February 28th, 2007 by feliaja

9 Kewajiban Ummat Terhadap Al-Aqsha

Alaqsha

Kalau para ahli fiqh menentukan bahwa suatu kewajiban ada yang terbatas dari segi waktu, demi kemuliaan si pelaku atau karena kesitimewaan tempatnya. Maka suatu kewajiban yang agung yang harus dilakukan ummat pada zaman ini adalah terhadap Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama ummat Islam, al-Haram ketiga dalam ajaran Islam serta tempat isranya Rasulallah salallahu alaihi wasallam. Ada sembilan kewajiban yang harus diemban ummat Islam saat ini, dimana pun mereka berada, yaitu :
Al-Aqsha

 

1. Memproklamirkan jihad untuk membebaskan Al-Aqsha dan melindunginya dari para pengganggunya. Hal ini sudah disepakati oleh seluruh fuqoha Islam. Mereka telah menetapkan, bahwa barang siapa yang menjajah sejengkal tanah dari kaum muslimin, maka hukumnya menjadi fardhhu ain bagi seluruh ummat Islam membebaskannya. Seorang perempuan boleh keluar tanpa izin dari suaminya, seorang budak boleh pergi tanpa izin dari majikanya, seorang anak boleh berangkat tanpa izin orang tuanya. Kalaupun Al-Aqsha telah lama dijajah, tetapi kewajiban ini belum lepas dari pundak setiap muslim. Mereka wajib membebaskanya sebelum dihancurkan oleh yahudi dan digantinya dengan Haikal Sinagog buatan mereka.

   2. Mengalirkan darah dan mengorbankan nyawa demi mejaga Al-aqsha dari kehancuran. Ini suatu keharusan, karena sesuatu yang diambil dengan darah maka harus dikembalikan dengan darah. Karena sesungguhnya amalan yang paling Allah cintai adalah mengalirnya setetes darah dalam jihad fi sabilillah. Dalam salah satu riwayat diterangkan, Allah sangat kagum bahkan tertawa ketika melihat seseorang menceburkan dirinya dalam medan perang. Sementara teman-temanya pada mundur, kemudian ia terbunuh oleh musuh.

   3. Memberikan hartanya untuk modal Jihad Fi Sabilillah di Palestina, diantaranya untuk melindungi Masjid Al-Mubarak. Dana ini diperlukan untuk melakukan reovasi, memeliharanya dari kerusakan dan menggaji para pegawainya serta memberikan santunan bagi orang yang suka rela memelihara Al-Aqsha. Disamping untuk memberikan bantuan bagi para keluarga yang bekerja di Al-Aqsha. Disamping itu, dana tersebut dapat digunakan untuk melakukan profaganda dan informasi bagi masyarakat umum.

   4. Menyisihkan waktu untuk sesekali mengunjungi Al-Aqsha bagi yang tinggal dekat denganya. Sebagaimana sabda Nabi salallah alaihi wasallam, setiap mayat terhenti amal terhenti amal ibadahnya kecuali orang yang berjuang di jalan Allah

   5. Memanjatkan doa dan mengajak kaum muslimin yang ada di barat dan timur untuk menjaga Al-Aqsha serta melindunginya dari setiap penodaan. Doa adalah senjata orang mukmin.

   6. Memebicarakan Al-Aqsha dalam setiap kesemptan dengan menyebut-nyebut urgensinya, keutamaanya. Hingga al-Aqsha menjadi topic pembicaraan di setiap majelis, dijelaskan di setiap mimbar.

   7. Yang mempunyai pengaruh atau pangkat menggunakan kedudukanya untuk melindungi al-Aqsha, mempertahankanya serta tidak pelit tarhadap apa yang akan mengangkat derajatnya dan menentramkan hatinya.

   8. Menulis tentang al-Aqsha bagi yang biasa berdakwah lewat tulisan dengan menjelaskan sejarahnya, tempat-tempat bersejarah, kewajiban membelanya. Menguaraikan tentang kewajiban ummat terhadap al-Aqsha dengan menyerbarkan tulisan tersebut agar al-Aqsha menjadi pembicaraan di tingkat dunia. Al-Aqsha adalah waritsan dunia, tidak boleh diganggu gugat apalagi dihancurkan. Dan agar para pemikir di seluruh jagat ini melakukan pembelaan terhadap al-Aqsha dan menjaga kehormatanya.

   9. Mengunjungi al-Aqsha, sebagaimana sabda Rasulallah sallallah alaihi wasalam, “Tidak disyariatkan bepergian kecuali bagi tiga masjid, Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjid al-Aqsha. Dan dalam riwayat yang lain, “Datangilah masjid tersebut dan shalat di dalamnya, jika tidak mampu maka carilah minyak bakar untuk menerangi dengan lampu-lampunya.

Dengan melakukan salah satu dari kesembilan kewajiban tadi, mungkin ummat Islam punya alasan di depan Allah ketika ditanya tentang pertanggung jawaban mereka terhadap al-Aqsha. Tanpa melakukan apapun dari kesembilan tadi maka, tidak ada udzur atau alasan yang dapat diterima di sisisNnya. Ia tidak akan dihiraukan oleh Allah. Semoga Allah menolong kita semua.

Muhammad Abu Shualik
Harian al-Sabil 20/2/2007

Celoteh Om feli pagi hari….

February 10th, 2007 by feliaja

Minggu pagi, 11 Februari 2007.

Apakah DPR/DPRD masih diperlukan???

Pagi ini perasaan saya campur-baur antara kesal, marah, bingung dan entah apa lagi. Yang jelas pagi ini perasaan saya jadi nggak enak, saya jadi nggak enak sarapan, nggak enak ngopi, nggak enak baca koran dan nggak enak  semuanya. Saya menyesal baca berita yang membuat saya jadi nggak enak. Saya bingung apa maunya mereka. Saya nggak habis pikir, mereka itu orang-orang terhormat apa bukan? Harga diri mereka begitu rendah kalau sudah berhadapan dengan uang. Sebelum saya menumpahkan unek-unek saya ini lebih lanjut, mungkin perlu saya bercerita sekilas tentang hal yang membuat saya jadi begini.

Pada bulan-bulan terakhir tahun lalu pemerintah mengeluarkan peraturan pemerintah (PP) 37 tahun 2006 yang mengatur tentang tunjangan komunikasi untuk anggota DPR/DPRD se-Indonesia. Dalam PP yang berlaku surut tersebut anggota DPR/DPRD mendapat tunjangan komunikasi terhitung sejak Januari 2006 dalam jumlah yang luar biasa besarnya. Sementara itu rakyat yang diwakili oleh anggota dewan (yang terhormat?) itu sedang bergelut dengan penderitaan panjang akibat ditimpa musibah yang datang silih berganti.

Keluarnya PP yang cukup kontroversial ini, menimbulkan protes dari berbagai elemen masyarakat. Berbagai demonstrasi dilakukan banyak pihak menuntut pemerintah untuk segera membatalkan peraturan yang bisa menyengsarakan rakyat ini.

Untunglah, ternyata pemerintah masih mempunyai hati nurani dan masih mau mendengarkan keluhan rakyatnya. Awal tahun ini PP yang berpotensi menguras keuangan negara itupun direvisi  oleh pemerintah. Masyarakatpun lega, karena dana APBN dan ABPD tidak jadi terkuras untuk menebalkan pundi-pundi anggota dewan yang katanya wakil rakyat itu.

Tapi keputusan pemerintah merevisi PP 37 tahun 2006 ini membuat berang sebagian besar anggota DPRD. Mereka yang sudah terlanjur menerima uang tunjangan ini enggan mengembalikan dana tersebut ke kas negara. Mereka seperti orang kebakaran jenggot, kasak-kusuk menyusun rencana menuntut pemerintah untuk tidak merevisi PP tersebut dan memberlakukannya kembali.

Pagi ini mereka yang menggabungkan diri dalam Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (Adkasi), Asosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia (Adeksi), dan Badan Komunikasi DPRD Provinsi se-Indonesia menyiapkan berbagai aksi untuk menolak revisi PP 37 Tahun 2006. Bahkan menurut Ketua Adkasi M. Harris, hingga Jumat kemarin (9/2) sudah 5 ribu orang anggota DPRD yang mendaftarkan diri untuk ikut demo ke Jakarta. Namum setelah mendapat surat dari pimpinan DPR, maka diputuskan hanya seperlima saja (seribu orang) yang turun ke Jakarta.

Hingga tadi malam, 700 orang anggota DPRD itu telah tiba di Jakarta. Mereka menginap di Hotel Sahid Jaya dan Hotel Shangri-La, Sedangkan sisanya menyusul hari ini.

Nah…, itulah sekilas cerita yang pagi ini membuat saya jadi nggak enak, jadi bingung, kesal dan marah. Saya melihat mereka yang mengaku wakil rakyat ini sudah tidak berprilaku lagi sebagai wakil rakyat. Saya melihat mereka yang dikatakan anggota dewan yang terhormat ini sudah tidak terhormat lagi. Mereka sudah berprilaku sebagai lintah darat yang taunya hanya mengisap darah masyarakat. Mereka lebih buas dari binatang yang paling buas, karena binatang yang paling buas pun tidak pernah memakan sesuatu melebihi kebutuhannya. Mereka vampir yang bewujud manusia yang dibungkus dengan jas dan dasi mewah. Dengan penampilannya, mereka memainkan sandiwara seakan mereka adalah pejuang yang selalu berjuang untuk kepentingan masyarakat. Mereka adalah makhluk jadi-jadian yang selalu mengenakan topeng sebagai orang terhormat, sehingga, sewaktu-waktu mereka bisa berubah menjadi sosok yang mereka inginkan.

Sudah berapa banyak uang rakyat yang habis untuk membayar gaji dan tunjangan mereka. Sudah berapa banyak anggaran negara dan anggaran daerah yang terkuras untuk mereka, sehingga dana untuk pembangunanpun terpaksa dikurangi demi kesejahteraan mereka. Tapi mereka seperti orang yang habis minum air laut, makin diminum makin haus. Mereka tidak pernah merasa puas dan tak pernah merasa cukup. Padahal kalau mereka mau jujur, gaji, tunjangan, uang reses, uang lainnya yang mereka terima sudah lebih dari cukup. Merekapun tahu, bahwa rakyat yang mereka wakili masih menderita kekurangan. Tapi karena mereka sudah dikuasai nafsu serakah alias tamak, maka semuanya itu seakan tak terasa oleh mereka. Mata mereka seakan buta, telinga mereka seakan tuli, perasaan mereka seakan sudah hilang, sehingga mereka seakan orang yang sangat perlu dikasihani, karena mereka sedang dalam kekurangan, sementara tugas mereka sangat berat dalam memperjuangkan rakyat yang mereka wakili. 

Kini dalam perjuangan itu, mereka merasa perlu untuk menuntut pemerintah membatalkan revisi PP 37/2006 itu. Untuk itu mereka merasa perlu untuk ke Jakarta dan karena mereka merasa sebagai orang-orang terhormat, mereka perlu menginap di hotel berbintang seperti Sahid Jaya dan Shangri-La. Mereka seakan tidak tahu bahwa dana yang mereka pakai untuk ke Jakarta dan menginap di hotel mewah adalah uang rakyat. Saya bingung, entah apa yang mereka cari? Tapi saya punya ide. Kalau dulu anggota dewan kan tugasnya mengawasi pemerintah. Kemudian mereka yang di daerah tugasnya milih gubernur, walikota dan bupati, sedang kan di pusat anggota dewan yang merangkap anggota MPR milih presiden.

Nah…, sekarang presiden, gubernur, walikota dan bupati kan dipilih langsung oleh rakyat. Bagaimana kalau DPR-RI dan DPRD se-indonesia ini kita bubarkan saja, sedang tugas untuk mengawasi pemerintah langsung diawasi oleh rakyat. Kalau ini kita dilakukan, saya yakin banyak dana yang bisa kita manfaatkan untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat. Masyarakatpun akan terpacu untuk aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena mereka terlibat langsung dalam pemilihan kepala negara, kepala daerah dan terlibat langsung dalam mengawasi setiap gerak langkah pemerintah.

Gimana…, setuju khan???

February 10th, 2007 by feliaja
The Amazing Child
Buat halaman ini dlm format PDF

Cetak halaman ini

Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Kamis, 04 Januari 2007

ImageBocah 5 tahun hafal Al Qur’an dan Maknanya.

"Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami pula yang akan menjaganya." (QS Al-Hijr: 15) 

Demikian Allah subhaanahu wata’aala berfirman, dan kebenaran mutlak
atas firmanNya. Al Quran yang telah diturunkan akan senantiasa
dijaganya, tiada satu makhlukpun yang berkuasa untuk menghapus hukumnya
dan menghilangkan pengaruhnya dari jiwa hamba-hamba-Nya yang suci. Dia
yang membuat aturan dan undang-undang dasar hidup makhluknya. Maka
hanya Dia pula yang memiliki kuasa untuk menghancurkannya atau
mengokohkannya.

Anak kecil dalam film ini (sebagai bukti kebesaranNya) adalah nyata
adanya, sejak umur 3th, kedua orang tuanya (Hafidz & Hafidzah Al
Qur’an) telah memperkenalkan Al Qur’an kepada Husein, putranya. Dan
dalam tempo 2,5 th ia dapat menghafal AlQur’an beserta makna dan
mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Masih banyak lagi
keajaiban yang dimiliki oleh anak kecil tersebut dalam film ini yang
dapat membuat anda berdecak kagum atas kebesaran-Nya. Semoga
Bermanfaat…
 

Production by: Ar Rahmah Media
Durrasi: 27 minit
Bahasa: Iran
Subtittle: Indonesian
Rilis: Januari 2007
Kategori: Education
Layanan Pemesanan: 021 6884 1087

koleksi juga yang ini
buat tontonan adik2 kita….

(jangan nonton smackdown ya!!! dah ga zaman lage)
175288826_e408f555b8_o

“Mereka memperkosaku seperti ini !”

February 7th, 2007 by feliaja

Muslimah_jihadArtikel ini ditujukan untuk setiap muslim yang masih memiliki darah mengalir di nadinya


Nadia adalah salah satu korban tentara Amerika di penjara Abu Ghraib.
Dia ditangkap tanpa alasan. Ketika dia dibebaskan dari penjara, tidak
langsung kembali ke pangkuan keluarganya sebagaimana kebanyakan tahanan
lainnya yang telah mengalami hal buruk, meskipun ketika dia telah
terbakar oleh api penindasan dan kerinduan pada keluarganya.

Nadia kabur dengan segera setelah dia meninggalkan penjara, bukan
karena perasaan malu yang akan diterimanya karena sejumlah kejahatan
yang dilakukannya, akan tetapi karena apa yang telah dialami olehnya
dan wanita Iraq lain yang tertangkap, yaitu pemerkosaan dan penyiksaan
yang dilakukan oleh tentara Amerika di penjara Abu Ghraib. Dinding
penjara mengungkapkan banyak cerita tragis, namun apa yang dikisahkan
Nadia merupakan kebenaran hidup dan sekaligus neraka hidup.

Nadia memulai ceritanya:

"Aku sedang mengunjungi salah seorang kerabatku, kemudian tiba-tiba
tentara Amerika memasuki rumahnya dan mulai menggeledah rumah itu.
Mereka menemukan beberapa senjata ringan. Maka merekapun menangkap
semua orang yang berada di rumah itu termasuk aku. Aku mencoba
menjelaskan pada penerjemah yang menyertai patroli Amerika bahwa aku
hanyalah seorang pengunjung. Akan tetapi pembelaanku gagal. Aku
kemudian menangis, memohon pada mereka, sampai hilang kesadaran karena
takut ketika mereka membawaku ke penjara Abu Ghraib.

Nadia melanjutkan: "mereka menempatkanku sendirian di sebuah sel
penjara yang gelap dan kotor. Aku berharap aku akan segera dibebaskan,
utamanya setelah penyelidikan terbukti aku tidak melakukan kejahatan".

Nadia menjelaskan sambil air matanya mengalir ke pipinya, sebuah pertanda betapa banyak dia telah mengalami penderitaan.

"Hari pertama sangat menyusahkan. Selnya berbau tidak sedap, lembab dan
gelap, kondisi ini membuatku semakin lama semakin takut. Suara tertawa
prajurit di luar sel semakin membuatku ketakutan. Aku khawatir akan apa
yang menimpaku nanti. Untuk pertama kalinya aku merasa berada dalam
cengkraman situasi yang sulit dan aku telah memasuki sebuah dunia yang
tidak dikenal yang aku tidak akan pernah keluar darinya.

Ditengah beraneka ragamnya perasaanku saat itu, aku mendengar suara
seorang tentara wanita Amerika berbicara dalam bahasa Arab. Dia berkata
kepadaku: "Aku tidak mengira penjual senjata di Iraq adalah wanita."
Ketika aku mulai mencoba menjelaskan kepadanya kondisi yang sebenarnya,
dia memukulku dengan kejam. Aku menangis dan berteriak "Demi Allah !
aku dianiaya, demi Allah ! aku dianiya"

Tentara wanita itu menghujaniku dengan cacian dengan cara yang belum
pernah aku bayangkan bisa terjadi atau aku akan diperlakukan seperti
itu dalam keadaan apapun selamanya. Kemudian dia mulai menertawakanku
sambil mengatakan bahwa dia telah memonitorku sepanjang hari dengan
satelit, dan bahwa mereka mampu melacak musuh-musuh mereka meskipun
sedang berada di dalam kamar tidur mereka sendiri dengan teknologi
Amerika.

Kemudian dia tertawa dan berkata, "Aku mengawasimu ketika kamu bercinta
dengan suamimu." Aku menjawab dengan suara kebingungan "Tapi aku belum
menikah".

Dia memukuliku selama lebih dari 1 jam dan dia memaksaku minum segelas
air, yang kemudian kuketahui mereka memberi obat di air itu. Aku
mendapatkan kembali kesadaranku setelah 2 hari dalam keadaan telanjang.
Segera aku tahu jika aku telah kehilangan sesuatu yang hukum apapun di
dunia tidak akan mampu mengembalikannya kepadaku lagi. Aku telah
diperkosa. Aku kemudian histeris tak terkontrol, dan aku mulai
memukulkan kepalaku dengan keras ke tembok sampai lebih dari lima
tentara Amerika yang dikepalai tentara wanita itu memasuki sel dan
mulai memukuliku, kemudian mereka memperkosaku bergantian sambil
tertawa-tawa dan menperdengarkan musik dengan keras.

Hari demi hari skenario pemerkosaan terhadapku diulangi. Dan setiap
hari mereka menemukan cara baru yang lebih kejam dibanding dengan yang
sebelum-sebelumnya."

Nadia mulai menjelaskan perbuatan mengerikan dari Amerika bajingan:

"Setelah sekitar satu bulan, seorang tentara negro memasuki selku dan
melemparkan 2 potong pakaian militer Amerika kepadaku. Dalam bahasa
Arab yang lemah dia mengatakan agar aku memakainya. Setelah dia menutup
kepalaku dengan kantong hitam, dia menuntunku ke toilet umum yang ada
pipa untuk air dingin dan panas, dan dia memintaku untuk mandi.
Kemudian dia menutup pintu dan pergi.

Aku menjadi sangat lelah dan merasakan kesakitan, tanpa mempedulikan
banyaknya memar di tubuhku aku menuangkang sejumlah air ke badanku.
Sebelum aku selesai mandi, tentara negro tadi masuk ke dalam. Aku
ketakutan dan memukul wajahnya dengan mangkok air. Namun dia sangat
kuat, dia memperkosaku dengan kejam dan meludahi mukaku, kemudian dia
pergi dan kembali lagi dengan 2 tentara yang membawaku kembali ke sel.

Perlakuan seperti itu terus berlanjut, yang paling parah kadang aku
diperkosa sampai 10 kali dalam sehari, membuat kesehatanku sangat
buruk."

Nadia berlanjut mengungkapkan perbuatan Amerika yang mengerikan terhadap wanita-wanita Iraq, dia berkata:

"Setelah lebih dari 4 bulan, seorang tentara wanita datang, dan aku
menyimpulkan dari percakapannya dengan tentara lainnya jika namanya
adalah Mary. Dia berkata kepadaku "sekarang kamu memiliki kesempatan
emas, karena seorang petugas yang memiliki posisi tinggi akan
mengunjungi kita hari ini. Jika kamu menghadapinya dengan sikap yang
positif kamu akan dibebaskan, terutama karena kami sekarang yakin kamu
tidak bersalah."

Aku menjawab, "Jika kalian yakin aku tidak bersalah, mengapa kalian tidak membebaskan aku?"

Dia menjerit dengan gelisah, "Satu-satunya yang menjamin terbebasnya kamu adalah sikap positifmu terhadap mereka."

Dia membawaku ke toilet umum, dan dia mengawasiku mandi sambil membawa
tongkat tebal untuk memukulku jika aku tidak melakukan perintahnya.
Kemudian, dia memberiku make up, dan memperigatkanku untuk tidak
menangis dan merusak make up ku. Lalu dia membawaku ke sebuah ruangan
kosong yang di situ tidak ada apapun kecuali sebuah penutup lantai.
Setelah satu jam dia datang dengan ditemani 4 tentara dengan memegang
kamera. Dia melepas bajunya dan mulai menggangguku seoalah-olah dia
adalah seorang lelaki. Tentara lainnya tertawa dan memperdengarkan
musik yang ribut, mengambil photoku dalam berbagai pose, dan mereka
menunjuk-nunjuk wajahku. Yang wanita menyuruhku tersenyum, jika tidak
dia akan membunuhku. Dia mengambil pistol dari salah satu temannya dan
menembakkan empat peluru di dekat kepalaku seraya bersumpah bahwa
peluru yang kelima akan ditembakkan tepat di kepalaku.

Setelah itu, keempat tentara lainnya memperkosaku secara bergantian
sampai aku kehilangan kesadaranku. Ketika kesadaranku pulih aku
menemukan diriku di sel dengan bekas-bekas gigitan, kuku dan rokok ada
di sekujur tubuhku."

Nadia berhenti bercerita tentang tragedi yang menimpanya untuk menyeka
air matanya, kemudian dia melanjutkan lagi: "Kemudian suatu hari Mary
datang dan mengatakan kepadaku bahwa aku kooperatif dan akan dibebaskan
setelah aku menonton film yang mereka rekam. Aku merasa sakit setelah
menonton filmnya, dan Mary mengatakan, "Kamu telah diciptakan hanya
untuk membuat kami bersenang-senang". Saat itu aku menjadi sangat marah
dan aku menyerangnya meskipun aku takut akan reaksinya, aku akan
membunuhnya kalau saja tentara lain tidak turut campur. Ketika para
tentara melepaskanku, Mary menghujaniku dengan pukulan, kemudian mereka
meninggalkanku.

Setelah kejadian itu, tidak ada seorangpun yang menggangguku selama
lebih dari satu bulan. Aku menghabiskan masa itu dengan beribadah dan
berdoa pada Allah Ta’ala yang memiliki seluruh kekuatan untuk
menolongku.

Mary datang dengan beberapa tentara yang memberiku pakaian yang
kukenakan ketika mereka menangkapku dan membawaku ke sebuah mobil
Amerika. Kemudian mereka melemparkanku di sebuah jalan raya setelah
memberiku 10.000 dinar Iraq.

Aku pergi ke sebuah rumah yang berdekatan dengan tempat aku dibuang,
dan untuk mengetahui reaksi keluargaku, aku memilih mengunjungi salah
seorang kerabatku supaya mereka mengetahui apa yang telah menimpaku
ketika menghilang. Aku mengetahui bahwa saudaraku telah memasang papan
tanda duka untukku selama lebih dari 4 bulan, mereka menganggapku
sebagai orang yang sudah mati.

Aku memahami jika tikaman malu sudah menungguku. Maka, aku pergi ke
Baghdad dan menemukan sebuah keluarga yang baik yang menampungku, dan
aku bekerja pada keluarga ini sebagai pembantu dan guru privat bagi
anak-anaknya.

Nadia terheran dalam kesakitan, penyesalan dan kemarahan:

"Siapa yang akan memuaskan dahagaku? Siapa yang akan mengembalikan
keperawananku? Apa salah keluarga dan familiku? Aku mengandung seorang
bayi, bahkan akupun tidak tahu siapa ayahnya."

Dan Nadia mengakhiri ceritanya sampai di sini.

Apakah Amerika hanya memperkosa Nadia ataukah mereka memperkosa seluruh
pria dan wanita di Ummat Islam ? Nadia adalah saya dan anda, istrimu
dan juga istriku, saudarimu dan juga saudariku, ibumu serta ibuku.
Dimanakah para pembela kesucian Islam! Dimanakah para pembela Islam!


"Mungkin masih banyak kisah menyesakan dada, bagi kita ummat Islam.
Mungkin masih ada Nadia-Nadia lain di dalam penjara penuh penjaga babi
dan kera berbangsa Amerika. Dimanakah kalian, jikalau kalian tidak
tersentuh dengan cerita saudari kita, marahkah kalian dengan perlakuan
manusia-manusia yang lebih kotor dari binatang ternajis sekalipun,
bahkan mungkin mereka menjadi yang paling hina di Dunia dan Akhirat.
Bangunlah wahai ummat!! Tidur kalian sudah terlalu lelap!!"

Sumber: lahaonline.com

Renungan

January 27th, 2007 by feliaja

Renungan Akhir Tahun 2006

Oleh : Redaksi 22 Dec, 06 - 4:00 am
Hamba Mengerti - Ampuni kami Yaa Allah

Dari Ali bin Abi Thalib, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Bila Allah Azza wa Jalla murka kepada suatu kaum, maka kaum itu akan ditimpa adzab. Harga-harga barang menjadi mahal, kemakmurannya menjadi surut, perdagangannya tidak mendapatkan untung, hujan sangat jarang turun, sungai-sungainya tidak mengalir, dan penguasanya adalah orang-orang yang rusak akhlaknya." (Hadits Riwayat Dailami dan Ibnu Najjar).

Sepanjang tahun 2006 berbagai bencana alam menerpa bangsa Indonesia. Bencana alam adalah sebuah pesan, bahasa yang sederhana dan jujur, yang seharusnya kita pahami maknanya.

Ketika tsunami menghantam bumi Serambi Mekah, 26 Desember 2004, dua tahun lalu, lebih dari 200 ribu jiwa melayang. Kepedihan yang begitu menyayat hati belum sirna, di Jawa Barat pada 21 Februari 2005, muncul musibah yang menewaskan sekiar 100 jiwa akibat tertimpa longsoran sampah dengan volume satu juta meter kubik. Sebuah tragedi yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Kejadian di atas hanyalah dua di antara sejumlah rentetan musibah yang menimpa bangsa Indonesia, ketika rakyat Indonesia belum jauh dari kisaran 100 hari menikmati alam demokrasi pasca pilpres pertama yang dipilih langsung oleh rakyat.

Memasuki tahun 2006, sejumlah musibah datang silih berganti. Akhir Maret 2005, kawasan Nias yang pada Desember 2004 ikut dihempas tsunami, kali ini mengalami gempa yang kekuatannya terbesar dalam kurun waktu satu abad terakhir di lokasi yang sama, dan menelan ribuan jiwa.

Mei 2006, ketika masyarakat se Indonesia ketar-ketir dengan potensi musibah yang berasal dari Gunung Merapi, yang datang justru gempa. Gempa yang menghampiri Yogja-Jateng dan berskala 5.9 - 6.1 SR ini bukanlah kali pertama terjadi di kawasan Yogya. Pada tahun 1867, gempa serupa pernah terjadi mengakibatkan 372 rumah roboh, 5 orang meninggal. Pada tahun 1943, sekitar 2800 rumah hancur, 213 orang meninggal, 2096 orang luka-luka. Pada tahun 1981, dinding Hotel Ambarukmo retak-retak. Sedangkan pada tahun 2006, sekitar 6.234 orang meninggal, sekitar 50.000 orang luka-luka, dan 70.000 bangunan rusak/ambruk.
Allah_swt
Ketika perhatian dan kesedihan kita masih tertuju kepada musibah gempa Yogya-Jateng, pada saat yang bersamaan sebuah musibah lain di tempat yang tak berapa jauh dari Yogya mulai datang menjelang. Yaitu banjir lumpur Lapindo di Sidoardjo. Musibah lumpur panas yang menyembur sejak 29 Mei 2006 dari sumur Banjar Panji-1 milik PT Lapindo Brantas di desa Renokenongo, kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo provinsi Jawa Timur ini, hingga akhir tahun 2006 ini masih terus menyemburkan lumpur panasnya.

Ketika musibah lumpur Lapindo masih terus berlangsung, musibah lain hadir di Jawa Barat. Gempa berkekuatan 6,8 Skala Richter (SR) menghantam kawasan pantai Pangandaran pada hari Senin pukul 15.19 tanggal 17 Juli 2006. Gempa di Pangandaraan ini dibarengi dengan tsunami, sehingga meluluh-lantakkan bangunan di sekitar pantai.

Dari serentetan musibah yang terjadi sepanjang tahun 2006, musibah lumpur Lapindo merupakan musibah yang tak jelas kapan akan berakhir.

Ada apa dengan Sidoardjo?

Ternyata di Sidoardjo tidak saja ada Marsinah si pejuang buruh yang ketika itu (1993) berusia 24 tahun tewas dibunuh aparat karena membela kepentingan kawan-kawannya sesama buruh. Uniknya, kasus Marsinah juga terjadi pada bulan Mei, 13 tahun lalu (1993).

Selain ada Marsinah yang dianiaya, di Sidoardjo juga ada pabrik miras termasuk Vodka, yang baru ketahun setelah lumpur Lapindo menenggelamkan Sidoardjo. Selama ini masyarakat tidak menyadari keberadaan pabrik miras ini.

Barulah pada Agustus 2006, ketika sejumlah anak-anak menemukan botol miras di antara genangan lumpur, masyarakat baru tersadar, ternyata lingkungan mereka telah menjadi salah satu kawasan produsen minuman haram yang dilaknat Allah.

Dua bulan sebelum musibah lumpur Lapindo terjadi, pada hari Minggu tanggal 5 Maret 2006, di Sidoardjo berlangsung kompetisi aerobik yang digelar sejumlah lembaga swasta bekerja sama dengan Pemkab Sidoarjo, yang berlangsung di atrium GOR Delta Sidoarjo, dihadiri dan diresmikan oleh Bupati Win Hendrarso dan istrinya, Emy Sussanti. Para peserta kompetisi aerobik ini, mengenakan uniform yang nyaris telanjang, padahal penonton yang hadir berasal dari segala umur dan jenis kelamin. Kompetisi ini bebas ditonton siapa saja dan tidak dipungut biaya.

Ternyata selain ada Vodka dan kompetisi aerobik yang nyaris telanjang, di Sidoardjo juga ada Dr. Emy Sussanti aktivis perempuan yang rela dan ikhlas bila para wanita tampil nyaris telanjang di depan umum (padahal perbuatan itu dilaknat Allah), namun menolak konsep poligami yang dibenarkan syari’ah.

Emy Sussanti adalah aktivis gender dari Pusat Studi Wanita (PSW) UNAIR Surabaya, yang ketika wacana poligami mengemuka ia secara tegas menyatakan tidak setuju para suami untuk poligami. Sebab perilaku tersebut, menurutnya jelas akan bisa menimbulkan kekerasan psikis bagi sang istri. Sebagai istri Bupati, Emmy secara otomatis menjadi penasehat Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Sidoarjo.

Selain ada Dr Emy Sussanti, ternyata dari Sidoardjo muncul sebuah nama mesum yaitu Maria Eva, yang berzinah dengan Yahya Zaini, petinggi Golkar, anggota DPR dengan basis kultural NU. Sidoardjo memang basis NU.

Sekitar bulan November 2006, video mesumnya mulai terkuak secara meluas. Dari kasus itu, masyarakat pun jadi mengenal Maria Eva, yang sebelumnya tergolong sebagai penyanyi dangdut tidak terkenal.

Sebagai orang Sidoradjo, Maria Eva tak menyia-nyiakan peluang memanfaatkan musibah lumpur Lapindo untuk dijadikan momentum mendongkrak popularitasnya yang sedang terangkat berkat kasus mesumnya. Maka, Mariapun bertandang ke lokasi pengungsi 15 Desember 2006 lalu. Di sana ia disambut para pengungsi bagaikan super star beken, bahkan banyak di antara pengungsi yang berlomba-lomba meminta tandatangan dari Maria Eva.

Ternyata, rakyat Sidoardjo dan pemimpinnya sama saja. Mereka lebih akrab dengan kemaksiatan dibanding dengan kesalehan. Sang Ratu mesum disambut kedatangannya bagai menyambut pahlawan. Padahal, seharusnya ditimpuki batu atau diceburkan ke kubangan lumpur sesuai dengan kebiasaannya yang gemar berlumpur dosa.

Oleh karena itu, ketika pada 22 November terjadi ledakan pipa gas yang menewaskan sejumlah aparat dan rakyat, dan dari kobaran api yang mencuat membentuk lafadz ALLAH, sebagaimana didokumentasikan salah satu petugas di sana, ada yang bergumam, mungkin ini isyarat agar kita terutama masyarakat Sidoardjo agar segera mengingat Allah, menjauhi larangan-Nya.

Masyarakat Sidoardjo adalah cuplikan masyarakat Indonesia pada umumnya, yang lebih bisa menerima sesuatu yang dilaknat Allah ketimbang menerima syari’at Allah. Dalam perkara poligami, di tingkat nasional pemimpinnya juga bersikap sama. Bila istri Bupati lebih bisa menerima kompetisi aerobik yang nyaris telanjang padahal merendahkan martabat wanita, namun menolak poligami yang dibenarkan agama. Di tingkat pusat juga demikian. Ibu pejabat tidak pernah kedengaran suaranya ketika ada kasus-kasus yang menjadikan wanita sebagai korban. Namun ketika poligami ditempuh ulama kondang Abdullah Gymnastiar, mereka tergopoh-gopoh mengingatkan sang suami, antara lain berupa dorongan untuk merevisi PP yang berkenaan dengan poligami dan perkawinan.

Padahal banyak pusat perhatian yang seharusnya dibidik ibu pejabat, baik tingkat kabupaten maupun nasional. Kasus kematian Alda di sebuah hotel, seharusnya mampu membuka mata para ibu-ibu pejabat, untuk mendorong suami mereka merevisi atau menerbitkan PP yang melarang seorang perempuan tanpa suami atau mahram bisa check in di hotel mana pun di Indonesia.

Para ibu pejabat seharusnya mendorong suami mereka membuat PP atau Perda yang melindungi anak-anak mereka dari bahaya narkoba, bahaya seks bebas, dan bahaya moral lainnya baik yang bersumber dari lingkungan maupun media hiburan seperti televisi. Atau dari bahaya makanan yang tidak sehat akibat digunakannya zat pewarna pakaian untuk jajanan.

Ya Allah, kami mengerti mengapa musibah datang silih-berganti. Karena memang banyak kemungkaran yang berlangsung di tengah-tengah kami, namun kami diamkan saja, padahal Engkau memerintahkan kami untuk memeranginya.

Ketika kemungkaran berlangsung di depan mata, kami justru sembunyi di balik jendela, seraya mengintip, bukan justru memeranginya.

Ya Allah ampunilah kami. Berilah kami kekuatan untuk memerangi kemungkaran dan berilah kami kekuatan untuk bisa tolong-menolong dalam kebaikan. Berikanlah kami rizki yang dapat diagunakan untuk menolong agama-Mu, dapat digunakan untuk melawan kebathilan, kemungkaran dan angkara murka lainnya.
Lafalz Allah SWT
liat gambar

Hati2 ideologi SIPILIS

January 24th, 2007 by feliaja

(SIPILIS) Sekuler-Pluraris-Liberalis

Hanya untuk bahasan Intern

Counter Liberalisme

 

Dawam Rahardjo Asbun
Menjunjung Marxis dan Kristen Sambil Mengecam Muslim
Oleh Hartono Ahmad Jaiz

KALAU Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) berani
leha-leha berseminar dengan orang Kristen di Jakarta membahas tentang Tuhan di
hari Jum’at dari jam 10 hingga 13 dan tidak melaksanakan Shalat Jum’at (lihat
Majalah Gatra edisi 26 Februari 2005), maka pembela Ulil, yaitu Prof Dawam
Rahardjo, tidak mau kalah. Dawam menampilkan jurus-jurus asbun-nya (asal
bunyi, bahasa Jawa: waton muni, berbicara semaunya tanpa landasan dan
tak memperhitungkan benar salahnya) yang cukup menohok Islam dan umat Islam
ketika berseminar di kalangan Kristen, di Jakarta, Jum’at malam 28 April 2006.

Berikut ini cuplikan kutipan yang kami anggap penting untuk dikomentari, dari
presentasi Dawam Rahardjo di hadapan jemaat Kristiani dalam acara “Seminar
Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Beragama”
di Balai Sarbini Plaza
Semanggi Jakarta, Jum’at 28 April 2006 pukul 19.00 WIB. Pembicara lainnya
adalah Pendeta Dr. Stephen Tong, Pendeta Benjamin F. Intan Ph.D, dan Prof J.E.
Sahetapy SH MA.

Kutipan ungkapan Dawam Rahardjo: “Orang-orang Marxis
itu ternyata orang baik-baik saja. Bahkan orang-orang Marxis itu kebanyakan
humanis dan mempunyai etika yang tinggi. Jadi apa salahnya? Dari pada orang
beragama tapi kerjanya menteror. (audiens tertawa dan tepuk tangan). Memecahkan
masalah dengan teror, usul dengan teror.” (Ditranskrip oleh Imran, Mulyadi dan
Eros Dai dari Majalah Tabligh).


Komentar:

Menjunjung Marxis (PKI), mengecam Muslimin

Dawam Rahardjo tidak ingat sejarah. Kalau dia mau mengingat sejarah sedikit saja,
tentunya dia ingat bahwa pembantaian yang sadis telah dilakukan oleh PKI
(Partai Komunis Indonesia) yang berideologi marxisme, di antaranya dalam Affair
Madiun atau Peristiwa Madiun (Pemberontakan PKI di Madiun, 18 September 1948
pimpinan Muso dan Amir Syarifuddin).

Seorang wartawan asal Madiun menulis di Majalah Media Dakwah tentang hilangnya
kemanusiaan berganti dengan kesadisan. Di antaranya ia mengemukakan adanya
dokumentasi di kantor berita foto, Ipphos, tentang foto genangan darah
ulama yang disembelihi PKI (Partai Komunis Indonesia) dalam Affair Madiun atau
Peristiwa Madiun 18 Sepetember 1948. Dia sebutkan, foto genangan darah ulama
itu setebal bercenti-centi meter saking banyaknya ulama yang disembelihi PKI.
Di Kampung Gorang Gareng Madiun saja, ungkap wartawan asal Madiun ini, ada
seratusan lebih ulama beserta keluarganya yang dibantai PKI pimpinan Muso dan
Amir Sjarifuddin.

Bagaimana seorang Dawam Rahardjo bisa mengatakan, “Bahkan orang-orang Marxis
itu kebanyakan humanis dan mempunyai etika yang tinggi. Jadi apa salahnya? Dari
pada orang beragama tapi kerjanya menteror.”

Seandainya yang berbicara menyanjung marxis itu dokter Soelastomo (asal Solo
Jawa Tengah pula sebagaimana Dawam, dan tinggal di Jakarta pula, konon
Soelastomo pernah jadi saksi yang memberatkan dalam persidangan tokoh Masyumi,
dan terkesan seperti agak condong ke PKI dalam kasus itu, menurut sumber dari
orang Masyumi) itupun akan tetap mengangetkan orang. Karena justru yang
kerjanya menteror dan membantai itu PKI yang ideologinya jelas marxisme. Lha
ini sekarang yang berbicara memutar balikkan fakta, dengan menjunjung tinggi,
(dengan ungkapan, orang marxis itu kebanyakan humanis dan mempunyai etika
yang tinggi)
itu Dawam Rahardjo. Padahal Dawam itu dalam perjalanan
hidupnya, ketika mau kawin saja minta dicarikan isteri dengan minta tolong
kepada tokoh Masyumi, Dr Anwar Haryono, yang jelas musuh bebuyutan PKI. Jadi
jalan pikiran Dawam ini untuk dilacaknya melalui jalur mana?

Kesimpulan sementara, ada tiga alternatif:
–mungkin Dawam plintat-plintut
–mungkin tidak tahu berterimakasih
–mungkin memendam rasa tidak suka pada Islam, sebagai konsekuensi dari
pembelaannya terhadap faham sekulerisme yang dia usung, yang oleh tokoh Masyumi
seperti M Natsir sering diistilahkan dengan pihak yang netral agama,
yang bahasa Arabnya la dini atau ‘ilmani.

Terhadap orang yang mengaku beragama Islam tetapi berfaham netral agama
itu M Natsir cukup sengit sejak tahun 1930-an dalam berpolemik dengan Soekarno
dan lainnya, M Natsir biasanya pakai nama samaran A. Muchlis. Sampai-sampai M
Natsir memberikan contoh bahwa menghadapi orang non Muslim yang berfikirnya
masih konsekuen, lebih mudah dibanding menghadapi orang yang mengaku Islam
tetapi berfaham netral agama alias sekuler.

Kutipan:

Pernyataan Dawam: “…menurut pendapat saya yang mengganti Menteri Agama itu
tidak mesti dari orang Islam, bahkan lebih baik kalau Menteri Agama itu
dari golongan minoritas
atau yang disebut golongan minoritas. (audiens
tepuk tangan
).

Karena apa? Karena kalau dari golongan minoritas, misalnya Kristen, dia tidak
akan berani melanggar hak-hak sipil. (audiens tertawa dan tepuk tangan),
karena akan dikontrol oleh mayoritas. Sebaliknya kalau itu berasal dari
kelompok agama yang mayoritas, wah, itu pasti dia cenderung untuk selalu
melanggar, karena merasa berani dan merasa kuat, karena merasa dari golongan
mayoritas. Padahal di Indonesia itu tidak ada golongan mayoritas dan minoritas.
(Tepuk tangan) Semua sama di depan hukum.” (Ditranskrip oleh Imran, Mulyadi dan
Eros Dai dari Majalah Tabligh).


Komentar:

Pernyataan Dawam Rahardjo itu mengandung berbagai kerancuan:

1. Tidak melihat sejarah dan kenyataan ganasnya minoritas terhadap Umat
Islam.

Kenapa Dawam begitu bersemangatnya untuk mengganti menteri agama, dan gantinya pun
lebih baik dari golongan minoritas, misalnya Kristen? Kalau alasannya, jika
dari minoritas tidak akan berani melanggar hak-hak sipil, apakah memang ada
bukti dan jaminan? Ini hanya akal-akalan Dawam Rahardjo, tanpa ada landasan
pijakan yang dapat dipertanggung jawabkan. Bukankah penjajah Belanda yang
beragama Kristen, dan mereka itu adalah minoritas di Nusantara, terbukti telah
bercokol mencengkeramkan kuku-kukunya di Nusantara selama 350-an tahun dengan
aneka pelanggaran dan pemerkosaan hak-hak sipil? Berapa ribu ulama yang telah
dibantai dengan cara diadu domba. Contohnya, di zaman Amangkurat I, pengganti
Sultan Agung di Kerajaan Mataram Islam, di Jogjakarta, Amangkurat I mengadakan
perjanjian dengan Belanda, lalu para ulama tidak setuju, maka dikumpulkanlah
para ulama itu di alun-alun (lapangan) sejumlah 5.000-an ulama, lalu dibantai.
Sejarahnya sebagai berikut:

Amangkurat I membantai ribuan ulama

Pembantaian terhadap umat Islam kadang bukan hanya menimpa umat secara umum,
namun justru inti umat yang dibantai, yaitu para ulama. Pembantaian yang
diarahkan kepada ulama itu di antaranya oleh Amangkurat I, penerus Sultan
Agung, raja Mataram Islam di Jawa, tahun 1646.

Peristiwa itu bisa kita simak sebagai berikut:

‘Penyebaran Islam menjadi benar-benar terhambat dan sekaligus merupakan sejarah
paling hitam tatkala Amangkurat I mengumpulkan 5000 sampai 6000 orang ulama
seluruh Jawa dan membunuhnya seluruhnya secara serentak.’ 

Masalah ini ditegaskan lagi oleh Sjamsudduha pada halaman lain: ‘Penyebaran
Islam pernah mengalami hambatan yang bersifat politis, yaitu adanya pergolakan
intern dalam kerajaan-kerajaan Islam. Hambatan yang paling hebat dalam proses
penyebaran Islam terjadi ketika Amangkurat I melakukan pembunuhan besar-besaran
terhadap lima sampai enam ribu ulama dan keluarganya. Penyebaran Islam di Jawa
mengalami stagnasi untuk beberapa lama karena kehabisan muballigh, dan perasaan
takut.’

Dibantainya lima ribu sampai enam ribu ulama itu adalah masalah yang sangat
besar. Sumber yang lain menyebutkan:

‘Amangkurat I, juga terkenal dengan nama Amangkurat Tegal Arum atau Tegal Wangi
(karena mangkat di tempat tersebut) ialah putera Sultan Agung; naik tahta
Mataram (1645) sebagai pengganti ayahnya. Berlainan dengan Sultan Agung yang
bijaksana, Amangkurat I pada waktu hidupnya membuat beberapa kesalahan dan
sebagai tanda kelemahan ia mengadakan perjanjian perdamaian dengan Kompeni
Belanda (1646). Tindakannnya ini ditentang oleh beberapa golongan, di antaranya
para alim ulama, sehingga mereka ini disuruh bunuh.’

Peristiwa besar berupa pembantaian terhadap ribuan ulama itu tidak terjadi
kecuali di belakangnya ada penjajah Belanda yang menyetir Amangkurat I.

Penjajah Belanda itu jumlahnya sedikit, minoritas, tetapi memegang kendali
kepemimpinan, terbukti memainkan peran jahatnya terhadap inti umat Islam yaitu
membantai ribuan ulama. Kelompok minoritas itu sampai membantai yang mayoritas
saja tidak takut, apalagi kejahatan-kejahatan lainnya. Berikut ini sebagian
data kejahatan monoritas kafir penjajah Belanda terhadap umat Islam dalam
hal memberi dana sangat besar kepada Kristen dan Katolik, sebaliknya sangat
kecil terhadap Islam.

Semenjak masa pemerintah kolonial Belanda, Katolik terutama Protestan
memperoleh dana bantuan yang besar sekali, tidak demikian dengan Islam. Sebagai
contoh pada tahun 1927 alokasi bantuan untuk modal dalam rangka pengembangan
agama, adalah sebagai berikut:

Protestan memperoleh f31.000.000
Katolik memperoleh f10.080.000
Islam memperoleh f80.000.

Dana besar dari penjajah Belanda itu digunakan oleh orang Kristen dan Katolik
untuk membangun gedung-gedung, sekolah, rumah sakit dan sebagainya. Sedang
ummat Islam tidak punya uang. Pada gilirannya, anak-anak orang kafirin itu
telah makan sekolahan sedang anak-anak Muslimin belum, kecuali sedikit,
maka ketika merdeka, orang-orang kafirin Nasrani itu masuk ke pos-pos
pemerintahan di mana-mana. Padahal mereka itu ogah-ogahan untuk merdeka, lebih
enak menyusu pada penjajah sesama kafir. Jadi, yang berjuang mengorbankan nyawa
dan harta untuk melawan penjajah kafir itu orang Islam, namun ketika merdeka,
penyusu Belanda itu justru yang leha-leha duduk di kursi-kursi
pemerintahan.

Keadaan itu makin didukung oleh sikap pemerintahan Soekarno yang bersama PKI
(Partai Komunis Indonesia) mempecundangi ummat Islam. Senjata ampuh Soekarno
dan PKI adalah istilah DI (Darul Islam) yang harus dihabisi sampai
seakar-akarnya. Di situ kafirin Nasrani bersorak kegirangan karena ummat Islam dikuyo-kuyo
(dipecundangi, disengsarakan). Di masa Soeharto berkuasa 32 tahun pun ummat
Islam dikuyo-kuyo lagi oleh Soharto, Ali Moertopo, Benny Moerdani,
Sudomo (sebelum masuk Islam) dengan tunggangan Golkar. Sampai hanya untuk
bicara agama saja harus pakai SIM (Surat Izin Muballigh). Dan ummat Islam
banyak dibantai di mana- mana, di Aceh, Tanjung Priok, Lampung, Haur Koneng
Jabar dan sebagainya. Lagi-lagi kafirin Nasrani bersorak sorai.

Mereka yang sorak sorai –selama umat Islam dibantai, dikuyo-kuyo dan
didhalimi– itu kini diusulkan oleh Dawam Rahardjo untuk memimpin Departemen
Agama, yang diadakannya Departemen Agama itu sendiri menurut sejarahnya adalah
hadiah bagi umat Islam, karena para ulama dan umat Islam telah berjuang
mati-matian untuk meraih kemerdekaan. Kalau toh penyengsaraan terhadap umat
Islam tidak sampai tingkat pembantaian, maka seandainya dari kalangan Kristen
memimpin Departemen Agama, lakon nenek moyangnya dalam ideology dan agama,
yaitu penjajah Belanda, bisa diterapkan pula. Yaitu dana untuk Nasrani 41 juta
Gulden, sedang untuk Islam hanya 80 ribu Gulden saja.

Tidak usah jauh-jauh ke zaman Belanda, di saat pemerintahan Orde Baru pimpinan
presiden Soeharto, ketika Benny Moerdani yang Nasrani itu dijadikan Menteri
Pertahanan dan Keamanan/ Panglima Angkatan Bersenjata, ternyata ratusan umat
Islam dibantai di Tanjung Priok, Jakarta Utara, 12 September 1984. Diperkirakan
ratusan Muslimin dibantai, diangkut bertruck-truck entah ke mana dikuburkannya,
tak jelas.

Kemudian ketika TB Silalahi dari Nasrani pula dijadikan Menteri Aparatur
Negara, maka membuat kebijakan yang mengarah pada pembunuhan madrasah-madrasah
sore hari, dengan cara menambah lama bersekolah di sekolah-sekolah umum sampai
agak sore, sehingga mengakibatkan rontoknya madrasah-madrasah sore hari. Masih
pula ditambah dengan menghapus pengadaan guru-buru negeri untuk sekolah swasta,
yang artinya adalah membunuh madrasah-madrasah (swasta) se-Indonesia. Hingga
kini setelah tahun 2000 pun dampaknya makin memprihatinkan. Madrasah-madrasah
(swasta) mengalami koleps, rata-rata dalam keadaan megap-megap, karena
kekuarangan guru. Untuk seluruh Indonesia diperkirakan butuh 200.000-an guru
madrasah, dan khabarnya sampai sekarang kalau Departemen Agama RI mengajukan
kepada pemerintah untuk mengadakan tenaga guru itu senantiasa ditolak, kecuali
sangat sedikit. Sebaliknya, TB Silalahi walau sudah tak jadi menteri masih
aktif dalam kenasraniannya secara nasional, misalnya jadi ketua panitia natalan
tingkat nasional, yang mampu menggiring para pejabat Muslim sampai tingkat
presiden untuk hadir di upacara bernatalan ria, satu hal yang telah diharamkan
oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) bagi umat Islam. Seakan fatwa MUI itu
dianggap angin lalu oleh para pejabat Muslim. Padahal, mereka (pejabat-pejabat
Muslim) itu ketika sebelum naik jabatan biasanya mendekat-dekat kepada umat
Islam, paling kurang dengan cara hadir di masjid-masjid,guna meraih simpati
umat Islam, misalnya. Terkutuklah mereka. Agama dijadikan alat untuk meraih
jabatan. Betapa bedanya antara pejabat yang Muslim dengan yang kafir. Kalau
pejabat kafir, sampai sudah tidak menjabat pun masih gigih menjajakan
kekafirannya, seperti menjadi panitia upacara nasional kekafiran mereka, dan
mampu menggiring pejabat yang masih aktif untuk hadir di acara kekafiran
mereka. Sebaliknya, pejabat-pejabat Muslim, ketika masih menjabat saja sudah
lupa terhadap Islam dan umat Islam. Justru biasanya mereka ikut-ikutan ke
acara-acara kafir. Kemudian setelah mereka tidak punya jabatan lagi, baru
sebagian mendekat-dekat lagi ke umat Islam, tetapi sudah tidak ada daya
apa-apa, hanya sekadar mengisi waktu menunggu umur.

Kembali kepada sikap Dawam Rahardjo, perlu diingatkan mengenai kegigigihan
orang kafir tersebut. Yang telah dikemukakan itu tadi, orang-orang Nasrani
sampai sebegitu jauhnya dalam memecundangi Islam dan umat Islam. Padahal mereka
itu tidak langsung memegang jabatan yang berkaitan dengan agama Islam.
Bagaimana pula seandainya mereka yang Nasrani itu menjadi menteri agama? Tidak
jadi menteri agama saja, terbukti pencelakaan terhadap umat Islam sudah
sedemikian drastisnya. Lha kok Dawam Rahardjo yang dijuluki sebagai cendekiawan
Muslim malahan sama sekali buta terhadap lakon jahat orang Nasrani yang telah
ditusukkan kepada umat Islam se-Indonesia, padahal jelas-jelas di depan mata.

Sikap Snouck terhadap Islam, Ulama, dan Muslimin

Snouck telah melibatkan dirinya untuk kepentingan penjajahan dengan bukti
pernyataan dan laporannya kepada Jendral Van Houts untuk memerangi kaum
muslimin di seluruh wilayah jajahan Belanda. Dengan kata lain ia mengusulkan
untuk menggunakan kekerasan dalam menumpas kaum muslimin
. Karena itu
Jendral tadi mendapat julukan “pedang Snouck yang ampuh” karena
keberhasilannya dalam memerangi umat Islam.

Di samping itu Snouck Hurgronye juga banyak membantu dalam pembinaan kader
missionaris Belanda dan membuka sekolahan untuk mengkristenkan muslimin di
seluruh wilayah jajahannya.

Terdapat fakta lain pula bahwa seorang tokoh missionaris kondang dan sangat
disegani di kalangan kaum orientalis yang bernama Hendrick Kraemer adalah murid
Snouck Hurgronje, dari tahun 1921 hingga tahun 1935. Hubungan di antara guru
dan murid terus berkesinambungan tanpa putus. Snouck Hurgronje wafat pada tahun
1936.

Dr Van Koningsveled berkata: “Tidak terputus surat menyurat antara Snouck
Hurgronje dan muridnya, Hendrik Kraemer, misisionaris terkenal dan berpengaruh
dalam lingkungan aktivis kristenisasi dari tahun 1921 sampai dengan 1935.
Menurut penjelasan Boland, buku Hendrik Kraemer, Misi Kristen di Dunia Non
Kristen[b] 
mengungkapkan dengan jelas bahwa orang-orang Kristen
mempunyai rencana untuk mengkristenkan dunia, khususnya Indonesia. Mereka
bertujuan menundukkan dunia Islam. Bahkan, Kraemer membandingkan Islam dengan
Nazi. [/b]

Zaman merdeka, minoritas pun membantai umat Islam

Bahkan di zaman merdeka dan setelah tahun 2000 pun Indonesia yang mayoritas
Muslim ini, kaum minoritas membantai umat Islam di Poso Sulawesi, juga di
Ambon. Tibo, otak pembantaian terhadap umat Islam di Poso, dikabarakan mengaku
didoakan oleh gereja ketika mau melakukan pembantaian itu. Majalah Sabili No
22, Th XIII, 18 Mei 2006/ 20 Rabi’ul Akhir 1427H memberitakan sebagai berikut:

Gereja acap kali disebut-sebut dalam berbagai kerusuhan di tanah air.
Keterlibatan gereja pula yang disebut tervonis mati Tibo baru-baru ini.

Menjelang eksekusi mati, panglima pasukan Merah saat konflik Poso berkecamuk

beberapa waktu lalu ini, mengungkap keterlibatan Majelis Sinode Gereja Kristen
Sulawesi Tengah (GKST). GKST pimpinan pendeta Damanik yang berpusat di Tentena
ini, menurut Tibo terlibat dalam pembantaian umat Islam Poso.

Menurut Tibo, (pihak gereja) GKST memberikan dukungan moril dan lainnya
kepada pasukan Merah yang hendak menyerang kaum Muslimin Poso. Bahkan, lanjut
Tibo, para pendeta mendoakan mereka dengan upacara ala Kristen di Gereja
tersebut.

Hasilnya? Sebuah tragedy kemanusiaan yang di luar batas kewajaran manusia.
Pembantaian dan penganiayaan terhadap umat Islam secara biadab telah dilakukan
pasukan Merah. Fakta ini terungkap dari keterangan sejumlah saksi saat
persidangan Tibo beberapa waktu yang lalu.

Kesadisan pasukan Kelelawar pimpinan Tibo terhadap kaum Muslimin terungkap di
persidangan. Menurut salah satu saksi, pembina pesantren Walisongo Poso, Ustadz
Ilham, ia melihat rekannya dibacok pasukan Merah pimpinan Tibo, sebelum ia
nekad loncat dari mobil dan meloloskan diri.

Sebelumnya, Ustadz Ilham bersama 28 orang lainnya disuruh buka baju.
Selanjutnya tangan diikat satu persatu dengan sabut kelapa, tali nilon dan
kabel. Kemudian digiring lewat hutan tembus desa Lempomawu. Rombongan Ustadz
Ilham berjalan ke desa Ranononco dan ditampung di sebuah baruga.

Di sanalah mereka disiksa dalam keadaan berbanjar dua barisan. Selanjutnya
ikatan tangan ditambah sampai bersusun tiga. Badan Ustadz Ilham diiris,
ditendang dan dipukul dengan berbagai alat. Tak puas dengan itu, mereka
menyirami umat Islam dengan air panas selama dua jam.

Kebringasan pasukan Merah itu juga diungkap saksi lainnya, Tuminah. Menurut
kesaksian Tuminah, pasukan Merah mengikat mereka dengan tali dan memisahkan
antara laki-laki dan perempuan. Di bilik sebuah sekolah, Dominggus meminta para
Muslimah melepas bajunya dan disuruh berputar-putar di depannya.

Jauh sebelumnya, keterlibatan Gereja juga disebut-sebut saat penyerangan kaum
Kristen terhadap umat Islam Maluku di akhir tahun 1999. Sehari setelah Natal,
Ahad (26/12 1999), dengan amat tiba-tiba, massa Kristen menyerang dan membantai
kaum Muslimin di Kecamatan Tobelo, Maluku Utara.

Seorang saksi menceritakan, pembantaian yang menyayat hati umat Islam tersebut.
Menurut ceritanya, sebelum penyerangan biadab itu terdengar suara lonceng
Gereja saling bersahutan serta suara gaduh tiang listrik, bak pertanda kesiapan
untuk menyerang.

Seketika, massa Kristen yang membawa berbagai senjata tajam sudah mengepung dan
membombardir Masjid Jami’ tempat berlindungnya ribuan kaum Muslimin. Masjid
Jami’pun diguyur bensin dan dengan cepat api menjilat tembok-temboknya.

Jerit tangis anak-anak kecil bayi yang kepanasan dan istighfar para Muslimah
terdengar bersahut-sahutan. Yang mencoba keluar masjid langsung dibantai.
Kurang lebih 750 orang kaum Muslimin yang berada di dalam masjid tersebut
terbakar hidup-hidup, hingga mengeluarkan aroma daging terbakar.

Sejumlah pihak pun mensinyalir keterlibatan Gereja di sejumlah daerah konflik
lainnya. Sebut misalnya, kerusuhan Timor Timur (saat masih masuk wilayah
Indonesia). Ketika itu, kepala Kanwil Departemen Agama di Timor Timur seorang
Katolik. Ternyata karyawannya yang beragama Islam, hanya mau berkhutbah Jum’at
di masjid saja dilarang oleh Kakanwilnya yang Katolik itu. Pengakuan karyawan
Kanwil Departemen Agama Timor Timur bahwa dirinya dilarang oleh Kakanwilnya
untuk berkhutbah di masjid itu penulis dengar langsung ketika penulis bersama
rombongan wartawan Islam dari Jakarta berada di Dilly Timor Timur, waktu masih
jadi wilayah Indonesia. Nah, kalau menteri agamanya dari Katolik atau Kristen,
jenis-jenis pembantaian terhadap umat Islam dan pelarangan-pelarangan khutbah
di masjid-masjid bagi karyawan Departemen Agama, apakah tidak dilancarkan,
bahkan digalakkan? Dawam Rahardjo perlu berpikir ulang, kalau memang masih
mengaku Muslim, atau berpikiran obyektif.

Tirani minoritas

Apakah itu tidak pernah terdengar di telinga seorang professor yang menyandang
gelar cendekiawan Muslim seperti Dawam Rahardjo? Sedang tidur di mana dia?
Selain itu, apakah tidak pernah mendengar bahwa dalam perpolitikan di Indonesia
selama masa Orde baru di bawah rezim Soeharto, dalam tempo 25 tahun dari 32
tahun kekuasaannya sering diistilahkan adanya tirani minoritas, lantaran
kebijakan Soeharto mengikuti pihak minoritas dengan CSIS-nya dan di bidang
kekuasaan adalah Benny Murdani-nya? Kemudian setelah ada kerenggangan antara
Benny dan Soeharto, lantas terjadilah aneka kerusuhan di daerah-daerah
Indonesia bagian timur yang di sana campur antara Muslim dan Kristiani, maka
umat Islam dibantai, dibakari rumahnya, tokonya, dan bahkan masjid-masjidnya
seperti yang terjadi di Timor Timur, Flores dan lainnya. Apakah Dawam tak
pernah dengar? Bagaimana ketika pegawai Departemen Agama saja tidak boleh
khutbah di masjid oleh atasannya ketika atasannya orang Katolik seperti yang
terjadi di Timor Timur, padahal secara penduduk Indonesia, Katolik adalah
minoritas. Apakah Dawam tak pernah dengar? Bagaimana misalnya menteri agamanya
itu orang Kristen, lalu melarang pegawai Departemen Agama berkhutbah di masjid,
sebagaimana Kepala Kanwil Depag Timor Timur waktu masih jadi wilayah Indonesia
melarang pegawainya berkhutbah di masjid yang sudah ada, bahkan untuk didirikan
musholla saja sulit di sana? Masih banyak lagi tentunya.

Bukan hanya di wilayah yang banyak orang Kristennya. Di zaman Soeharto, saat
berlangsung tirani minoritas, maka pencekalan terhadap khotib-khotib dan
muballigh pun berlangsung, hingga ada istilah SIM (Surat Izin Muballigh).
Daftar apa yang disebut muballigh-muballigh ekstrim pun beredar. Hingga
muballigh digagalkan untuk berkhutbah hari raya seperti Pak Dr Deliar Noer yang
digagalkan hingga masuk berita di Koran pun, Dawam tentunya dengar. Kenapa?
Karena umat Islam dikuyo-kuyo oleh kebijakan yang memihak pada minoritas
Kristen.

Nah, sekarang ini, rupanya Dawam justru menjadikan dirinya rela, suka ria,
menjadi orang yang tidak perlu ditekan-tekan oleh minoritas Kristen, justru
mencadangkan diri untuk di bagian depan sebagai orang yang rela untuk ditepuki
oleh orang Kristen. Makin ramai tepuk sorak orang Kristen, makin bersemangatlah
Dawam. Padahal, nanti kalau meninggal dunia, Pak Dawam apakah akan dirumat oleh
orang Kristen? Apakah yang memandikan, mengkafani, mensholati, dan memasukkan
ke liang kubur nanti diharapkan dari orang-orang Kristen? Dan misalnya masih
percaya terhadap doa, apakah lebih baik yang mendoakan mayat Dawam nanti orang
Kristen dengan nyanyian-nyanyian kemusyrikannya?

Kalau Dawam Rahardjo istiqomah dengan pendapatnya, maka logika yang dapat
dipetik: Lebih baik nanti yang merawat jenazah saya adalah dari pihak yang
minoritas, misalnya Kristen. Karena mereka yang minoritas itu nanti tidak akan
berani sewenang-wenang terhadap jasad saya. Berbeda dengan kalau yang merawat
sampai menguburkan jasad saya itu dari pihak yang mayoritas, yakni kaum
Muslimin, mereka pasti akan berbuat sewenang-wenang, karena merasa mayoritas,
dan tidak dapat dikontrol dalam hal merawat jasad saya. Jadi saya lebih memilih
untuk dirawat oleh orang Kristen dari proses perawatan jenazah saya sampai
penguburannya. Kalau dapat, justru yang paling minoritas, yaitu orang yang
tidak beragamalah yang harus merawat sampai menguburkan jenazah saya. Karena
kalau yang paling minoritas, maka tidak mungkin akan berani untuk berbuat
sewenang-wenang terhadap jasad saya. Berbeda dengan kalau yang mayoritas. Jadi
saya lebih memilih untuk dirawat jenazah saya oleh orang yang tidak beragama,
daripada yang beragama.” Itu logika yang pas dari ungkapan-ungkapan Dawam
Rahardjo yang telah terlontar sebelumnya, bila dirangkaikan dengan kematiannya,
kapan-kapan.

2. Tidak punya ghirah Islamiyah.

Dawam Rahardjo menampakkan diri sebagai orang yang tidak punya ghirah
Islamiyah, justru cenderung menjauhkan diri dari kepentingan Islam. Dalam kasus
Dawam menginginkan Menteri Agama lebih baik diganti dengan yang dari minoritas
misalnya dari Kristen, itu mirip dengan pernyataan Gus Dur waktu jadi presiden
bahwa Masjid Istiqlal di Jakarta seharusnya bukan hanya diurus oleh umat Islam
saja. Kemiripannya ada, yaitu sama-sama tidak punya ghirah Islamiyah, justru
ingin menyerahkan Islam kepada orang kafir. Kalau yang diserahkan itu sekadar
diri Dawam atau mayat Dawam, misalnya, itu adalah diri pribadinya. Itu saja,
kerluarga dan ahli warisnya belum tentu merelakannya. Tetapi kalau yang
diserahkan kepada orang kafir itu tentang urusan umat Islam, maka apa hak
Dawam? Menyerahkan dirinya sendiri kepada orang kafir itu saja tidak sepenuhnya
jadi hak Dawam. Misalnya, ibunya yang masih hidup, tentu tidak rela. Hingga
Ibunya menelepon ke Dawam, dan kemudian orang lain yang disalahkan oleh Dawam,
karena Dawam menganggap, ibunya itu diintervensi oleh orang lain. Padahal belum
tentu ibunya itu diintervensi oleh orang lain. Mungkin ibunya itu melihat
berita-berita di televisi tentang ucapan-ucapan Dawam, mungkin pula ditambah
dengan rasa kasihan sebagai seorang ibu terhadap anaknya. Tetapi oleh Dawam
langsung divonis bahwa ibunya diintervensi orang. Terlepas dari itu semua,
sebenarnya, menyerahkan diri sendiri (diri Dawam) kepada orang kafir itu saja
sudah bukan sepenuhnya hak Dawam, walau adzabnya memang menjadi resiko Dawam;
tetapi ibunya kan tidak rela. Padahal ketidak relaan ibunya itu menjadi
pertanda ketidak relaan Allah swt. Jadi, apalagi kalau yang diserahkan itu
urusan Islam, oleh Dawam mau diserahkan kepada orang kafir. Apa hak Dawam? Dan
siapa yang rela?

3. Jauh dari petunjuk Nabi saw.

Cara berpikir Dawam Rahardjo itu jauh dari petunjuk Nabi Muhammad saw. Bahkan
jauh dari petunjuk Allah swt dalam Al-Qur’an. Dalam hal memegang jabatan, yang
telah ditunjuki Rasulullah saw adalah:

{ إذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ لِغَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرُوا
السَّاعَةَ } رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ فِي أَوَّلِ كِتَابِ الْعِلْمِ

Apabila urusan itu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saatnya
(kiamat). (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam awal kitab ilmu).

Bahkan untuk bertanya saja, tidak sampai menyerahkan urusan, hanya bertanya
saja, dalam Al-Qur’an ditegaskan:

{ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إنْ
كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ }

Maka bertanyalah kepada ahli ilmu apabila kalian tidak mengetahui. (QS An-Nahl/
16: 43).

Dari ayat dan hadits itu bisa diambil pelajaran bahwa yang berhak itu adalah
yang ahlinya. Ketika bukan ahlinya, maka akibatnya rusak, hancur. Baru mengenai
pembicaraan saja, seperti perkatan Dawam Rahardjo ini, karena dia tidak ahli agama,
lalu berbicara tentang urusan yang menyangkut agama (Ahmadiyah, Lia Eden, orang
tak beragama, menteri agama dan sebagainya), maka sudah tampak betul ketidak
jelasan alur pembicaraannya, dan sulit untuk dipertanggung jawabkan, walau
untuk dirinya sendiri, yaitu misalnya tentang penyerahan mayat dirinya nanti
kepada orang kafir. Dengan demikian, ungkapan-ungkapan Dawam Rahardjo di depan
orang kafir dan untuk menyenang-nyenangkan orang kafir padahal dirinya berlabel
cendekiawan Muslim, maka sangat aneh. Meskipun demikian, untuk melacaknya di
dalam ajaran Islam tidak sulit. Karena di dalam Al-Qur’an pun sudah difirmakan
Allah swt:

لَا تَجِدُ
قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا ءَابَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ
عَشِيرَتَهُم
ْ

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari
akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan
Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau
saudara-saudara ataupun keluarga mereka. (QS Al-Mujadilah/ 58: 22).

تَرَى كَثِيرًا
مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ
أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ(80)وَلَوْ كَانُوا
يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ
وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ(81)

Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang
kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri
mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan.

Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang
diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang
musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah
orang-orang yang fasik. (QS Al-Maaidah/ 5 : 80, 81).

4. Tidak jelas wala’ dan baro’nya.

Dawam Rahardjo dengan berbagai ucapan, sikap, dan upayanya yang menyakiti umat
Islam, dan sebaliknya mendekat-dekat dan menyanjung orang kafir serta
memperjuangkan mereka itu menandakan dirinya tidak jelas wala’ (kecintaan/
loyalitas) dan baro’ (kebencian)nya. Seharusnya, orang Muslim itu wala’nya
kepada Allah swt, Rasulullah saw, dan kaum Mukminin atau umat Islam. Secara
singkatnya, wala’nya kepada Islam. Sedang baro’nya (kebencian, lepas diri,
memusuhi dan sebagainya) adalah terhadap kekufuran.

Syekh Sulaiman ibn Abdillah ibn Muhammad ibn Abdil Wahhab mengatakan: “Agama
ini tidak akan tegak, panji-panji jihad tidak tegak dan panji-panji amar ma’ruf
dan nahi munkar tidak tegak melainkan karena aqidah cinta karena Allah dan
benci karena Allah…seandainya seluruh manusia bersatu di atas jalan yang satu
dan kecintaan yang satu tanpa ada kebencian dan permusuhan, tentu tidak
tercipta adanya furqan; pembeda antara yang haq dan yang bathil, antara yang
mukmin dan yang kafir dan tidak ada pembeda antara wali-wali Allah dan
wali-wali syetan” (Risalah Awtsaq Ura al-Islam, 38). 

Memporak porandakan pembeda haq dan batil

Yang ditempuh oleh Dawam Rahardjo dan orang-orang yang mengusung faham sepilis
(sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme) adalah pengandaian itu. Yaitu:
seandainya seluruh manusia bersatu di atas jalan yang satu dan kecintaan
yang satu tanpa ada kebencian dan permusuhan
. Untuk meraihnya, mereka
melakukan jurus-jurus yang berlawanan arus dengan aqidah wala’ dan baro’. Islam
yang seharusnya dicintai justru dipecundangi, sebaliknya kekafiran yang
seharusnya dibenci dan dimusuhi justru dibela. Islam yang seharusnya
diperjuangkan, ditegakkan syari’atnya, malah mereka tolak ramai-ramai. Sedang
kekufuran dan aturan thoghut yang seharusnya dibenci, dimusuhi, justru mereka
usung, mereka perjuangkan secara ramai-ramai.

Hasilnya?

Kalau upaya Dawam Rahardjo dan kaum Sepilis itu dibiarkan, maka hasilnya
sebagaimana dikemukakan oleh Syaikh Sulaiman tadi, yaitu: “Tidak tercipta
adanya furqan; pembeda antara yang haq dan yang bathil, antara yang mukmin dan
yang kafir dan tidak ada pembeda antara wali-wali Allah dan wali-wali syetan”.

Kalau itu diterus-teruskan, tidak lain akan menuju kepada kerendahan derajat
manusia ke lembah yang sangat hina. Karena mereka akan mempreteli aturan demi
aturan yang ada di Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pernikahan yang telah diatur oleh
Allah swt dan Rasulullah saw pun telah mereka obrak-abrik, hingga mereka secara
demonstratip mengadakan perkawinan antar agama. Wanita mengaku Muslimah tetapi
nikah dengan lelaki non Islam. Bahkan ada proyek yang mendanai pernikahan yang
melawan aturan Islam itu. Padahal sudah jelas diharamkan oleh Allah swt dalam
Al-Qur’an Surat Al-Baqarah/ 2: 221, dan QS Al-Mumtahanah/ 60: 10. Bahkan sudah
ada yang menulis buku, dengan mengecam segala aturan pernikahan, mengecam
lembaga pernikahan. Mereka ingin membebaskan manusia sebagaimana bebasnya
binatang, bahkan lebih dari itu, menghalalkan pelacuran, sambil mengecam
pernikahan.

Ujung-ujungnya, mereka itu menjerumuskan manusia kepada derajat hina, yaitu
budak-budak nafsu.

أَرَأَيْتَ
مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا(43)أَمْ تَحْسَبُ
أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ
بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا(44)

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?

atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami.
Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (QS Al-Furqon/ 25: 43, 44).

Dawam Rahardjo jelas berada di barisan depan dalam perhelatan perusakan Islam
ini. Sehingga ibunya pun meneleponnya dari Solo Jawa Tengah (ke Dawam yang
berada di Jakarta), dan dia beberkan kepada orang-orang Kristen peristiwa itu,
dengan menyalahkan orang-orang yang dianggap memberi informasi salah kepada
ibunya. Dawam menganggap, ada orang-orang yang menyerang Dawam lewat ibunya.

Itu semua urusan Dawam Rahardjo sendiri. Ternyata “perjuangannya” dalam
mengusung dan membela kebatilan itu penuh keruwetan. Padahal kalau mau menempuh
jalan yang benar, Allah telah menjanjikan:

فَإِنَّ مَعَ
الْعُسْرِ يُسْرًا(5)إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا(6)

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu adakemudahan, sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan. (QS Al-Insyirah/ 94: 5, 6).

Sebaliknya, sesuai dengan yang diusung adalah kebatilan dan perjuangannya untuk
membela kekufuran, maka Allah pun mengancam:

أَعَدَّ اللَّهُ
لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ(15)

Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat
buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (QS Al-Mujadilah: 15).

لِيَحْمِلُوا
أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ
بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ(25)

(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya
pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang
tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah
dosa yang mereka pikul itu. (QS An-Nahl/ 16 : 25).

Oleh karena itu, seyogyanya Dawam Rahardjo dan orang-orang yang mengaku Muslim
tetapi menempuh jalur yang tak sesuai dengan Islam itu bertaubatlah dengan taubatan
nashuha
, taubat yang benar-benar taubat. Sebelum nyawa sampai ditenggorokan
(maa lam yughorghir), yang saat itu telah terlambat untuk bertaubat.
Penyesalan pun tak ada gunanya lagi saat itu dan selanjutnya.

Apakah orang memberi nasihat semacam ini juga mau disomasi? Silakan!

FOOTNOTE:

 

  1. Hartono Ahmad Jaiz, DiBawah Bayang-bayang Soekarno Soeharto, Tragedi Politik Islam Indonesia dari Orde Lama hingga Orde Baru, Darul Falah, Jakarta, cetakan 2, 1420H, halaman 77.
  2. Sjamsudduha, Penyebaran dan Perkembangan Islam- Katolik- Protestan di Indonesia, Usaha Nasional, Surabaya, 1987,  halaman 119.
  3. Ibid, halaman 167.
  4. Prof. Mr, AG. Pringgodigdo–Hassan Shadily MA, Ensiklopedi Umum, Penerbit Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 1977, halaman 45.
  5. Sjamsudduha, Penyebaran dan Perkembangan Islam - Katolik- Protestan di Indonesia,_Usaha Nasional Indonesia, cet II, 1987, hal 129.
  6. Dr Ahmad Abdul Hamid Ghurab, ru’yah Islamiyyah lil Istisyraq, terjemahan AM Basalamah, Menyingkap Tabir Orientalisme, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, I, 1992, hal 97-98.
  7. Hendrik Kraemer, the Crisitian Message in a non-Christian World, London, 1938, edisi kedua, 1947.
  8. B.J Boland, the Strugle of Islam in Modern Indonesia’s Gravenhage, 1970, hal 236, dikutip Qasim Assamurai hal 164.
  9. Kraemer, op cit, hal 353, bandingkan Boland, op cit, hal 240, no 146, dikutip Qasim, ibid, hal 164.
  10. Majalah SabiliNo 22, Th XIII, 18 Mei 2006/ 20 Rabi’ul Akhir 1427H, halaman 20-21.
  11. Aqidah wala’ dan Bara’, Oleh: Ust. Agus Hasan Bashari Lc, M. Ag, da’I Yayasan Al-Sofwa Jakarta, tinggal di Malang.

Wanita Ideal

November 24th, 2006 by feliaja

Sekilas Mengupas Buku Eva Herman

Resensi Oleh : Redaksi 23 Nov 2006 - 5:00 pm

Baru-baru ini di Jerman telah terbit sebuah buku mengenai peran perempuan yang menjadi pembicaraan luas. Penulis buku ini adalah Eva Herman ( www.eva-herman.de )yang dikenal sebagai pembawa acara di televisi Jerman. Bukunya yang diberi judul “Prinsip-Pronsip Eva” itu terbit bulan September 2006. Namun buku ini menjadi pembicaraan luas setelah Eva Herman secara terang-terangan membahas berbagai topik yang ditulisnya dalam buku tersebut. Salah satu topik kontroversial yang diangkat Herman adalah bahwa perempuan seharusnya kembali ke rumah dan menikmati peran sebagai istri dan ibu.

Gerakan perempuan muncul di berbagai negara Eropa sejak abad ke 17 dan 18. Meski tidak dalam bentuk gerakan yang terorganisir, sejak saat itulah pemikiran mengenai feminisme mulai berkembang. Para pembela hak-hak perempuan memulai gerakan mereka dengan alasan ingin membela hak-hak perempuan dan menolak adanya pembedaan antara laki-laki dan perempuan.

Pada tahun-tahun pertama setelah Perang Dunia Kedua, terbitlah buku berjudul Gender Kedua, yang ditulis oleh Simone de Beauvair seorang feminis ekstrim. Melalui bukunya ini Beauvair mendorong kaum perempuan untuk bersaing dengan kaum laki-laki.

Dalam gerakan feminisme semacam ini, kaum perempuan dijauhkan dari tugasnya semula sebagai istri dan ibu. Dalam pandangan mereka, persamaan hak antara laki-laki dan perempuan bermakna mengabaikan semua perbdaan alami antara laki-laki dan perempuan, baik itu perbedaan fisik atau psikologis. John Stuart Mill adalah salah seorang pendukung feminisme ekstrim yang mengingkari perbedaan alami laki-laki dan perempuan. Dalam bukunya Mill menulis, “Penggolongan jenis laki-laki dan perempuan sesungguhnya adalah sesuatu hal yang dibuat-buat yang hasilnya adalah represi terhadap satu dimenasi dan memprovokasi dimensi lainnya secara tidak alami.”

Hingga kini, telah beberapa abad berlalu sejak dimulainya gerakan feminisme, kaum perempuan di dunia Barat telah mengalami berbagai aktivitas dan pekerjaan di luar rumah yang melelahkan. Kini, terdengar suara lain yang didengungkan sebagian kaum perempuan di Barat. Para pekerja perempuan di Barat mulai bangkit memprotes pekerjaan berat yang dibebankan kepada mereka, tanpa memperhatikan karakteristik fisik dan psikis perempuan. Banyak kaum perempuan di Eropa yang merasakan kekosongan maknawiah dalam kehidupan mereka dan merindukan kehidupan keluarga yang penuh empati dan kasih sayang. Keinginan seperti inilah yang disuarakan Eva Herman dalam bukunya itu.

Eva Herman dalam bukunya memaparkan contoh-contoh dan bukti-bukti mengenai aktivitas kaum perempuan di dalam masyarakat. Dengan mengajukan data statistik dan informasi mengenai pendukung gerakan perempuan, Eva mengambil kesimpulan bahwa aktivitas di luar rumah malah justru menimbulkan masalah bagi kehidupan perempuan. Menurut Herman, masalah ini terjadi karena kesalahan pemikiran yang berkembang di tengah perempuan, yaitu bahwa perempuan harus bekerja di luar rumah untuk membuktikan eksistensinya. Herman menulis, “Gerakan perempuan telah mengeluarkan perempuan dari kondisi keperempuannya dan meletakkan mereka dalam kondisi kelaki-lakian. Adalah sebuah kesalahan bila kita menginginkan perempuan menjadi seperti laki-laki karena sesungguhnya keduanya berbeda secara alami.”

Perempuan Jerman ini dalam bagian lain bukunya menekankan agar dijalin kesepahaman antara laki-laki dan perempuan. Herman meyakini bahwa perempuan memiliki posisi yang istimewa dan memiliki peran utama dalam pembentukan keluarga dan pendidikan anak. Eva menekankan agar slogan-slogan kebebasan mutlak mengenai anak-anak harus disingkirkan dan keluarga harus memberikan perhatian yang lebih besar kepada pendidikan anak-anak mereka. Setelah meneliti kondisi perempuan dan keluarga, Eva Herman menyimpulkan bahwa anak-anak dan remaja adalah korban utama dari aktivitas perempuan di luar rumah. Dalam salah satu bab di bukunya yang diberi judul Tragedi Anak-Anak, dia mengkritisi ketiadaan kasih sayang di antara anggota keluarga. Eva mengatakan, “Di dunia dewasa ini, anak-anak menganggap kekerasan sebagai hal yang alami. Bukankah menjadi kewajiban para ibu untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka bahwa di dunia ini, selain kekerasan ada banyak hal lain yang harus diperhatikan?”

Pembahasan Eva Herman mengenai kecenderungan kaum perempuan modern untuk tidak memiliki anak telah menjadi sebuah pembahasan kontroversial di Jerman. Eva mengatakan, “Karena kewajiban utama kaum perempuan sebagai ibu dan pendidik anak tidak dilaksanakan dengan baik, anak-anak menderita dan menghadapi banyak masalah.” Eva menambahkan, “Aktivitas perempuan di luar rumah telah menghancurkan pondasi keluarga. Namun kita kaum perempuan memiliki kemampuan untuk melepaskan diri dari jalan buntu ini. Kita harus kembali kepada emosi keperempuanan, rasa malu, dan kesucian, serta kepada naluri alami untuk memiliki anak. “

Tentu saja pandangan Eva Herman ini juga bisa ditelaah lebih lanjut. Kenyataan menunjukkan bahwa kehadiran kaum perempuan di tengah masyarakat tidak selalu berarti terjun ke dalam persaingan dengan kaum laki-laki. Kondisi sosial dan tekanan ekonomi juga menjadi pendorong bagi sebagian perempuan untuk bekerja di luar rumah. Selain itu, dalam sebagian bidang, kehadiran perempuan dalam masyarakat terbukti memiliki peran positif. Banyak perempuan yang berhasil menjaga keutuhan keluarga dan mendidik anak-anak dengan baik, namun pada saat yang sama, mereka juga membaktikan kemampuannya bagi kemajuan masyarakat.

Di sisi lain,sesungguhnya apa yang disampaikan Eva Herman dalam bukunya ini memiliki kedekatan dengan ajaran Islam yang terkait dengan perempuan. Dalam Islam, perempuan dan laki-laki memiliki nilai kemanusiaan yang setara, tidak ada yang lebih rendah daripada yang lain. Dalam Islam, laki-laki dan perempuan adalah dua makluk Tuhan yang memiliki kedudukan yang sama. Namun, Islam mengakui adanya perbedaan alami antara laki-laki dan perempuan dan perbedaan alami inilah yang membedakan tugas dan tanggung jawab di antara keduanya. Islam tidak menafikan atau melarang peran perempuan di luar rumah, namun Islam memberitahukan bahwa yang harus diutamakan adalah peran perempuan dalam keluarga. Islam menyuruh agar laki-laki dan perempuan hidup berdampingan dalam suasana kasih sayang serta bersama-sama membangun keluarga yang baik sehingga tercipta masyarakat yang sehat. (Irib)

Tokoh/Figur yang feli damba2kan

October 30th, 2006 by feliaja

Manuver Kekuatan Rakyat Libanon; S H Nasrullah PemrakarsaTimur Tengah Baru Laporan Oleh : Redaksi 30 Oct, 06 - 3:16 pm

“Kekuatan kami tidak ditentukan oleh senjata-senjata kami, tetapi oleh rakyat dan nenek tua yang dengan berani tetap berdiri di samping bekas reruntuhan rumahnya untuk menunjukkan perlawanannya”. ( Sayyid Hasan Nasrullah)

Perayaan kemenangan rakyat Libanon yan digelar Jum’at 22 September 2006 merupakan perayaan terbesar dalam sejarah Libanon. Hari itu ribuan orang datang dan berkumpul mendengarkan pesan-pesan dari pidato Sayyid Hasan Nasrullah. Mungkin dapat kita simpulkan bahwa perayaan kemenangan ini adalah sebagai sebuah embrio bagi terciptanya Timur Tengah baru menurut tafsiran dan gaya Hisbullah.

Dalam pembukaan pidatonya kali ini Hasan Nasrullah setelah mengucapkan syukur dan pujian kepada Tuhan, beliau mengkhususkan objek pembicaraannya pada sebuah masalah yang dia anggap prinsip, yaitu rasa simpati dan bela sungkawanya terhadap rakyat tertindas Palestina dan jalur Gaza.

Beliau mengatakan : bahwa saat ini tidak ada alasan lagi bagi masyarakat dan negara-negara Arab untuk berdiam diri, beliau menunjukkan bahwa dengan melihat hasil-hasil dari perang Libanon kali ini, Israel pun ternyata tidak kebal dari kekalahan, dan menyeru masyarakat Arab untuk segera menentukan tugasnya secara menyeluruh dalam menghadapi Israel.

Sayyid Hasan Nasrullah juga menyinggung tentang masalah-masalah pokok seperti perlucutan senjata Hisbullah, menurut beliau jika Libanon sudah mencapai kondisi yang betul-betul aman, pasti dan tanpa kesulitan yang berarti perlucutan itu akan segera terlaksana. Beliau juga mengingatkan tentang masalah pembebasan dua tentara Israel yang di sandera Hisbullah, beliau mengatakan bahwa sama halnya seperti yang telah beliau tunjukkan dalam perang, bahwa kalaupun seluruh dunia memobilisasi kekuatannya untuk menyerang Hisbullah, mereka tidak akan bisa membebaskan kedua tawanan tersebut kecuali dengan jalan negosiasi dan pembebasan serta pengembalian tawanan-tawanan Libanon ke rumah-rumah mereka terlebih dahulu.

Nasrullah dalam pidatonya juga menyoroti kondisi dalam negeri Libanon dan memperingatkan mereka yang memecah belah bangsa serta orang-orang yang mengeluarkan isu tentang perlucutan senjata Hisbullah. Beliau berkata: kalian rakyat dan pejuang-pejuang Libanon, dengan kehadiran kalian di acara perayaan kemenangan ini, sekali lagi telah kalian buktikan keberanian dan kesiapan kalian.

Beliau menambahkan: bahwa kemenangan perlawanan Islam Libanon dapat tercapai adalah berkat bantuan dan pertolongan Tuhan dan juga berkat kebersamaan kalian rakyat Libanon yang berani dan perkasa.

Beliau mengatakan : bahwa sebelum acara perayaan kemenangan besar ini terlaksana, sejumlah banyak musuh-musuh dalam dan luar negeri melancarkan perang urat syaraf demi menggagalkan pelaksanaan acara perayaan kemenangan rakyat ini, beliau berkata: mereka sangat bekerja keras supaya pada hari ini tidak juga kalian hadir di sini, tidak juga saya.

Tetapi hari ini rakyat Libanon baik yang berjalan kaki maupun yang mengendarai kendaraan dari tempat-tempat yang jauh maupun dekat, utara maupun selatan dan juga dari kamp-kamp penampungan Palestina, semuanya dapat hadir di tempat ini, sehingga jawaban yang kokoh mampu kalian berikan kepada mereka, dan kalian katakan bahwa kemenangan adalah milik kita dan tidak ada yang lebih layak untuk merayakan kemenangan ini selain daripada rakyat Libanon.

Beliau menambahkan: saya sangat berterimakasih kepada semua yang telah datang baik itu dari utara maupun selatan Libanon, kamp-kamp penampungan Palestina, dari Bahrain, Qatar, Kuwait, Palestina, Suriah, Iran dan juga yang datang dari negara-negara lain, dan salam saya bagi seluruh keluarga-keluarga Syuhada Libanon dan keluarga-keluarga lain dari bangsa yang besar ini, yang selalu bersabar dalam menghadapi kesulitan-kesulitan, dan yang hari ini telah menyampaikan kita sampai pada kemenangan ini.

Beliau berkata: hari ini kita merayakan satu kemenangan, kemenangan yang harus dicatat sebagai kemenangan strategis dan penting. Tapi mengenai bagaimana perlawanan Islam Libanon yang hanya dengan memiliki beberapa ribu jumlah pasukan saja, dapat bertahan dan melakukan perlawanan dalam menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di wilayah Timur Tengah serta yang merupakan pasukan terlengkap di dunia, dan itu pun selama 33 hari bertahan dan melawan, perlu kepada satu pembahasan khusus yang lain lagi.

Saya katakan kepada anda rahasia perlawanan ini, perlawanan yang mampu menggetarkan tubuh-tubuh pasukan terbaik Israel yang kemudian seperti tikus lari dari medan perang, perlawanan yang mampu merubah tank-tank Israel menjadi kuburan-kuburan, perlawanan yang mampu mengusir kapal-kapal perang Israel dari perairan Libanon, rahasiannya tidak lain hanyalah pertolongan Tuhan dan peralwanan rakyat Libanon.

Beliau menambahkan: perlawanan Islam Libanon berkat pertolongan Tuhan, pengalaman para pasukan, manajemen yang terorganisir dengan baik, keyakinan tentang jihad, pelajaran-pelajaran khusus dan persenjataan yang ada, dalam perang ini mampu merebut kemenangannya. Menurut keyakinan saya pengalaman perlawanan Islam Libanon ini harus dapat tersebar ke seantero dunia.

Beliau juga mengatakan bahwa perlawanan Islam Libanon ini bukanlah suatu perlawanan yang tidak teroganisir, justru ia adalah perlawanan yang sangat terorganisir dan dipersenjatai, yang dengan berlandaskan keyakinan, kehendak dan pertolongan rakyat, perlawanan ini mampu mewujudkan semua mukjizat yang telah dicapainya sekarang ini.

Dengan alasan inilah perlawanan Islam Libanon mampu memenangkan peperangan ini, dimana ada rakyat seperti kalian yang selalu berdiri di belakangnya. Rakyat yang hari ini dengan segala ancaman dan perang-perang urat syaraf yang dilancarkan hadir di tempat ini, dan sekali lagi menunjukkan kemenangannya kepada dunia. Keberanian rakyat seperti kalianlah yang di masa-masa perang, mengantarkan perlawanan Islam Libanon sampai kepada kemenangan.

Beliau menegaskan bahwa pada masa perang banyak dari musuh-musuh dalam dan luar negeri yang mempunyai keyakinan bahwa jika mereka dapat menghancurkan dan memporakporandakan rakyat Libanon maka keyakinan mereka terhadap perlawanan Islam akan hilang dan bantuan yang telah diberikan kepadanya akan mereka tarik kembali, untuk kemudian musuh-musuh ini beranggapan bahwa setelah itu rakyat dapat dijadikan alat untuk menekan perlawanan Islam Libanon, tetapi musuh-musuh ini buta dan salah dalam memprediksikan situasi, karena rakyat Libanon dalam kondisi yang sesulit apapun tetap melanjutkan dukungannya terhadap perlawanan Islam dan tetap menjaga kemuliaan dan harga diri mereka serta mempertahankan dan menuntut atas setiap jengkal tanah negaranya.

Beliau melanjutkan: beberapa waktu yang lalu sebagian dari petinggi-petinggi Amerika di atas podium-podium mereka mengumumkan bahwa telah sampai berita yang menggembirakan kepada mereka dari Libanon yang isinya menyatakan bahwa kekuatan perlawanan Islam Libanon telah melemah dan sedang di ambang perpecahan, tetapi kalian rakyat yang mulia yang terdiri dari bangsa-bangsa, suku-suku dan partai-partai yang berbeda dan yang sedang merayakan kemenangan ini, dapat memberikan jawaban yang jitu kepada musuh besar ini dan kalian katakan bahwa semua berita-berita yang mereka terima tersebut tidak lebih dari kebohongan belaka, dan pertimbangan-pertimbangan Gedung Putih tidak boleh disandarkan pada berita-berita bohong tersebut.

Sayyid Hasan Nasrullah menambahkan bahwa perang ini adalah perangnya Amerika dan yang mengkoordinasikannya pun adalah mereka, dilakukan dengan senjata-senjata mereka. Namun yang menghentikan peperangan ini adalah kekuatan dan kemenangan perlawanan Islam Libanon bukan Amerika atau Israel atau negara-negara mediator lainnya.

Beliau menegaskan: Amerikalah yang semenjak awal mengatur terjadinya perang ini dan sampai minggu ke empat terjadinya peperangan ini tetap menuntut supaya perang terus berlangsung, tetapi setelah melihat kemampuan dan kekuatan perang serta mental pasukan Israel betul-betul sudah berada di titik kehancuran, Amerika dengan maksud untuk menyelamatkan Israel mulai memasuki medan perang dan berusaha keras untuk menghentikan peperangan ini, tapi jika seandainya pernyataan saya ini salah, dan jika Amerika memiliki sedikit saja belas kasihan terhadap rakyat Libanon dan anak-anak kecil serta wanita-wanita negara ini, meraka sebenarnya sangat mampu untuk sejak awal menghentikan peperangan ini, tapi tidak mereka lakukan.

Beliau menambahkan: sangat disesalkan sekarang ini sebagian dari partai-partai yang ada di Libanon dengan kurang ajar mengumumkan bahwa Amerikalah yang telah menghentikan perang ini, tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Kekuatan perlawanan Islam sajalah dan anak-anak kalian yang dengan sabar dan dengan kekokohan serta kemampuannya dalam mewujudkan “mukjizat” lah yang mampu menghentikan peperangan ini. Rakyat Libanonlah yang sebenarnya memiliki paling banyak sumbangsih dalam kemenangan ini, adalah rakyat yang merangkul dan melindungi kekuatan-kekuatan perlawanan Islam, baik itu di dalam mesjid-mesjid, sekolah-sekolah maupun di gereja-gereja, dan hari ini yang paling berhak untuk berbicara tentang kemenangan hanyalah rakyat yang murah hati ini.

Beliau menambahkan: selamat bagi orang-orang yang hari ini merasa bahwa rencana- rencana dan tujuan-tujuannya telah terlaksana, dan juga bagi mereka yang merasakan kemenangan dalam perang ini, tapi bagi mereka yang merasa bahwa rencana-rencana dan tujuan-tujuannya tidak tercapai dan telah melakukan pekerjaan yang sia-sia, di perang ini akan merasakan kekalahan. Saya katakan kepada anda, hari ini rakyat Libanon, Palestina dan umat Islam serta seluruh kaum tertindas di muka bumi ini telah meraih kemenangannya, dan sekali lagi akan saya ulangi kata-kata saya yang telah saya sampaikan pada hari kemenangan rakyat Libanon di Bint al Jubail tahun 2000 yang lalu, saya katakan bahwa kemenangan kami dalam perang ini adalah kemenangan yang hakiki dari seluruh rakyat Libanon, masa-masa kekalahan telah berakhir, sekarang telah dimulai langkah baru, langkah-langkah untuk pencapaian kemenangan-kemenangan.

Beliau juga menyindir partai-partai yang ada di Libanon dengan berkata : kemenangan ini adalah satu kemenangan yang nyata, bersejarah dan besar, janganlah kita tempatkan kemenangan dan seluruh hasil-hasil besarnya ini -dengan segala kemelut politik dan perang kata-kata yang ada- pada tempat yang tertutup.

Beliau juga menambahkan: hari ini perlawanan Islam telah melumpuhkan seluruh dalih dan alasan yang muncul dari negara-negara di kawasan Timur Tengah dan dunia, sehingga tidak ada seorang pun yang mempunyai alasan untuk mengatakan “kami tidak mampu menghadapi tentara-tentara “mitos” Israel” atau “persenjataan kami tidak cukup lengkap untuk menghadapi Israel”.

Beliau menambahkan: Condoleeza Rice di awal perang Libanon berbicara tentang terciptanya Timur Tengah baru, tapi hari ini “anak haram” itu telah gagal, karena dia adalah anak haram, yang untuk mempertahankan eksistensinya saja ia tidak mampu.

Sayyid Hasan Nasrullah berkata: pertahanan dan perlawanan kami dalam perang dengan Israel ini telah mempermalukan Amerika, dan telah meningkatkan intensitas permusuhan dunia atas negara ini, juga mampu meningkatkan kewaspadaan dan kebangkitan dunia atas hegemoni negera ini terhadap dunia.

Hasil dari kemenangan perlawanan Islam Libanon hari ini adalah terciptanya sebuah kondisi dimana setiap orang Arab dan orang Islam secara bebas dan leluasa dapat berbicara apa saja tentang Israel dan Amerika dan seorang terhormat seperti Chavez pun dengan leluasa di forum PBB berbicara dan mengutuk kekuatan dan politik Amerika.

Beliau menambahkan: di akhir-akhir pada tahun 2000 telah kami tunjukkan kepada dunia sebuah contoh dan teladan tentang kemenangan, dan kali pun di tahun 2006 di akhir-akhir perang ini kami tunjukkan kepada dunia contoh dan keteladanan tentang perlawanan dan tekad yang keras, sehingga kemudian tidak ada lagi satupun dari pemimpin-pemimpin negara di kawasan ini serta masyarakat-masayarakatnya yang memiliki alasan untuk tidak dapat berhadapan dengan musuh yang tiran ini.

Sayyid Hasan Nasrullah dengan menyindir delegasi Persatuan Negara-negara Arab yang diberangkatkan ke DK PBB dengan tujuan untuk membahas tentang perdamaian dan usaha untuk menemukan jalan keluar bagi krisis yang terjadi di kawasan Timur Tengah selama ini, berkata: bagaimana mungkin mereka dapat menghadapi Israel dan mampu menciptakan perdamaian serta menemukan jalan keluar atas krisis ini, sementara mereka sendiri tidak mau untuk mengeluarkan sepeser pun kekayaannya untuk kemerdekaan Libanon, Palestina, Masjid al Aqsha, Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Bagaimana mungkin mereka dapat mencapai perdamaian dan menemukan jalan keluar yang adil atas krisis ini, sementara mereka sendiri tidak mau menggunakan “senjata minyaknya” untuk menghadapi musuh. Gerombolan ini (Persatuan Negara-negara Arab) tidak bersedia untuk melakukan perlawanan, juga tidak bersedia untuk mempergunakan minyaknya sebagai senjata, mereka juga bahkan tidak bersedia untuk menolong masyarakat Palestina. Lantas bagaimana mungkin mereka ingin menuntut penyelesaian damai yang berkelanjutan atas kasus dan krisis ini kepada DK PBB?

Beliau menuding Persatuan Negara-negara Arab serta para pemimpinnya dengan berkata: hari ini musuh, yaitu Israel memandang rakyat Libanon dan Perlawanan Islam dengan pandangan yang penuh hormat, tapi apakah mereka mengakui keabsahan kelompok ini?

Beliau menambahkan: negara-negara ini berdalih dan berkata “kami adalah negara-negara yang lemah, dan tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi Israel”, tapi hari ini negara Libanon tidak menyisakan sedikitpun alasan bagi mereka untuk tidak melawan. Kenyataannya adalah hari ini pasukan-pasukan Arab dan pasukan-pasukan Islam bukan hanya mampu untuk menghadapi Israel, tetapi lebih dari itu mereka mampu untuk membebaskan Palestina mulai dari Masjid al Aqsha sampai Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Beliau menegaskan: suatu masa ketika seseorang diantara masyarakat dan diantara hak-haknya membandingkan kekuatannya dengan yang lainnya, adalah wajar ketika menganggap bahwa singgasana kekuatannya lebih hebat dari yg dipunyai masyarakat. Hal ini tepat seperti apa yang telah dilakukan oleh pemimpin-pemimpin negara Arab, tetapi Perlawanan Islam Libanon lebih mengutamakan kemuliaan dan kehormatan rakyatnya daripada keinginan-keinginan dan tujuan-tujuan lainnya, sehingga pada akhirnya pada hari ini dengan keyakinan yang kokoh ini rakyat Libanon mampu memporak-porandakan mitos “Israel yang tidak terkalahkan” itu.

Kekalahan Israel ini semakin jelas ketika hari ini dan beberapa waktu yang lalu, koran Yudiut Aharunut mengumumkan hasil-hasil dari sebuah polling pengumpulan pendapat yang menyatakan hanya sekitar 70% masyarakat Israel yang percaya bahwa Ehud Elmert layak di posisi perdana menteri di negara ini. Hal ini tidak lain adalah sebuah sindiran kepada kemenangan Perlawanan Islam Libanon dalam perang menghadapi Israel.

Beliau berkata: suatu masa dengan terhormat pernyataan ini terlontar “jika setiap orang Libanon menuangkan satu ember air saja ke Israel, niscaya ia akan tenggelam”. Tapi yang sangat disesalkan adalah negara-negara Arab untuk menghadapi musuh despotik semacam ini apa yang telah dilakukannya?

Sayyid Hasan Nasrullah menambahkan: hari ini kesakitan, kesedihan dan seluruh kesusahan kita ada di Palestina, ada di Jenin, di Masjid al Aqsha dan kamp-kamp orang Palestina yang setiap hari selalu menjadi sasaran penyerangan rejim ini, anak-anak kecil dan remaja-remaja Palestina setiap hari menjemput ajalnya. Sampai kapan kita harus bersabar atas skandal pembunuhan ini, dimana pada saat yang sama anak-anak kecil, remaja-remaja, wanita-wanita, orang-orang tua dan orang-orang terpelajar Palestina mampu dengan tangan kosong menciptakan keajaiban dalam menghadapi Israel. Kenapa pasukan-pasukan Arab tidak diperbolehkan membantu rakyat Palestina baik itu bantuan dana, semangat ataupun persenjataan?

Tetapi berbicara tentang Irak, harus saya katakan bahwa kita harus melihat negara ini sebagai sebuah teladan. Orang-orang Amerika sejak dulu mempunyai rencana bahwa setelah selesai memenangkan perang Irak, hal yang sama akan diterapkan juga di Libanon, tetapi dengan bantuan Tuhan ternyata kami yang memenangkan perang ini.

Beliau menegaskan: Libanon untuk memenangkan perang ini menyumbangkan ratusan pejuang yang gugur syahid, dan Palang Merah, tentara, pertahanan kota dan partai-partai politik kerakyatandalam perang ini masing-masing telah menyumbangkan bantuannya, menyumbangkan pejuang yang gugur syahid, tetapi untuk apa? Untuk supaya rakyat Libanon memenangkan perang ini. Sekarang jika kita ingin menengok Irak, kita dapat melihat ratusan orang Irak setiap bulannya mati dalam sebuah peperangan yang sia-sia dan tanpa hasil. Perang yang berjalan tanpa tujuan ini nyata-nyata dipelopori dan dikomandoi Amerika dan Mossad Israel.

Beliau menambahkan: Perlawanan Islam Libanon, bertolak berlakang dengan pendapat para petinggi dalam dan luar negeri negara ini, yang mengatakan bahwa gerakan ini telah menciptakan perang saudara di dalam negeri Libanon sendiri, justeru telah menyelamatkan Libanon dari perang-perang saudara ini.

Pemimpin Hisbullah Libanon ini pun menyampaikan pesan-pesannya kepada rakyat Irak dan berkata: pesan saya kepada rakyat Irak supaya dapat keluar dari krisis yang ada sekarang ini adalah kalian harus selalu waspada dan peka terhadap masalah-masalah politik, jangan sampai masuk jebakan musuh dan jadikanlah perlawanan sebagai pegangan untuk menghadapi konspirasi-konspirasi musuh.

Beliau menambahkan: hari ini saya sampaikan kepada orang-orang yang telah mengumandangkan pembagian wilayah Libanon dan perang saudara, bahwa siapa saja yang berbicara tentang pembagian wilayah Libanon atau berbicara tentang perubahan negara Libanon menjadi negara federal, ia sebenarnya bukan Libanon, tetapi orang Israel, dan hanya mengulang-ulang perkataan musuh saja, dan sebenarnya sedang merencanakan pencapaian tujuan-tujuan yang diinginkan musuh.

Sejak awal, takdir kami orang-orang Libanon telah ditentukan, bahwa kami harus hidup bersama, berdampingan dan sejajar dengan yang lainnya dan kami sebagai sebuah negara yang bersatu menentang segala pernyataan tentang pembagian wilayah Libanon.

Beliau menambahkan: satu-satunya cara dan solusi yang ada untuk menyelesaikan pelbagai krisis dalam negeri, termasuk krisis politik Libanon adalah dengan terbentuknya sebuah pemerintahan yang kuat. Sebuah kekuatan yang mampu membela hak-hak rakyatnya dan dengan kekuatan penuh mampu menghadapi serangan-serangan beruntun tentara-tentara Israel, sebuah pemerintahan yang jauh dari konspirasi-konspirasi politik dan kerusakan-kerusakan moral dan struktural.

Sayyid Hasan Nasrullah dengan menunjuk kepada protes-protes yang dilakukan oleh sebagian partai-partai dalam negeri juga oleh pihak-pihak luar seperti Amerika dan Israel tentang perlucutan senjata Hisbullah berkata: bukankah lebih baik apabila dalam menyelesaikan setiap masalah, kita kembali pada akar masalahnya, dan masalah tersebut kita selesaikan dari akarnya. Jika kita ingin bersikap logis dalam menyelesaikan masalah ini, kita lihat bahwa Hisbullah terbentuk karena penyerangan-penyerangan yang terus-menerus dilakukan Israel atas Libanon dan karena disanderanya banyak warga Libanon oleh Israel.

Beliau menegaskan: kami tidak pernah mengatakan bahwa senjata-senjata Hisbullah itu abadi, dan memang sama sekali tidak logis jika senjata-senjata itu selamanya berada di tangan Hisbullah, suatu ketika masalah ini harus berakhir. Oleh karena itu jika kita ingin menyelesaikan masalah ini, sebab-sebab yang menimbulkan masalah tersebutlah yang harus kita sembuhkan, dan cara penyembuhannya tidak lain adalah dengan cara mewujudkan sebuah pemerintahan yang kuat dan kompeten di Libanon, cara lain selain cara ini tidak akan menghasilkan apa-apa. Sebuah pemerintahan yang mampu membela tanah airnya sendiri dalam menghadapi penyerangan-penyerangan yang dilakukan Israel, sebuah pemerintahan yang mampu memberikan kepercayaan kepada masyarakatnya bahwa ia mampu melindungi keamanan rakyat Libanon dari musuh-musuh tiran semacam Israel. Pada kondisi seperti inilah tidak diperlukan lagi senjata-senjata Hisbullah dan tidak diperlukan lagi negosiasi, bahkan menurut saya pada waktu itu bukan perlucutan senjata Hisbullah tapi penyerahan senjata Hisbullah.

Beliau melanjutkan: jika kita dengan kondisi dan situasi hari ini ingin berbicara tentang perlucutan senjata Hisbullah dengan mengumpulkan senjata-senjatanya, pada kenyataannya ini sama saja dengan menyerahkan negara Libanon yang dengan kondisi tangan terikat kepada Israel, untuk kemudian rejim ini dengan leluasa seperti apa yang mereka inginkan dan kapan saja mereka mau, melakukan penyerangan-penyerangan ke tanah Libanon dan mereka akan membunuhi tokoh-tokoh politik dan agamawan negara ini atau menjadikannya sasaran tembak. Demi Tuhan saya bersumpah saya tidak akan pernah menjerumuskan diri kami sendiri pada sesuatu yang hina dina semacam itu.

Beliau menambahkan: kepada semua orang yang telah bertaruh untuk melemahkan Perlawanan Islam Libanon dan untuk menghancurkan perlawanan ini, harus saya katakan kepada mereka pertaruhan yang mereka lakukan sejak saat ini dan detik ini adalah pertaruhan yang kalah. Orang-orang yang ingin mengacaukan kekuatan Hisbullah dengan cara membuat berbagai konspirasi politik dan perang urat syaraf, dan orang-orang yang ingin secara paksa berhubungan dengan Hisbullah dan kemudian melucuti persenjataannya, semestinya mereka mendengarkan apa yang dikatakan oleh Menteri Luar Negeri dan Menteri Perang Israel yang mengumumkan bahwa tidak ada satu pasukan pun di dunia ini yang mampu memecah belah dan melucuti persenjataan Hisbullah. Saya katakan kepada mereka, partai-partai politik dalam negeri Libanon, bahwasanya tidak ada satu pasukan pun yang mampu merebut senjata-senjata kami dari tangan kami. Selama rakyat Libanon masih memberikan kepercayaannya kepada Perlawanan Islam, tidak ada seorang pun yang mampu memaksa kami untuk menyerahkan diri.

Ketua Hisbullah Libanon ini melanjutkan pidatonya: setiap orang yang berbicara tentang perlucutan senjata Hisbullah berarti ia telah berkhianat, dan saya yang sedang dalam kondisi menunggu mati syahid di akhir jalan nanti ini, sampai kapanpun tidak bersedia untuk melakukan pengkhianatan semacam ini terhadap rakyat dan Perlawanan Islam Libanon.

Beliau menambahkan: hari ini Libanon bukan lagi sebagai sebuah negara kecil di kawasan Timur Tengah, tetapi ia adalah sebuah kekuatan besar dan begitu banyak kaum tertindas di muka bumi ini yang membanggakan kekuatan besar ini, seperti masyarakat Islam dan Arab, dan mereka begitu terkesima memandangnya. Sekali lagi kami katakan, kami tidak berencana untuk terus menyimpan persenjataan kami, tetapi senjata-senjata itulah yang kami gunakan untuk melindungi setiap jengkal tanah negara ini dari musuh. Senjata-senjata Hisbullah bukan hanya milik orang-orang Syi’ah, ia juga milik orang-orang Suni, Kristen dan Druzi yang ada di Libanon. Senjata-senjata ini adalah milik seluruh rakyat Libanon, dan senjata-senjata ini menginginkan kemuliaan dan kehormatan bagi rakyat Libanon.

Beliau menegaskan: solusi kami untuk menyelesaikan krisis dan pertikaian ini adalah dengan terbentuknya sebuah pemerintahan yang besar dan kuat di Libanon. Hari ini kita sedang berhadapan dengan sebuah krisis politik dalam negeri kita sendiri, ini jelas-jelas adalah krisis politik dan bukan krisis agama, bertentangan dengan yang telah digembar gemborkan. Hari ini kita mau tidak mau harus berhadapan dengan pertentangan-pertentangan politik semacam ini, dan kita harus segera menyudahinya secara realistis.

Beliau menegaskan: di hari yang besar ini dimana rakyat Libanon sedang merayakannya, kepada kalian saya katakan jangan izinkan seorang pun untuk sampai memanfaatkan pertentangan-pertentangan dan gap-gap politk ini untuk kemudian merubahnya menjadi pertentangan-pertentangan agama dan suku.

Beliau berkata: solusi mendasar seperti yang telah saya katakan dan seringkali saya ulang-ulang dan sekali lagi saya pun akan mengulangnya, yaitu terbentuknya sebuah pemerintahan rakyat bersatu. Mari kita berdiri untuk bersama-sama membantu Libanon.

Beliau menambahkan: dengan segala hormat saya terhadap pemerintahan yang ada sekarang, saya umumkan bahwasanya pemerintahan ini selain tidak mampu melindungi rakyatnya sendiri juga tidak mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam negerinya sendiri, dan pada akhirnya dia tidak memiliki sedikitpun kompetensi untuk mengurus negara.

Beliau berkata: hari ini saya datang ke tempat ini tidak untuk membaca syair-syair, saya datang untuk mengumumkan program-program kami pasca perang yang sebenarnya, yang pada kenyataannya adalah rencana kedua kami pasca perang, yaitu pertama, memasuki proses pemilihan yang adil, dan kedua, proses terbentuknya sebuah pemerintahan rakyat yang kuat sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku di Libanon.

Sayyid Hasan Nasrullah dengan menyinggung masalah perlawanan Islam Libanon dan pernyataan sebagian petinggi-petinggi Amerika, Israel dan sebagian dari partai-partai politik Libanon berkenaan dengan dengan melemahnya perlawanan Islam Libanon berkata: kami baru saja keluar dari perang 34 hari dengan Israel, tapi tidak seorangpun boleh melupakan bahwa Hisbullah Libanon telah mempersiapkan dirinya untuk sebuah perang yang lebih lama dari itu.

Beliau menambahkan: pernyataan saya kepada negara-negara musuh dan kepada sebagian partai-partai politik dalam negeri Libanon adalah perlawanan Islam Libanon hari ini dan saat ini mengumumkan bahwa dirinya lebih kuat, lebih lengkap dan lebih terorganisir dari yang lalu, dan selalu siap siaga untuk membalas setiap serangan yang dilakukan.

Beliau melanjutkan: jika musuh berkhayal bahwa roket-roket Hisbullah telah menipis jumlahnya, ketahuilah sesungguhnya mereka itu tidak melakukan pengumpulan data yang tepat berkenaan dengan jumlah roket-roket Hisbullah. Roket-roket Hisbullahtidak berjumlah 13 atau 14 ribu roket, tetapi lebih dari 20 ribu roket, hal ini saya katakan untuk memberikan informasi kepada musuh mengenai roket-roket Hisbullah.

Beliau menambahkan: perlu kiranya saya singgung pula beberapa permasalahan pokok penting yang lain di sini, permasalahan pertama adalah tentang tawanan-tawanan perang Libanon. Dulu saya berjanji kepada kalian dengan bertawakal kepada Tuhan dan dengan bantuan Nya, dan dengan kemampuan-kemampuan yang dimiliki tentara-tentara perlawanan Islam, tawanan-tawanan Libanon tersebut akan saya bebaskan dari penjara-penjara Israel, dan hari ini pun saya tetap pada janji saya itu.

Beliau menegaskan: pada waktu kedua tentara Israel itu berhasil kita tawan, kami telah katakan bahwa kalaupun seandainya dunia jungkir balik, mereka tidak akan kami lepaskan, kecuali jika dilakukan pertukaran antara kedua tawanan Israel itu dengan tawanan-tawanan Libanon dan kemudian membebaskannya. Hari ini pun saya ulangi perkataan saya sekali lagi, kalaupun seluruh dunia datang dan melakukan konfrontasi dengan kami, sampai kapanpun tidak akan kami lepaskan kedua tawanan tersebut kecuali dengan pembebasan tawanan-tawanan kami. Permasalah pokok penting lainnya adalah tentang wilayah pertanian Sha’ba dan Kafrshuba, hari ini saya katakan kepada kalian juga dengan bantuan Tuhan, wilayah-wilayah ini sedang dalam proses pembebasan dan sedang dalam kondisi terlepas dari tangan musuh.

Beliau berkata: pada masa perang 34 hari yang lalu, Amerika untuk membantu mengeluarkan Israel dari medan perang siap untuk menganggarkan berapapun biaya yang dibutuhkan. Pada waktu itu untuk menghentikan perang Amerika berjanji akan mengembalikan wilayah pertanian Sha’ba kepada orang-orang Libanon, tetapi seperti biasanya janji-janji Amerika selalu tidak dapat dipercaya.

Beliau melanjutkan: belum lama setelah pernyataan ini terlontar, politikus-politikus dan pejabat-pejabat Gedung Putih Pemerintahan Amerika mengumumkan bahwa kami tidak bisa menyerahkan wilayah pertanian Sha’ba ini kepada pemerintah Libanon, karena jika hal itu kami lakukan, sama halnya kami memberikan kemenangan dan prestasi bagi Hisbullah Libanon. Kami katakan kepada Amerika, silahkan kalian serahkan wilayah pertanian Sha’ba itu kepada siapa saja orang Libanon yang kalian tunjuk dan inginkan, dan silahkan kalian catat kemenangan ini atas nama siapa saja yang kalian kehendaki, tapi kembalikan wilayah pertanian Sha’ba kepada kami.

Beliau dengan menyinggung penyerangan-penyerangan yang dilakukan Israel terhadap Libanon berkata: kami sampai hari ini tetap bersabar dan tidak membalas penyerangan-penyerangan Israel yang baru-baru ini dilakukan lagi, dan kami berusaha sekuat tenaga kami untuk tidak sampai melanggar resolusi yang tidak syah 1701 DK PBB itu, karena jika Hisbullah Libanon sampai melanggar isi resolusi itu sedikit saja niscaya dunia ini akan mengalami kerusakan. Tetapi sabar dan toleransi kami pun ada batasnya, dan jika sabar dan toleransi kami sudah mencapai batas akhirnya, pasti akan segera kami balas serangan-serangan itu.

Beliau menyindir pemerintahan Libanon dan berkata: jika tidak mampu melaksanakan tugas untuk melindungi rakyatnya sendiri, rakyat Libanon sendiri siap untuk mengambil alih pelaksanaan tugas ini.

Beliau menambahkan: pasukan Libanon dengan tujuan untuk melindungi rakyat Libanon dan untuk mencegah terjadinya serangan-serangan musuh, datang ke wilayah ini (Libanon Selatan) tapi kita lihat sendiri setiap hari sejumlah warga Libanon diculik atau ditawan. Pada akhirnya posisi negara dalam masalah ini dimana?

Pemerintahan Libanon jika ingin memanfaatkan pasukannya sekedar sebagai pengamat yang mencatat berapa jumlah penyerangan yang dilakuakan Israel, saja katakan kepada kami. Karena tugas sebenarnya pasuka Libanon adalah berhadapan dan menghentikan penyerangan-penyerangan Israel, bukan untuk tugas-tugas yang lain.

Beliau juga mengatakan: permasalah pokok penting lain yang juga harus diperhatikan adalah tentang kekuatan-kekuatan UNFL. Kami sejak lama telah menunggu kedatangan kekuatan-kekuatan semacam ini, tetapi seperti yang telah diketahui semua orang bahwa tugas mereka adalah untuk membantu pasukan Libanon, bukan untuk memata-matai Hisbullah Libanon.

Beliau dengan nada mengancam UNFL berkata: sebagian berita-berita yang muncul mengatakan bahwa sebagian kelompok dan partai politik sedang mempersiapkan diri untuk memanfaatkan kekuatan-kekuatan ini (UNFL), tapi kami katakan kepada mereka bahwa kekuatan-kekuatan ini masuk ke wilayah Libanon untuk membantu pasukan Libanon dan tidak memiliki izin untuk mencampuri urusan dalam negeri Libanon.

Sayyid Hasan Nasrullah dengan menyindir sebagian partai-partai politik dalam negeri Libanon berkata: sangat disesalkan bahwa penghinaan yang dilakukan partai-partai ini sudah sampai pada tingkat dimana kami tidak mungkin untuk tidak membalasnya. Petinggi-petinggi partai-partai ini mengatakan bahwa alasan Hisbullah memasuki medan perang adalah untuk menyingkirkan kasus nuklir Iran dan kasus Suriah dari meja DK PBB. Apakah ada penghinaan yang lebih besar daripada penghinaan ini, yang pada dasarnya ditujukan kepada anak-anak perlawanan Islam Libanon, yang telah memberikan darah dan gubuk-gubuknya untuk melindungi tanah air Libanon?

Sayyid Hasan Nasrullah berkata: sebagian partai-partai politik ini mengatakan bahwa para pendukung Hisbullah adalah pendukung yang tidak punya akal dan selalu membuat kerusuhan. Kita tidak bisa menutup mata lagi atas penghinaan semacam ini, saya pribadi siap untuk menerima penghinaan seperti apapun dari kalian tapi rakyat Libanon, tidak. Saya katakan kepada gerombolan ini menangis bukanlah pekerjaan rakyat ini.

Beliau menambahkan: mereka semua tahu tentang seluruh riwayat hidup saya dan Hisbullah, saya bukanlah seorang bangsawan, bapak dan kakek saya pun bukan. Kami sampai kapanpun tidak akan mengizinkan kehormatan dan kemuliaan kami diinjak-injak, karena kami telah memberikan darah, rumah dan gubuk-gubuk kami untuk membantu rakyat ini.

Beliau di akhir pidatonya menambahkan: saya berharap dengan datangnya bulan suci Ramadhan, akan tercipta kesempatan bagi orang-orang ini untuk melihat hak-hak rakyat tanpa sedikitpun tendensi politik dan mampu melihatnya sampai jauh ke dalam. Terakhir saya katakan bahwa masa-masa kekalahan telah berakhir dan hari ini adalah hari dimulainya kemenangan rakyat Libanon.[Herry S/islamaltenatif]

Sumber : www.baztab.com dari ISNA.

http://berita.swaramuslim.net/more.php?id=5352_0_12_0_M

Al Quds

October 1st, 2006 by feliaja

38321125_e68a0c0f1d_bSejarah Ringkas Palestina
Negeri Palestina sangat erat kaitannya dengan perjalanan sejarah Islam dan kaum Muslimin. Di dalamnya terdapat Masjid al-Aqsha yang merupakan KIBLAT PERTAMA umat Islam sebelum Allah Swt. memerintahkan hambaNya untuk menghadap kiblat ke dua ( Ka’bah al-Musyarrafah ), 16 bulan setelah peristiwa hijrah. Masjid al-Aqsha juga menjadi tempat ‘transit’ Nabi Muhammad saw. ketika melakukan perjalanan suci Mi’raj menuju Sidratul Muntaha setelah beliau melakukan perjalanan pada malam hari dari Masjidil Haram dalam peristiwa Isra Mi’raj.

Palestina berada di bawah kekuasaan Islam saat khalifah kedua, Umar bin Khathab ra berhasil menaklukkannya pada tahun 15 H dan menerima (kunci)-nya dari Uskup Agung Saphranius. Mereka menyepakati perjanjian masyhur, yaitu perjanjian Umariyah, yang di antara isinya (atas permintaan orang Nasrani yang tinggal di sana) adalah: “Tidak boleh satu orang Yahudi pun untuk tinggal di daerah Palestina” .

Pada masa pemerintahan khilafah Abdul Hamid, kaum Yahudi yang nggak punya tempat tinggal berusaha menjadikan Palestina sebagai tempat mukimnya.

Dengan bantuan Inggris, mereka berupaya memicu timbulnya krisis keuangan di Negara Khilafah Ustmaniyah.

Lalu Hertzl, pemimpin senior Yahudi saat itu (1901 M), menawarkan sejumlah uang kepada Khalifah untuk memulihkan ekonomi Daulah Khilafah. Tapi dengan catatan, kaum Yahudi dibolehkan tinggal di Palestina. Namun, Khalifah Abdul Hamid dengan tegas menolak tawaran Hertz.

Beliau menjawab:38327307_d03f3abca9_b
“Sungguh aku tidak bisa melepaskan bumi Palestina walau hanya sejengkal. Bumi itu bukan milikku, melainkan milik umat Islam. Bangsaku telah berjihad dalam mempertahankan bumi tersebut dan telah menyiraminya dengan darah-darah mereka. Lalu Yahudi itu meminta untuk orang-orang mereka, dan jika negara Khilafah suatu hari hancur, maka sungguh mereka pada saat itu akan dapat mengambil Palestina secara cuma-cuma. Namun, selama aku masih hidup, tertanamnya pisau bedah pada tubuhku lebih ringan bagiku daripada menyaksikan Palestina terlepas dari Negara Khilafah, dan hal itu tidak akan pernah terjadi. Sungguh aku tidak akan setuju untuk mencabik-cabik tubuh kita sendiri, padahal kita masih hidup.”

Ucapan Khalifah Abdul Hamid di atas, emang bikin Yahudi ciut. Keinginan mereka kudu tertunda. Tapi, harapan mereka kembali bersinar setelah pada tahun 1917 (menjelang runtuhnya Khilafah Utsmaniyah) dalam perang dunia I, Inggris berhasil menduduki Palestina. Saat itu, Inggris menetapkan sebuah perjanjian yang dikenal dengan nama Perjanjian Balfour.

Isinya, Inggris menjanjikan kepada Yahudi untuk dapat menduduki Palestina dan mendirikan negara bagi mereka di sana.

Usai perang dunia II, PBB seolah mengamini rencana Inggris dengan mengeluarkan resolusi No. 181 tanggal 29/10/1947. Isi resolusi itu, menetapkan pembagian daerah Palestina menjadi dua, antara penduduknya dan kaum pendatang yang merampasnya.

Lalu Inggris merekayasa perang antara para penguasa Arab yang menjadi bonekanya, dengan Yahudi sebagai bentuk penolakan pendirian negara Yahudi di Palestina.

Padahal hasil akhirnya sudah ditentukan oleh Inggris. Yahudi sebagai pemenang sehingga bisa mendeklarasikan negaranya pada tanggal 05 Mei 1948 dengan menguasai sebagian besar wilayah Palestina.

Sialnya, PBB yang katanya penjaga perdamaian dunia malah memasukkan negara penjajah Yahudi sebagai anggota PBB pada tanggal 18 Maret 1949. Nggak heran kalo Israel makin belagu karena AS, Inggris, dan PBB selalu menganakemaskannya. [hafidz341@telkom.net]

a shoulder to cry on

September 29th, 2006 by feliaja

A_shoulder_to_cry_on_from_soulderIbuku selalu bertanya padaku tentang "apa bagian tubuh yang paling penting". Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar.

Ketika aku masih bocah pertanyaan itu ku jawab menurut cara berpikirku, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita sebagai manusia, jadi aku jawab,
"Telinga, Bu."
"Bukan… Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya dan aku menanyakanmu lagi kelak." jawab ibuku bijak.

Sepertinya ibuku tidak ingin jawaban yang sekenanya dari ku tanpa di pikirkan dan dengan alasan yang jelas.

Pertayaan ibukuh selalu tergiang2 di telingaku, dari tahun ke tahun, sepertinya pertanyaan ini teramat sulit bagiku untuk di jawab.

Beberapa tahun kemudian akupun mempunyai keyakinan bahwa jawaban kali ini pasti benar. Jadi, kali ini aku memberitahukannya,
"Ibu, penglihatan sangat penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita jawabannya"
Dia memandangku dan berkata,
"Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta." jawab ibuku

Kembali jawabanku salah, sepertinya pertanyaan ini ringan, namun jawabannya terlalu berat untuk ukuran seusiaku.
akupun meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawabannya selalu,
"Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, anakku."

Hingga disaat kakekku meninggal setahun yang lalu,  semua keluargaku sedih, semua menangis bahkan ayahku menangis, aku sangat ingat karena itulah saat kedua kalinya aku melihatnya Ayahkku menangis.

Kembali Ibu bertanya padaku, pertanyaan yang tidak pernah dia lupakan untuk dipertanyakan kepadaku.

Ibuku memandangku ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek.
Dan disaat aku tengah sendiri, merenungi terlalu cepatnya kakek yang paling aku cintai dipanggil tuk menghadap
Ibu menghapiriku, memelukku sembari berkata :

"Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?"

Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku.
Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku,

"Pertanyaan ini penting. Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar-benar "hidup".
Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus belajar pelajaran yang sangat penting."

Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air mata.

Dia berkata, "Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu."
"bahu?" jawabku dengan kebingungan

Aku bertanya,
"Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?"

Ibu membalas,
"Bukan, tapi karena bahu itulah yang dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangi ketika mereka menangis. Kadang-kadang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis, untuk menumpahkan segala keluh kesahnya.

Aku cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya."

Akhirnya, aku tahu, bagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati terhadap penderitaan yang dialami oleh orang lain. Orang akan melupakan apa yang kamu katakan… Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan… Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti.