .

Ada banyak cerita tentang Patani, kisah tentang semangat kaum minoritas bertahan di tengah mayoritas.  Perjalanan kebingungan menentukan jati diri. Wajah kekerasan yang menahun dan melegenda. Ketidakpastian dan kecemasan yang selalu mendominasi hari-hari.  Hidup terasing di negerinya sendiri…

Patani memang terbilang dekat dari Bangkok, tapi bagi sebagian besar warga Thai terasa begitu jauh (di hati). [Heru Susetyo, sedang melanjutkan di Mahidol University/www.hidayatullah.com]

I’m a Moslem

Thursday, December 13th, 2007

Seorang Muslim Menolong Seorang Yahudi Yg Dikeroyok di AS

Seorang muslim menolong tiga orang Yahudi yang dikeroyok oleh
sekelompok orang, yang merasa tidak senang ketika salah seorang Yahudi
itu mengucapkan "selamat hari Hanukkah."

Peristiwa yang terjadi pada hari Jumat, pekan kemarin kini sedang
diselidiki Kepolisian New York yang membidangi kejahatan-kejahatan
bernuansa rasial.

Dalam keterangan pers hari Rabu (12/12), juru bicara ketiga Yahudi
itu, Toba Hellerstein mengatakan, perselisihan yang terjadi di kereta
bawah tanah Q berawal ketika seseorang mengatakan "selamat natal" dan
dijawab oleh salah seorang kliennya yang Yahudi, bernama Walter Adler
dengan kata "selamat Hanukkah. "

Menurut Adler, ketika ia mengucapkan kata "selamat Hanukkah" muka
orang tadi berubah seolah-olah ia mengatakan sesuatu yang buruk tentang
ibu orang itu. Kemudian, dua orang perempuan yang satu kelompok dengan
laki-laki yang marah tadi, mulai melontarkan kata-kata anti-Yahudi.
Setidak ada 10 orang dalam kelompok itu.

Salah seorang dari kelompok itu mengatakan, "Oh, Hanukkah. Hari di
mana Yahudi membunuh Yesus, " kata Hellerstein menirukan. Ketika Adler
berusaha, seorang laki-laki dalam kelompok itu tiba-tiba meninjunya.

Melihat itu, seorang penumpang-mahasiswa Muslim asal
Bangladesh-Hassan Askari menolong Adler. Askari pun ikut di maki-maki
oleh kelompok tadi.

"Seorang warga Muslim Amerika menyelamatkan kami, sementara orang
lain dari komunitas kami yang ada dalam kereta, sama sekali tak
melakukan sesuatu, " ujar Adler.

Ketika perkelahian terjadi, Adler menarik rem darurat dan kereta
berhenti di stasiun DeKalb Avenue. Polisi segera turun tangan naik ke
kereta.

Juru bicara kejaksaan distrik Brooklyn, SAndy Silverstein, sepuluh
orang pelaku pengeroyokan yang usianya antara 19 dan 20 tahun sudah
ditangkap, termasuk Askari. Namun ia dibebaskan setelah Adler
mengatakan pada polisi bahwa Askari bukan anggota kelompok yang
menyerangnya.

Adler sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Long Island karena
luka-luka yang dideritanya. Menurut Silverstein, pengadilan terhadap 10
orang yang mengeroyok Adler akan berlangsung pada 7 Februari tahun
depan dengan tuduhan, penyerangan, percobaan pelecehan, membuat onar
dan bertindak tidak sopan.

Sementara hasil penyelidikan Kepolisian New York akan menentukan
apakah para tersangka akan dikenai tuduhan kejahatan bernuansa
kebencian ras. (ln/cnn/Islamicity)

Berita en pideo na!!!

 

Hati mereka adalah Hati setan dalam jasad manusia

Sunday, December 9th, 2007

Penyeru Ke Pintu Jahanam

 

Ditulis pada Desember 9, 2007
oleh abu mujahid

Dari Huzhaifah bin Al-Yaman berkata, “Manusia biasa bertanya pada Rasulullah saw. tentang kebaikan, sedang aku bertanya kepada beliau tentang kejahatan, karena khawatir akan mengenaiku.” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, kami dahulu di masa Jahiliyah dan penuh kejahatan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini (Islam). Apakah setelah kebaikan ini ada lagi keburukan?” Rasul saw. menjawab, ”Ya.” “Apakah setelah keburukan itu ada kebaikan?” Rasul saw. menjawab, ”Ya, tetapi ada dukhan.” “Apa dukhan itu?” Rasul saw. menjawab, ”Kaum yang mengambil hidayah dengan hidayah yang bukan dariku, engkau kenali dan engkau ingkari.” Saya berkata, ”Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?” Rasul saw. menjawab, ”Ya, tetapi ada para penyeru ke neraka jahanam; barangsiapa yang menyambut mereka ke neraka, maka mereka melamparkannya ke dalam neraka.” Saya berkata, ”Ya Rasulullah, terangkan ciri mereka pada kami?” Rasul saw. menjawab, ”(Kulit) mereka sama dengan kulit kita, berbicara sesuai bahasa kita.” Saya berkata, ”Apa yang engkau perintahkan padaku jika aku menjumpai hal itu?” Rasul saw. bersabda, ”Komitmen dengan jamaah muslimin dan imamnya.” Saya berkata, ”Jika tidak ada pada mereka jamaah dan imam?” Rasul saw. menjawab, ”Tinggalkan semua firqah itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon sampai menjumpai kematian dan engkau tetap dalam kondisi tersebut.” (Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menceritakan satu informasi kenabian yang mutlak kebenarannya. Apalagi hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dua imam hadits yang disepakati keshahihan haditsnya oleh para ulama. Dan hadits ini dikeluarkan oleh Huzhaifah bin Yaman ra. seorang sahabat Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat pakar di bidang fitnah dan masa depan. Pertanyaan yang dikemukakan Huzhaifah terasa aneh, kalau sahabat lain bertanya tentang kebaikan, justru ia bertanya tentang keburukan, agar dapat diantisipasi oleh dirinya dan umat Islam. Huzhaifah paling tahu masalah-masalah rahasia, tidak salah kalau ia disebut inteljen Rasulullah saw. Umar bin Khattab ra. ketika ingin mengetahui orang-orang munafik bertanya pada Huzhaifah bin Yaman. Bahkan Umar sendiri –karena begitu besar rasa takutnya– bertanya apakah ada sifat kemunafikan pada dirinya, yang kemudian di jawab Huzhaifah, tidak ada.

Hadits ini menceritakan betapa nanti akan terjadi distorsi pengamalan umat Islam terhadap ajaran Islam. Sehingga Islam diliputi polusi atau syubhat yang mengkaburkan kebenaran ajaran Islam. Pada saat itulah muncul fitnah dan banyak orang-orang yang menyeru ke pintu neraka Jahanam (Du’at ilaa abwaabi Jahnnam).

Dakwah yang paling gencar yang dilakukan para penyeru ke jahanam adalah mengajak manusia agar tidak melibatkan Islam dalam kehidupan mereka. Pada sisi yang lain mereka juga menyeru untuk menghalalkan segala cara dalam aktivitas kehidupannya. Dari sisi pemikiran yang banyak diseru oleh para penyeru ke neraka jahanam adalah kesesatan, penyimpangan, dan syubhat yang dimasukkan atas nama ajaran Islam. Sehingga muncullah aliran sesat dan gerakan kemurtadan yang mengatasnamakan Islam, dan umat Islam banyak yang tertipu dengan ajakan mereka.

KARAKTERISTIK PARA PENYERU KE NERAKA JAHANNAM

1. Memiliki Warna Kulit dan Bahasa yang Sama dengan Mayoritas Rakyat.

Para penyeru tersebut ternyata para pemimpin atau tokoh masyarakat atau tokoh politik atau tokoh agama yang diikuti oleh banyak masa sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain oleh imam Muslim, yaitu: “Pemimpin yang tidak mengambil hidayah Rasul dan juga tidak mengikuti sunnahnya.” Ungkapan yang sama juga disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash: 41-42, “Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah).”

Mereka muncul dari kelompok Islam dan memimpin umat Islam. Kulit dan bahasanya sama dengan mayoritas umat Islam. Merekalah kelompok yang paling bahaya bagi umat Islam karena mereka menggunakan istilah-istilah Islam yang dapat menyesatkan umat Islam, mereka juga sangat membahayakan karena lahir dari kelompok Islam dan memiliki pengikut yang banyak dari umat Islam.

2. Mengajak Manusia ke Neraka Jahannam

Ungkapan-ungkapan mereka mengandung kekufuran dan kefasikan, dan mereka menyangka itu benar. Ungkapan kufur itu dibungkus ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits. Sementara masyarakat awam banyak yang mengikuti pemimpin tersebut karena kebodohannya. Ungkapannya ibarat sabda, perbuatannya selalu dianggap benar. Pemimpin tersebut mengajak rakyatnya untuk masuk ke neraka Jahanam (sadar atau tidak sadar) dengan berbagai macam cara. Maka mereka adalah pemimpin yang sesat dan menyesatkan.

Adapun cara-cara yang digunakan manusia untuk menyesatkan mereka dan mengajak ke neraka antara lain:

a. Memimpin rakyatnya ke jalan setan yang mengantarkan ke neraka. “Ia berjalan di muka kaumnya di hari kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi.” (QS. Hud: 98).

b. Mengunakan sarana media massa. “(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.” (QS An-Nahl: 25)

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. As-Shaaf: 8 ).

c. Menggunakan sarana musik dan nyanyian. “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqmaan: 6).

d. Mengubah nikmat Allah dengan kekufuran. “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu, neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.”.

Dalam upayanya untuk menyesatkan manusia para pemimpin itu menggunakan berbagai macam cara yang dikuasainya. Seperti menggunakan harta untuk menipu kaum lemah dan miskin, menggunakan media. Bahkan, kalau tidak mau tunduk, mereka menyiksanya dan membunuhnya. Begitulah di antara ciri penyeru ke neraka Jahanam.

3. Mereka Memiliki Hati Setan

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim: ”Hati mereka adalah hati setan dalam jasad manusia.” Para penyeru ke neraka Jahanam hati mereka sangat keras melebihi kerasnya batu sehingga tidak merasakan apa yang dirasakan umatnya. Bahkan untuk mengokohkan kekuasaanya mereka tidak segan-segan menyakiti, menyiksa, dan membunuh rakyatnya (pengikutnya) sendiri.

Sesungguhnya hati jika sudah mengeras, maka kehilangan daya sensitivitasnya. Mereka menganggap sama antara yang baik dengan yang buruk, tidak merasakan penderitaan rakyatnya. Semuanya serba diremehkan. Kesakitan masyarakat dianggap biasa, lumrah, dan tidak dianggap repot. Dan hati setan tentu saja lebih keras dan lebih jahat dari semua hati. Penderitaan masyarakat dianggap hiburan yang menyenangkan. Kesesatan masyarakat adalah tujuan mereka sehingga pada saat masyarakat sesat memudahkan untuk ditundukkan dan patuh kepadanya.

PERBUATAN PARA PENYERU KE NERAKA JAHANAM

1. Mengekor pada Orang lain

Walaupun di mata masyarakat mereka adalah pemimpin tetapi pada dasarnya mereka mengekor pihak lain. Para penyeru ke neraka jahanam biasanya adalah antek-antek orang kafir. Allah swt berfirman: Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (QS. Al Baqarah: 14).

2. Menganggap Rendah Kaumnya

Karena mengekor pada yang lain sehingga mereka merasakan dan menganggap rendah pada diri dan kaumnya. Mereka memaksa kaumnya untuk mengikuti pola hidup kaum kafir yang menjadi acuan. Karena itu, pemimpin -pemimpin seperti ini pada hakekatnya pengekor.

3. Menghancurkan Nilai-Nilai Moral

Para penyeru ke neraka Jahanam menginginkan agar masyarakat tidak komitmen pada ajaran Islam, karena hal itu akan menyulitkan mereka. Lebih dari itu ketika masyarakat komitmen pada ajaran Islam maka mereka susah menguasainya sehingga mereka berusaha menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai Islam. Allah swt. berfirman: “Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 8-9).

4. Memerangi Dakwah Islam

Ini terjadi jika kekuasaan ada di tangan mereka. Mungkin pada awalnya mereka tidak secara langsung memerangi dakwah tetapi mempersempit ruang lingkupnya. Mereka kemudian menuduh orang-orang yang berdakwah dengan tuduhan yang keji seperti ekstrimis, fundamentalis, provokator, dan teroris. Hal ini menyebabkan masa menjauhi dakwah dan aktivisnya. Di sisi lain menumbuhsuburkan dakwah yang tidak membahayakan kekuasaannya seperti menumbuhsuburkan tasawuf, filsafat, pemikiran sosialis, dan lain-lain. Lebih jauh lagi mereka berani menyiksa dan membunuh aktivis dakwah karena mereka sudah memvonisnya sebagai teroris yang membahayakan negara.

Demikian aktivitas para penyeru ke neraka Jahanam menggiring manusia untuk disesatkan dengan berbagai macam cara dan sarana sampai pada akhirnya mereka mengikuti penyeru tersebut untuk masuk bersama-sama ke neraka Jahanam. Oleh karena itu para dai kebenaran tidak boleh gentar menghadapi mereka dan terus-menerus mendakwahkan Islam, mengikhlaskan niat, merapatkan barisan menggalang kekuatan, dan menjelaskan kesalahan dan kesesatan mereka sehingga masyarakat tahu dan sadar akan kebenaran ajaran Islam dan sampai ajaran Islam tegak di bumi ini.

Sikap Muslim terhadap mereka

Sikap yang harus dilakukan oleh setiap muslim dalam menghadapi kelompok ini dapat dipetakan dalam beberapa tahap:

1. Bersabar

Yang dimaksud bersabar di sini bukan sabar menerima kebatilan mereka, tetapi bersabar dalam menolak kebatilan mereka, karena diam dalam kemaksiatan adalah sebuah kemaksiatan. Bersabar ketika sebagian umat Islam terkena fitnah dan keburukan mereka. Bersabar untuk terus melakukan persiapan diri untuk menghadapi keburukan mereka.

2. Melakukan Reformasi

Umat Islam semuanya harus turut melakukan reformasi. Reformasi dari sistem yang ada menuju sistem Islam. Reformasi dari akhlak yang penuh dengan bentuk kemaksiatan seperti kemusyrikan, perzinaan, seks bebas dan pornografi, korupsi, kezaliman lainnya, menuju akhlak Islam.

3. Komitmen dengan Persatuan Umat Islam

Dalam kondisi yang serba rusak ini, maka umat Islam harus terjaga keislamannya dan terhindar dari berbagai macam polusi jahiliyah. Umat Islam harus komitmen kepada persatuan umat Islam, menjauh dari penyimpangan, dan berjuang untuk menegakkan Islam. Dan itulah kunci selamat dari fitnah.

4. Berjihad

Dan cara yang terakhir yang harus dilakukan oleh orang-orang beriman, sesuai dengan arahan Al-Qur’an dan Sunnah, yaitu berjihad terus menerus dengan berbagai macam tingkatan jihad untuk menghancurkan kebatilan dan kemungkaran sehingga tidak ada lagi fitnah di muka bumi ini, dan ketundukkan dan ketaatan hanya untuk Allah semata. Wallahu a’lam bishawwab.